Friday, July 29, 2016

Sebuah cerita Travel Troopers di Situ Gunung, Sukabumi




Di tengah keheningan dan kedamaian siang itu, em…. atau sore yah? yah pokoknya hari itu.

“HAHAHAHA”
“Tomat” “Tomat” “Selada” “Kec…”
“HAHHHHHHH ambillll!”
“HAHAHAHA”
“Selada” “Kol” “Kol” “Tomat” “Paprika” “Kecoak” “Paprika” “Komat”
“HAH!!!! Apaan tuh komat” “HAHAHAHA” “Ambil!”
“HAHAHAHA”

Tawa yang meledak keluar tanpa penahan dalam balutan suara stereo. Tawa yang sesungguhnya, tanpa beban, tanpa keterpaksaan. Tawa sejati yang meskipun sangat mengganggu, tetapi hanya mengakibatkan dumelan kecil dari teman-teman lain yang sedang berbalut kehangatan selimut, dalam udara dingin di Situ Gunung. Tawa yang mengganggu tetapi hanya mengakibatkan tawa lanjutan dari para pedumel sendiri.

Sebuah cerita atas beragam moment meski dalam waktu yang singkat. Sebuah cerita dari sebagian anggota sebuah komunitas pejalan yang memasukkan perbincangan tentang perjalanan hanya sebagai salah satu menu pada buku menu perbincangan dan cengkrama. Apa selain tema perjalanan? Ada kehidupan, ada gossip dan ragam omongan ngalor ngidul yang sama sekali tidak bermutu bagi orang lain tapi penting bagi kami.

Laugh, Peace and Love membuat our friendship stronger, tapi Tears, War and Hate membuat our friendship unbreakable.

Sebuah prasasti digital singkat atas sebuah cerita Travel Troopers di Situ Gunung, Sukabumi.

Thursday, July 28, 2016

The Mdj's #FindingCoffeeShop #Serpong - Battle 5 (Double Bond, Turning Point, & Nukoff)



Gue asli Malang, merantau sejak umur 24 tahun. Yogyakarta, Surabaya dan akhirnya keseret arus urbanisasi, menginjakkan kaki juga di Jakarta. Kurang lebih 9 tahun gue tinggal di Tanjungduren, Jakarta Barat, dan akhirnya settle down di Legok nempel Serpong.

Hobi clubbing di umur 20-an akhirnya beranjak menjadi hobi nongkrong di coffee shop aja. Entah kenapa, dulu yang suka music jedag-jedug akhirnya sekarang lebih enjoy dengerin music random dengan segelas kopi. Sebut saja flat white, piccolo dan americano adalah minuman kopi yang gue suka. Dari semua jenis, gue so far paling suka adalah piccolo dan overall kopi yang gue suka adalah jenis yang pahit biasa, bukan yang asam.

Apakah gue ahli kopi? NO, gue ga ngerti kopi jenis ini itu bla bla bla. Apakah gue penggila kopi? NO, kadar gue ngopi biasa aja. Ngopinya dimana? Di kantor kalo ngantuk tak terkira dan coffee shop. Jadi siapakah gue? Gue cuman seorang yang suka ngopi aja sambil duduk-duduk di coffee shop. Biar dikata gaul? Entah yah, gue ga merasa gaul minum kopi di coffee shop, secara tampang gue lusuh banget dibanding pengunjung lain yang sebagian tampak all out banget. Salah mereka? Ga, for me semua orang bebas nikmatin kopi apapun dan dimana pun dan pakai apapun.

Anyway, jiwa gue selalu haus akan nongki di coffee shop #halah. Bukan coffee shop with international branded kayak Starbuck, Coffee Bean dan setipikalnya yang gue kangenin (kalo Starbuck mah ada di depan kantor). Yang gue maksud adalah coffee shop-coffee shop indie. Lokal aja dan mostly ga punya cabang.

This is my story of #FindingCoffeeShop #Serpong. Penilaian gue dan basian-basiannya murni adalah subjektifitas. In my opinion, selera itu subjektif banget jadi ga selalu bisa jadi patokan secara general. Apa yang gue bilang ok mungkin extra ordinary bagi yang lain, yang gue bilang enak mungkin sampah bagi yang lain. So semua penilaian dan review gue murni berdasarkan dari selera gue. Jadi yang ngecap gue, yang nilai gue, yang nulis gue, yang nentuin juga gue.

Let’s the battle begin.

Tuesday, June 28, 2016

The Mdj's #FindingCoffeeShop #Serpong - Battle 4 (Monomania, Turning Point, & Flow)



Gue asli Malang, merantau sejak umur 24 tahun. Yogyakarta, Surabaya dan akhirnya keseret arus urbanisasi, menginjakkan kaki juga di Jakarta. Kurang lebih 9 tahun gue tinggal di Tanjungduren, Jakarta Barat, dan akhirnya settle down di Legok nempel Serpong.

Hobi clubbing di umur 20-an akhirnya beranjak menjadi hobi nongkrong di coffee shop aja. Entah kenapa, dulu yang suka music jedag-jedug akhirnya sekarang lebih enjoy dengerin music random dengan segelas kopi. Sebut saja flat white, piccolo dan americano adalah minuman kopi yang gue suka. Dari semua jenis, gue so far paling suka adalah piccolo dan overall kopi yang gue suka adalah jenis yang pahit biasa, bukan yang asam.

Apakah gue ahli kopi? NO, gue ga ngerti kopi jenis ini itu bla bla bla. Apakah gue penggila kopi? NO, kadar gue ngopi biasa aja. Ngopinya dimana? Di kantor kalo ngantuk tak terkira dan coffee shop. Jadi siapakah gue? Gue cuman seorang yang suka ngopi aja sambil duduk-duduk di coffee shop. Biar dikata gaul? Entah yah, gue ga merasa gaul minum kopi di coffee shop, secara tampang gue lusuh banget dibanding pengunjung lain yang sebagian tampak all out banget. Salah mereka? Ga, for me semua orang bebas nikmatin kopi apapun dan dimana pun dan pakai apapun.

Anyway, jiwa gue selalu haus akan nongki di coffee shop #halah. Bukan coffee shop with international branded kayak Starbuck, Coffee Bean dan setipikalnya yang gue kangenin (kalo Starbuck mah ada di depan kantor). Yang gue maksud adalah coffee shop-coffee shop indie. Lokal aja dan mostly ga punya cabang.

This is my story of #FindingCoffeeShop #Serpong. Penilaian gue dan basian-basiannya murni adalah subjektifitas. In my opinion, selera itu subjektif banget jadi ga selalu bisa jadi patokan secara general. Apa yang gue bilang ok mungkin extra ordinary bagi yang lain, yang gue bilang enak mungkin sampah bagi yang lain. So semua penilaian dan review gue murni berdasarkan dari selera gue. Jadi yang ngecap gue, yang nilai gue, yang nulis gue, yang nentuin juga gue.

Let’s the battle begin.

Monday, June 06, 2016

The Mdj's #FindingCoffeeShop #Serpong - Battle 3 (Coffedential, Turning Point, & Brewster)



Ciao, welcome to Battle 3
 
Gue asli Malang, merantau sejak umur 24 tahun. Yogyakarta, Surabaya dan akhirnya keseret arus urbanisasi, menginjakkan kaki juga di Jakarta. Kurang lebih 9 tahun gue tinggal di Tanjungduren, Jakarta Barat, dan akhirnya settle down di Legok nempel Serpong.

Hobi clubbing di umur 20-an akhirnya beranjak menjadi hobi nongkrong di coffee shop aja. Entah kenapa, dulu yang suka music jedag-jedug akhirnya sekarang lebih enjoy dengerin music random dengan segelas kopi. Sebut saja cappuccino, mochaccino, piccolo dan americano adalah minuman kopi yang gue suka. Dari semua jenis, gue so far paling suka adalah piccolo dan overall kopi yang gue suka adalah jenis yang pahit biasa, bukan yang asam.

Apakah gue ahli kopi? NO, gue ga ngerti kopi jenis ini itu bla bla bla. Apakah gue penggila kopi? NO, kadar gue ngopi biasa aja. Ngopinya dimana? Di kantor kalo ngantuk tak terkira dan coffee shop. Jadi siapakah gue? Gue cuman seorang yang suka ngopi aja sambil duduk-duduk di coffee shop. Biar dikata gaul? Entah yah, gue ga merasa gaul minum kopi di coffee shop, secara tampang gue lusuh banget dibanding pengunjung lain yang sebagian tampak all out banget. Salah mereka? Ga, for me semua orang bebas nikmatin kopi apapun dan dimana pun dan pakai apapun.

Anyway, gue sudah tinggal di Legok nempel Serpong for more than 6 months dan jiwa gue selalu haus akan nongki di coffee shop #halah. Bukan coffee shop with international branded kayak Starbuck, Coffee Bean dan setipikalnya yang gue kangenin (kalo Starbuck mah ada di depan kantor). Yang gue maksud adalah coffee shop-coffee shop indie. Lokal aja dan mostly ga punya cabang.

This is my story of #FindingCoffeeShop #Serpong. Penilaian gue dan basian-basiannya murni adalah subjektifitas. In my opinion, selera itu subjektif banget jadi ga selalu bisa jadi patokan secara general. Apa yang gue bilang ok mungkin extra ordinary bagi yang lain, yang gue bilang enak mungkin sampah bagi yang lain. So semua penilaian dan review gue murni berdasarkan dari selera gue. Jadi yang ngecap gue, yang nilai gue, yang nulis gue, yang nentuin juga gue.

Thursday, June 02, 2016

DERAWAN, a Beautiful Destination with Awesome Travel Buddy, Could I Ask for More?




“Eh potion gue yah”
“Tunggu mereka datang ke sini tuh”
“Itu nongol tuh, nongol tuhhhh. Hyaa gede banget”
“Kyaaaa kyaaaa”
“Haha haha aduh serem gue kesedot”
“Datang lagi tuh yang lain”
“Kyaaa kyaaaa”

Kericuhan yang terjadi tepat disebelah kapal yang berjarak tak jauh dari saya. Beberapa teman seperjalanan dan beberapa ABK tampak bergerombol antara seram dan senang ketika beberapa hiu paus (whale shark) mendekati mereka, terpancing akan ikan-ikan kecil yang dibuang dari kerambah di lautan Talisayan, Derawan.

Saya tersenyum melihat polah mereka yang kegirangan. Hati saya pun tersenyum dan terbahak, tidak hanya karena salah satu wish list saya akhirnya terkabul, tetapi snorkeling bersama dengan 5 hiu paus adalah sesuatu yang hanya bisa dijelaskan dengan satu kata: AWESOME! Snorkeling tidak akan sama lagi tanpa kehadiran hiu paus, kegemaran saya akan soft corals dan moorish idol mendadak bergeser oleh these beautiful giant creatures yang merupakan spesies ikan terbesar yang masih hidup di bumi ini (note: paus adalah mamalia bukan spesies ikan). Memiliki panjang hingga mencapai 10 meter, hiu paus adalah ikan raksasa yang cenderung jinak, gently dan tidak menyerang manusia.