Thursday, October 26, 2017

11 Things, While You Were Traveling in Indonesia




Indonesia is consisting of more than 17 thousands islands and islets. Indonesia has hundreds of native languages and dialects, as well as cultures. We unite through our national language, Bahasa Indonesia. The descendant of immigrant, like Chinese, Arabian, Indian, etc, speaks, read and write fluently in Bahasa Indonesia. We sing our National Anthem, Indonesia Raya, together from west to east. We also have similar culture despite we have different details in each culture. We are the locals of Indonesia.

Me? I was born in Indonesia as Indonesia Citizen. I’m the youngest but the first born child as Indonesia Citizen. My parents were also born in Indonesia, as well as my big brother and sisters, yet they were holding some kind like China’s Passport until around late 70’ies. My grandparents were born in China and came to Indonesia when they were teens (in early 20th century). I don’t deny my Chinese thingy which run through my blood, yet I prefer people call me as Indonesian not Chinese, because by the law, by the birth and (first of all) by my heart, I am an Indonesian.

I’ve been traveling since I was a child. My parents did love traveling so much. I started to capture my travel moment in early 2000. I love traveling because by that time, I think I can completely being myself. Yet I can’t do traveling as many as I wish, because of the money and the time. Currently I work as financial planner in a listed company and I only get (max) 15 days for my annual leave.

Please check my exploring map and Instagram @harry_mdj

And here the 11 things that you have to know and aware, while you were traveling in Indonesia.

Sunday, August 27, 2017

Jelajah LAOS (Luang Prabang & Vientiane): CULINARY



for more pictures, please check my Instagram @harry_mdj

Sekitar tahun 2012 atau 2013, seorang teman baik bernama Dina Rosita (yupe, Dina @duaransel) mengirimkan sebuah post card dengan gambar sebuah dhammasala (aula berdoa bagi umat Buddha Theravada) yang dipenuhi oleh para Bhante (Bhikkhu/Biksu) yang terlihat sedang mengalunkan puja.

Gue ingat banget, waktu itu Dina sedang mengadakan kuis atau apa gitu, dengan hadiah kiriman post card langsung dari Luang Prabang, Laos. Gue kebetulan ga ikutan kuisnya dan ingat Dina berucap (kurang lebih), “Har kamu emang ga ikutan kuis, tapi aku kirimin post card nih. Pas lihat kartu pos itu, kok tetiba ingat kamu.” Gue menerima post card itu setelah beberapa lama, gembira dan sempat menempel post card tersebut untuk waktu yang lama di dinding kubikel gue di kantor.

Layaknya sebuah ramalan yang terkabul, scenery dalam kartu pos itu akhirnya gue saksikan dan rasakan dengan mata telanjang gue pada tanggal 13 Agustus 2017 ini. Dhammasala dari Wat Xieng Thong, yang meski tanpa para Bhikkhu, masih sama scenery-nya dengan kartu pos yang gue terima dari Dina beberapa tahun yang lalu. Dan inilah catatan gue selama Jelajah cepat Laos. Yupe, bukan cerita, tapi catatan kecil.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.
***
ALL ABOUT LAOS (CULINARY)
***

Saturday, August 26, 2017

Jelajah LAOS (Luang Prabang & Vientiane): DESTINATION



for more pictures, please check my Instagram @harry_mdj

Sekitar tahun 2012 atau 2013, seorang teman baik bernama Dina Rosita (yupe, Dina @duaransel) mengirimkan sebuah post card dengan gambar sebuah dhammasala (aula berdoa bagi umat Buddha Theravada) yang dipenuhi oleh para Bhante (Bhikkhu/Biksu) yang terlihat sedang mengalunkan puja.

Gue ingat banget, waktu itu Dina sedang mengadakan kuis atau apa gitu, dengan hadiah kiriman post card langsung dari Luang Prabang, Laos. Gue kebetulan ga ikutan kuisnya dan ingat Dina berucap (kurang lebih), “Har kamu emang ga ikutan kuis, tapi aku kirimin post card nih. Pas lihat kartu pos itu, kok tetiba ingat kamu.” Gue menerima post card itu setelah beberapa lama, gembira dan sempat menempel post card tersebut untuk waktu yang lama di dinding kubikel gue di kantor.

Layaknya sebuah ramalan yang terkabul, scenery dalam kartu pos itu akhirnya gue saksikan dan rasakan dengan mata telanjang gue pada tanggal 13 Agustus 2017 ini. Dhammasala dari Wat Xieng Thong, yang meski tanpa para Bhikkhu, masih sama scenery-nya dengan kartu pos yang gue terima dari Dina beberapa tahun yang lalu. Dan inilah catatan gue selama Jelajah cepat Laos. Yupe, bukan cerita, tapi catatan kecil.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.
***
ALL ABOUT LAOS (DESTINATION)
***

Thursday, August 24, 2017

Jelajah LAOS (Luang Prabang & Vientiane): GENERAL



for more pictures, please check my Instagram @harry_mdj

Sekitar tahun 2012 atau 2013, seorang teman baik bernama Dina Rosita (yupe, Dina @duaransel) mengirimkan sebuah post card dengan gambar sebuah dhammasala (aula berdoa bagi umat Buddha Theravada) yang dipenuhi oleh para Bhante (Bhikkhu/Biksu) yang terlihat sedang mengalunkan puja.

Gue ingat banget, waktu itu Dina sedang mengadakan kuis atau apa gitu, dengan hadiah kiriman post card langsung dari Luang Prabang, Laos. Gue kebetulan ga ikutan kuisnya dan ingat Dina berucap (kurang lebih), “Har kamu emang ga ikutan kuis, tapi aku kirimin post card nih. Pas lihat kartu pos itu, kok tetiba ingat kamu.” Gue menerima post card itu setelah beberapa lama, gembira dan sempat menempel post card tersebut untuk waktu yang lama di dinding kubikel gue di kantor.

Layaknya sebuah ramalan yang terkabul, scenery dalam kartu pos itu akhirnya gue saksikan dan rasakan dengan mata telanjang gue pada tanggal 13 Agustus 2017 ini. Dhammasala dari Wat Xieng Thong, yang meski tanpa para Bhikkhu, masih sama scenery-nya dengan kartu pos yang gue terima dari Dina beberapa tahun yang lalu. Dan inilah catatan gue selama Jelajah cepat Laos. Yupe, bukan cerita, tapi catatan kecil.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

***
ALL ABOUT LAOS (GENERAL)
***

Wednesday, August 23, 2017

Jelajah LAOS (Luang Prabang & Vientiane): ITINERARY dan REALISASI BIAYA



For more pictures, please check my Instagram @harry_mdj
Sekitar tahun 2012 atau 2013, seorang teman baik bernama Dina Rosita (yupe, Dina @duaransel) mengirimkan sebuah post card dengan gambar sebuah dhammasala (aula berdoa bagi umat Buddha Theravada) yang dipenuhi oleh para Bhante (Bhikkhu/Biksu) yang terlihat sedang mengalunkan puja.

Gue ingat banget, waktu itu Dina sedang mengadakan kuis atau apa gitu, dengan hadiah kiriman post card langsung dari Luang Prabang, Laos. Gue kebetulan ga ikutan kuisnya dan ingat Dina berucap (kurang lebih), “Har kamu emang ga ikutan kuis, tapi aku kirimin post card nih. Pas lihat kartu pos itu, kok tetiba ingat kamu.” Gue menerima post card itu setelah beberapa lama, gembira dan sempat menempel post card tersebut untuk waktu yang lama di dinding kubikel gue di kantor.

Layaknya sebuah ramalan yang terkabul, scenery dalam kartu pos itu akhirnya gue saksikan dan rasakan dengan mata telanjang gue pada tanggal 13 Agustus 2017 ini. Dhammasala dari Wat Xieng Thong, yang meski tanpa para Bhikkhu, masih sama scenery-nya dengan kartu pos yang gue terima dari Dina beberapa tahun yang lalu. Dan inilah catatan gue selama Jelajah cepat Laos. Yupe, bukan cerita, tapi catatan kecil.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.
***
ITINERARY dan REALISASI BIAYA
***

Thursday, July 27, 2017

4 Babak dalam 1 Coffee Shop



Sebuah coffee shop yang tidaklah terlu luas, tetapi tidak terlalu kecil juga. Terletak tak jauh dari area pemukiman, berhimpitan dengan toko-toko lain di commercial district ini. Ruko-ruko berjejer rapi membentuk sebuah barisan-barisan kecil dan membentuk pola kotak-kotak.

BABAK 1

Gue memarkir mobil, 1 slot ke kanan dari pintu masuk coffee shop.

“Selamat sore dan Selamat datang” sapa 2 barista yang tampaknya terpotong percakapannya oleh bayang pintu yang gue buka.
“Sore” jawab gue sambil menyunggingkan senyum.
“Bisa dibantu dengan pesanannya?” tanya barista cewek dengan rambut dikepang manis.
“Pesen ice Americano satu yah” jawab gue.
“Ok, ko. Ada yang lain? pastry atau small bites-nya mungkin?” tawar si kepang manis.
Sejenak ada keheningan selagi mata gue menjelajah deretan pastry yang ter-display dengan manis di etalase kaca.
“Em, ama yang ini deh satu” kata gue memotong keheningan singkat itu, sambil jari tangan gue menunjuk sebuah pastry dengan topping buah-buahan segar.
“Ok. Semuanya jadi 75 ribu rupiah” tagih si kepang manis yang dari name tag di apron-nya,.bernama Andra,
“Terima kasih. Uangnya pas yah. Nanti pesanannya kami antar yah, ko” kata Andra sesaat setelah menerima uang yang gue kasih.

Friday, July 21, 2017

It’s time for LOMBOK TENGAH to be Explored



for more pictures, please check out my Instagram @harry_mdj
5 Hari 4 Malam Menjelajah Pulau Lombok (No Gili): Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Barat, Kota Mataram, Lombok Tengah.

It’s time for LOMBOK TENGAH

YES! Bersama dengan 3 teman seperjalanan dari Travel Troopers, penjelajahan pun dimulai dari menit ke 8 sejak kami melangkah keluar dari Bandara Internasional Lombok. Inilah cerita saya di Tanah Sasak.

Thursday, July 20, 2017

It’s time for LOMBOK UTARA and LOMBOK BARAT to be Explored



for more pictures, please check out my Instagram @harry_mdj
5 Hari 4 Malam Menjelajah Pulau Lombok (No Gili): Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Barat, Kota Mataram, Lombok Tengah.

It’s time for LOMBOK UTARA dan LOMBOK BARAT

YES! Bersama dengan 3 teman seperjalanan dari Travel Troopers, penjelajahan pun dimulai dari menit ke 8 sejak kami melangkah keluar dari Bandara Internasional Lombok. Inilah cerita saya di Tanah Sasak.

Wednesday, July 19, 2017

It’s time for LOMBOK TIMUR to be Explored

for more pictures, please check out my Instagram @harry_mdj



5 Hari 4 Malam Menjelajah Pulau Lombok (No Gili): Lombok Timur, Lombok Utara, Lombok Barat, Kota Mataram, Lombok Tengah.

It’s time for LOMBOK TIMUR

YES! Bersama dengan 3 teman seperjalanan dari Travel Troopers, penjelajahan pun dimulai dari menit ke 8 sejak kami melangkah keluar dari Bandara Internasional Lombok. Inilah cerita saya di Tanah Sasak.

Friday, June 16, 2017

Nusa Penida - Another side of Bali



More pictures in my Instagram @harry_mdj


Desember 2016,
Pada sebuah hari sabtu yang cerah panas, bertemulah 3 orang dalam tautan hobby yang sama, traveling. Pertemuan yang terselenggara di sebuah café di Kota Tua tersebut sebenarnya hanyalah pertemuan 3 orang sahabat yang kebetulan juga tergabung dalam satu komunitas pejalan yang sama, Travel Troopers. Berawal dari obrolan biasa, berbagi moment-moment perjalanan sebelumnya yang kami lakukan baik bersama maupun sendiri-sendiri akhirnya tercuatlah salah satu destinasi yang sama-sama kami inginkan, bukan prioritas tetapi dekat, yaitu Nusa Penida. Dan tanpa panjang lebar, sehari setelahnya dapat dipastikan kami bertiga akan berangkat ke Nusa Penida pada bulan Mei 2017. Tiket pulang pergi telah terbeli dan kami memasuki masa penantian yang cukup lama.

Nusa Penida adalah sebuah pulau (nusa) kecil di sebelah tenggara Pulau Bali yang beberapa tahun ini mulai melambung namanya dan mulai menggeliatkan bisnis pariwisata alam. Terpisah oleh Selat Badung dari Pulau Bali, Nusa Penida adalah “big brother” dari Nusa Ceningan dan Nusa Lembongan. Pulau yang masih merupakan wilayah Kabupaten Klungkung (Bali) ini selain menuai decak kagum karena keindahan alam atasnya, juga mempunyai taman laut yang cantik, seperti di Crystal Bay dan Gamat Bay. Pada musim-musim tertentu, Nusa Penida juga merupakan point dari para pencinta Manta dan Mola-mola (Sunfish).

Perjalanan jelajah Nusa Penida kami kali ini mempunyai itinerary 1 hari overland dan setengah hari berikutnya menengok keindahan taman laut Nusa Penida.

***

Thursday, June 15, 2017

Weekend Getaway di Bali Timur - Karangasem



more pictures in my Instagram @harry_mdj


“Yes, tanggal kecepit kali ini gue bakalan ngabur haha.”
“Kemana?”
“Bali aja, yang deket-deket.”
“Nyambung ama dinas?”
“Bukan. Pure plesir.”
“Tumbenan lo, mau plesiran ke Bali.”
“Em… lebih ke Nusa Penida-nya sih. Ama belum pernah ke Karangasem di Bali-nya.”

Sekelumit percakapan saya dengan seorang teman yang heran dengan keputusan saya untuk berakhir pekan di Bali. Dia (teman saya ini) cukup mengenal saya dan tahu bahwa Bali selalu menjadi alternative terakhir saya sebagai destinasi liburan. Why?
1.     Terlalu ramai dengan turis baik domestik maupun internasional, sehingga di beberapa tempat menjadi sangat komersil.
2.     Pengalaman kurang enak akan diskriminasi turis domestik, yang sekali atau dua kali saya alami pada kunjungan saya ke Bali sebelum-sebelumnya.
3.     Relative cukup sering ke Bali, karena saya cukup lama berdomisili di Malang (24 tahun to be exact). Pertama kali jelajah Bali di awal tahun 1980-an dengan keluarga dan selanjutnya beberapa kali dengan teman-teman di tahun 1990-an dan awal tahun 2000-an. Ditambah lagi, selama kerja menjadi internal audit di sebuah perusahaan di Jogjakarta, minimal satu tahun sekali selalu ke Bali untuk audit cabang Denpasar.
4.     Kerjaan sekarang pun masih membuat saya at least sekali dalam setahun berkunjung ke Bali

Apakah saya expert dalam “jalan-jalan” di Bali? Tidak, for sure! Malahan tahunya yang standar-standar jadul. Oleh karena itu, saat 2 orang teman saya (dari komunitas Travel Troopers) mengajak saya berakhir pekan panjang di Bali, maka saya iyakan. Apalagi ditambah dengan embel destinasi-destinasi utama kami ada di Bali Timur (Karangasem) dan Pulau Nusa Penida, yang mana belum pernah saya jejak sekali pun.

Overall, pengalaman plesiran saya di Bali kali ini sangat memuaskan. I love it dan harus saya akui, jadi pingin balik lagi ke Bali untuk mencoba stay di Ubud atau Sanur. Tempting!

Friday, February 24, 2017

Jelajah Macau - Half Day (The Venetian, Senado Square, Ruins of St. Paul)

more pictures in my Instagram @harry_mdj


“Besok pagian yak bangunnya.”
“OK.”
“Jangan lupa bawa paspor.”
“OK.”
“Perkiraan sih nyampe sana waktu brunch. Kalau takut kelaperan bawa roti deh.”
“OK.”

Sepenggal percakapan saya dan teman seperjalanan yang terjadi malam hari di Café Malty, di daerah Tsim Sha Tsui. Percakapan berlanjut mencoba mengira-ngira bagaimana dan apa yang akan kami temukan di Macau keesok harinya. Segelas beer Asahi menemani kami untuk sedikit menjadikan malam di musim dingin itu sedikit hangat.

Macau. Hm … actually saya tak tahu apa yang bisa saya kunjungi di sana. Sedikit coretan saya ini hanya berkutat di The Venetian, Senado Square, Ruins of St. Paul dan Mount Fortress. Tak seperti kebiasaan turis Indonesia yang biasanya menghabiskan waktu semalam di Macau. Saya dan teman seperjalanan hanya menghabiskan waktu setengah hari saja di sini. Yes! Setengah hari saja. Lebih detail, sekitar 6 jam saja, haha.

Mungkin ada sedikit kesan yang ingin saya share dan tentunya sedikit general tips selama kunjungan di Macau.

Thursday, February 23, 2017

Hello Hong Kong, (Day 3) The Peak



More pictures in my Instagram @harry_mdj


Di hari ketiga, kami menyempatkan diri ke daerah Causeway Bay karena paket data hp teman saya bermasalah, sedangkan pulsa sudah terpotong.

Di Causeway Bay, Keswick Street, kami temui gedung Grapari Telkomsel, Kedutaan Indonesia, kantor cabang Bank Mandiri dan kantor cabang BNI. Di sebelah Grapari malahan ada toko khas Indonesia yang selain menjual produk Indonesia juga menjual kue-kue basah khas Indonesia.

Tips:
Info ini kami dapat dari mbak-mbak baik hati di Grapari, untuk paket roaming di Hong Kong better menggunakan nomor pra bayar dibandingkan dengan nomor Hallo atau pasca bayar.
Untuk ke Causeway Bay, gunakan MTR (Island Line), turun di MTR Causeway Bay dan lanjut berjalan kaki ke Keswick Street .

Dari Causeway Bay, kami kembali ke Kowloon, menuju ke salah satu temple utama di Hong Kong, yaitu Wong Tai Sin Temple atau biasa disebut juga Sik Sik Yuen Temple. Sebuah rumah ibadah untuk 3 aliran agama (Taoisme, Buddha dan Konghucu). Temple ini mulai dibuka untuk umum pada tahun 1956 dan sejak saat itu selalu ramai dikunjungi oleh pengunjung yang biasanya datang untuk berdoa menyampaikan permohonannya.
Bangunan tempat ibadah ini juga konon mewakili lima unsur geomantic, yaitu: logam (Paviliun Perunggu), kayu (Gudang Arsip), air (Air Mancur Yuk Yin), api (tempat suci Yue Heungi dan tempat pemujaan Buddha), dan tanah (dinding tanah).

Wednesday, February 22, 2017

Hello Hong Kong, (Day 2) Disneyland



More pictures in my Instagram @harry_mdj
Baca sebelumnya di: hello hong kong, day1- ngong ping

Hari berikut menjelang dan untungnya masih dengan cuaca yang cerah meski tetap dingin dengan suhu around 14°. Highlight dari hari ini adalah Hong Kong Disneyland. Dengan berbekal One Day Pass ticket yang sudah dibeli di hotel tempat kami menginap, saya dan 2 teman seperjalanan memasuki dunia Disney. Dunia yang sejak kecil hanya ada dalam angan-angan saya saja. Yeah, it’s like a dream come true bisa ke Disneyland.

Tips:
Jika mau ke Disneyland langsung dari HKIA (hemat waktu banget sih), di Disneyland ada Left Luggage Service aka. tempat penitipan koper/backpack. Di Disneyland (Fire Dept.) juga tersedia sewa stroller (HKD 100 per hari), rain cover (HKD 50 per hari), dan wheelchair (HKD 60 per hari dan HKD 30 per hari jika pemakai berusia minimal 65 tahun).
Belilah ticket Disneyland di hotel karena selain harga biasanya lebih murah (HKD 565), juga tidak perlu antri lagi di ticket counter di Disneyland yang bisa mengular panjang. Harga tiket Disneyland sudah termasuk semua wahana dan show/parade, kecuali makan, minum, snack dan retail/spesific shops.
Untuk ke Disneyland naiklah MTR (Tung Chung Line, destinasi Tung Chung) dan turun di MTR Sunny Bay. Dari sana, lanjutkan perjalanan dengan MTR (Disneyland Resort Line) dan berhenti di MTR Disneyland Resort. Setibanya naiklah satu lantai ke atas dan keluar dari MTR station dan berjalan sedikit sebelum menemui Main Entrance Gate Disneyland.

Tuesday, February 21, 2017

Hello Hong Kong - (Day 1) Ngong Ping



More pictures in my Instagram @harry_mdj
Di suatu hari Minggu siang yang cukup panas, hand phone saya berbunyi.

“Halo” jawab saya dengan masih digantungi kantuk.
“Har, gue dapat promo kartu kredit ticket ke Hong Kong nih. Tapi gue ga bisa pergi. Secara tuh tiket cuman buat satu orang. Nah gue kan pasti ama bini. Mana gue ada baby juga nih. trus kepikiran aja kalo satu tiket buat lo aja.”
Kampret, batin saya.
“Hong Kong yah, emang berapaan?” timpal saya dengan malas-malasan.
“Cuman 1,2 juta aja PP pakai Cathay Pacific.”
“What! Okay mau” sontak saya terima tawarannya.

Dan di sinilah saya berdiri pada pagi hari yang dingin, menunggu Airport Express yang akan membawa saya memasuki kota Hong Kong dari Hong Kong International Airport (HKIA). Inilah sedikit coret-coretan akan kesan dan sedikit tips selama di Hong Kong.

PS: ini pertama kalinya saya ke Hong Kong. Well, sebelumnya Hong Kong tidak masuk dalam 10 besar wish list saya akan tujuan traveling.
PS lagi: saya bukan penggila belanja, jadi catatan dan tips ini hanya untuk first time traveller di Hong Kong dan tidak termasuk tempat-tempat belanja branded.
PS lagi season 2: saya ke Hong Kong tanggal 2 sampai dengan 6 Februari 2017, dimana ada satu hari saya akan menjelajah Macau (tidak menginap).
PS terakhir (janji!): itinerary-nya super standard dan santai aka. bukan itinerary pergi pagi balik malam.

Friday, January 20, 2017

Menjelajah ke Pulau Ternate di Akhir Tahun




“Desember lho, masih musim ujan?”
“Udah nanya temen lo yang di Ternate?”
“Udah, katanya ga tentu. Kadang ujan kadang ga. Gimana dong?”
“Cus dah!”

2 atau 3 hari menjelang tanggal keberangkatan,

“Eh ini ticket gue bener kan?”
“Lho! Kok November!”
“What! Beneran salah dong gue beli tiket kemarin?”
“Tanggalnya bener tapi kok bulannya November? Desember!”
“Waduh gimana dong. Duh yah udah gue beli lagi!”

Dan dari kecemasan akan cuaca Desember yang cenderung bercurah hujan tinggi sampai drama salah beli tiket dan drama-drama lainnya, kami berenam jadi juga terbang ke Ternate. Lepas dari segala kendala, ternyata direstui dan diberkati benar perjalanan ke Ternate ini, kata teman-teman seperjalanan. Sepanjang perjalanan kami selama 5 hari 4 malam cuaca sangat cerah dengan panas yang terik, meski dibubuhi hujan ringan ketika subuh atau malam hari. Perfect! Dan inilah cerita saya bersama lima teman pejalan lainnya.

Thursday, January 19, 2017

Setengah Hari Jelajah Pulau Tidore




“Masih mau snorkelingan di Ternate ga?”
“Hm terserah sih. Pingin ke Tidore sekalian ga sih?”
“Kudu pilih salah satu, Tidore atau snorkelingan di Ternate?”
“Kata Ela bagus juga lho di Ternate. Banyak Lionfish-nya. Gue belom pernah ketemu lionfish.”
“Ya udah gimana nih?”
“Tidore deh. Biar sekalian Morotai, Ternate dan Tidore.”
“Ya udah. Ntar snorkeling di Ternate pas mampir lagi waktu ke Jailolo.”
“Kapan ke Jailolo?”
“Kapan-kapan! Wacana aja dulu.”

Dan akhirnya diputuskanlah bawa rombongan kami batal menjelajah bumi bawah airnya Ternate. Plan berubah dan waktu 1 hari yang tersisa kami putuskan untuk menjejak di Tidore. Kali ini kami memutuskan menggunakan jasa Tour Agent untuk half day tour ke Tidore. Biaya tentunya jauh lebih mahal dibandingkan jika kami mengurus sendiri. Salahkanlah kemalasan yang mendera.

Tak banyak memang obyek dan tujuan wisata di Tidore, yang meski secara geografis lebih luas daripada Ternate. Dengan ditemani seorang guide, kami pun memulai penjelajahan kami berawal dari Pelabuhan Speed Rum Tidore.

Wednesday, January 18, 2017

Morotai, Sisi Keindahan Lain dari Sepenggal Maluku




“Duh semoga terang terus yah?”
“Gimana kata Pak Her?”
“Katanya sih ujannya biasa sore atau malam gitu, pagi sampe sore biasa cerah”
“Amin dah!”
“Duh, kartu UNO-nya ga dibawa. Cuman bawa yang kartu remi! Gimana dong?”
“Yah udahlah seadanya. Semoga ga harus bengong di kamar karena hujan.”

Sebuah ganjalan paling besar saat saya bersama lima teman seperjalanan bertolak menuju Morotai dari Bandara Sultan Babullah di Ternate. Terbang dengan pesawat jenis ATR, saya mencoba mengintip pemandangan indah di sisi luar jendela sana. Tebaran indah landscape dari Pulau Halmahera dan perairan birunya mendominasi rekam memori saya selama perjalanan melintas langit menuju Morotai.

“Hm semoga 2 hari cukup buat explore Morotai” batin saya, yang masih agak cemas dengan kondisi cuaca. Kecemasan yang segera raib dan menguap saat saya menginjakkan kaki saya di bumi Morotai.
“What the hell! Mau ujan kek, mau badai kek! Yang penting sudah sampe sini” batin saya dengan kebahagiaan yang entah muncul dari mana, sembari melihat polah dari lima teman seperjalanan saya yang asik dengan selfie, IG story recording, foto landscape sampai boomerang recording.

“Ya, gue ada di Morotai and so far cuaca cerah. Let’s moving forward” hentak saya dalam hati.