Wednesday, January 18, 2017

Morotai, Sisi Keindahan Lain dari Sepenggal Maluku




“Duh semoga terang terus yah?”
“Gimana kata Pak Her?”
“Katanya sih ujannya biasa sore atau malam gitu, pagi sampe sore biasa cerah”
“Amin dah!”
“Duh, kartu UNO-nya ga dibawa. Cuman bawa yang kartu remi! Gimana dong?”
“Yah udahlah seadanya. Semoga ga harus bengong di kamar karena hujan.”

Sebuah ganjalan paling besar saat saya bersama lima teman seperjalanan bertolak menuju Morotai dari Bandara Sultan Babullah di Ternate. Terbang dengan pesawat jenis ATR, saya mencoba mengintip pemandangan indah di sisi luar jendela sana. Tebaran indah landscape dari Pulau Halmahera dan perairan birunya mendominasi rekam memori saya selama perjalanan melintas langit menuju Morotai.

“Hm semoga 2 hari cukup buat explore Morotai” batin saya, yang masih agak cemas dengan kondisi cuaca. Kecemasan yang segera raib dan menguap saat saya menginjakkan kaki saya di bumi Morotai.
“What the hell! Mau ujan kek, mau badai kek! Yang penting sudah sampe sini” batin saya dengan kebahagiaan yang entah muncul dari mana, sembari melihat polah dari lima teman seperjalanan saya yang asik dengan selfie, IG story recording, foto landscape sampai boomerang recording.

“Ya, gue ada di Morotai and so far cuaca cerah. Let’s moving forward” hentak saya dalam hati.

Sunday, October 02, 2016

24-hour Highlights & Recommendations in downtown Solo, Central Java, Indonesia (English)





Solo is one of the most popular cities in Indonesia, located in Java (Central) Island and has a good reputation as a vacation destination, especially for its local culinary delicacy. Solo is also very popular among Indonesians and foreigners for its Batik clothes. This is not my first visit to Solo, as I lived in Yogyakarta once which is about 1-hour drive to Solo, yet I never really explored Solo.
This time, I had approximately 24 hours to explore Solo (downtown). With 2 friends of mine, we tasted some culinary and looked around couples of interesting destinations around the downtown of this small historical city.

These were my 24-hour highlights and recommended destinations in downtown Solo:

Thursday, September 29, 2016

Kuliner di Turki




Taste dari kuliner di Turki mostly mempunyai cita rasa yang agak flat, terutama bagi kita orang Indonesia yang cenderung suka makanan yang mempunyai cita rasa yang kuat. Oleh karena itu terkadang kebosanan terhadap makanan lokal membuat kita ingin menyantap hidangan yang cenderung familier dengan taste kita, seperti Chinese Food yang biasanya mudah kita temui dimana-mana dibandingkan dengan masakan traditional Indonesia. Di Turki, Chinese food restaurant sangat sulit ditemui. Tentunya ini hanya sebatas di tempat-tempat wisata dan tinggal dalam itinerary saya. Hal ini juga berlaku bagi Asian food lainnya seperti Korea dan Jepang yang biasanya sangat mudah ditemui di Indonesia.

Saya menemukan hanya 1 tempat makan Chinese food di Goreme bernama Hao Mei Mei yang menyajikan menu Chinese food halal, dengan harga standard (nasi goreng mulai dari 12,5 TL) dan rasa yang lumayan enak. Sedangkan di Selcuk dan Pamukkale, kami tidak pernah menemui rumah makan Chinese food. Di Istanbul di daerah Sultanahmet saya juga menemui sebuah restaurant Korea yang menyajikan pula hidangan Chinese food dengan harga yang cukup mahal (ayam asam manis seharga 35 TL) dengan rasa yang lumayan enak, bernama Seoul Restaurant. So, jika ingin ke Turki, khususnya bagi yang makannya agak milih, mesti prepare saos sambal, kecap manis, bon cabe, abon dan lainnya, yang tentunya mudah dan simple bawanya.

Berikut beberapa sedikit gambaran kuliner di Turki. Harga yang diinformasikan murni dari gambaran pengeluaran pribadi pada saat kunjungan pada bulan Agustus 2016. Harga juga bukan merupakan harga umum, melainkan harga pada saat pembelanjaan dilakukan di restaurant dan tempat tertentu. Harga bisa berbeda tergantung dari kota, lokasi, porsi dan kelas dari restaurant yang dituju.

Sunday, September 25, 2016

Jelajah Turki - Istanbul bagian 2 (end)




Semilir angin berhembus mencoba membujuk kelopak mata agar menutup dan menghantar jiwanya berkelana dalam dunia lelap. Debur air terhempas ke lambung kapal bercampur dengan suara dari mesin kapal yang halus dan celoteh para penumpang-penumpang kapal ini, menciptakan melodi monoton yang membius. Saya berjuang untuk melawan lelap dalam diam dan mencoba menyerap semua kenikmatan sensasi ini. Saya bahkan enggan untuk bergerak dari bangku yang saya duduki. Meski sesekali saya bidikan camera dengan malas-malasan kepada beberapa obyek yang menarik, tanpa merubah posisi duduk.
 
“Cay? Cay?” seru pramusaji menawarkan gelas-gelas bening mungil berbentuk tulip khas Turki yang berisikan teh panas. Pramusaji-pramusaji ini berkeliling terus tanpa henti membawa segala barang dagangan dari kapal pesiar ini bergerak menuju ke calon-calon pembeli impulsive. Cay, orange juice, penganan lainnya, silih berganti bersliweran sesekali melewati saya secara berkala.

Pemandangan yang ditawarkan oleh jalur kapal pesiar ini sangat menarik dan menggugah rasa ingin tahu. Kantuk yang sempat menggoda, timbul tenggelam dan gagal membuat lelap, terkalahkan dengan pesona Selat Bosphorus dan bangunan serta landscape yang mengapitnya. Ini saatnya Jelajah Turki Istanbul, dilanjutkan. 

Saturday, September 24, 2016

Jelajah Turki - Istanbul bagian 1




Mentari masih belum juga menampakkan diri dari benteng-benteng beton sepanjang horizon di ufuk timur. Hanyalah sayap-sayap pijarnya yang mulai menyerbu secara perlahan menuju ke arah langit di barat. Langit pun seolah mati-matian mempertahankan warna biru mudanya dari pijar kilau emas keperakan dari bola api yang terus merangsek dari negeri di timur sana.

Bus yang saya tumpangi dari Selcuk, memasuki terminal bus utama dari kota yang terletak di dua benua ini. Sebuah terminal yang luas dan tampak membingungkan bagi saya. Apalagi ditambah dengan bahasa yang berbeda dan jarang sekali ditemui orang yang bisa berbahasa Inggris. Jikalau ada pun, kemampuannya sangat minim sekali.

Bus Terminal of  Istanbul
Singkat cerita, setelah mati-matian mencoba berkomunikasi, akhirnya keluar juga saya dan 3 teman seperjalanan dari terminal bus, menuju jantung kota dengan sebuah free shuttle mini bus. Dengan cepat pemandangan di luar jendela menjadi semakin kota, ramai dengan orang-orang yang mulai hilir mudik melakukan aktivitasnya.

“Yusufpasa” sang sopir berseru sambil menolehkan mukanya ke kami, “Metro Station” sambil menunjuk ke sebuah stasiun kecil di tengah jalan raya.
“Ok, thank you. Bye” kami berseru balas sambil melangkah keluar dari mini bus.

Kota yang diilustrasikan, kota yang dideskripsikan, kota yang dinyanyikan, kota yang digambarkan oleh banyak seniman dan pujangga dunia, Istanbul. This is it! Kota terakhir dari Jelajah Turki saya.