Monday, September 14, 2020

It's Time for JAPAN

 

Instagram @harry_mdj

Where do I start? It’s JAPAN! One of the most wanted destinations in Asia for the past few years. “Have you been to Japan?”, “You have to go to Japan, Har!”, “You must love Japan! I know you”, “One time is not enough for Japan.”

So when a good friend of mine asked me to join him for Japan, I said “Count me in, bud!”

And here we go, months later, in Japan.

Kali ini, dikarenakan kesibukan ala-ala, dari moving for good from Republik Tangerang tercinta ke Bali. Plus penyesuaian jam kerja hingga budaya kerja dan industry serta bisnis yang berbeda dari yang biasa gue tangani di Tangerang, maka gue akan merangkum 2 kali kunjungan gue ke Jepang. Bulan Mei 2019 dan Bulan February 2020 (Yes! Ke Jepang sekali tuh ga cukup).

Bukan sok sibuk tapi emang sibuk haha.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

***

Negara Tujuan

JEPANG aka. Japan aka. Nippon aka. Nihon, yang berarti asal usul matahari dan sering terterjemahkan sebagai Negeri Matahari Terbit, adalah sebuah negara di Asia yang merupakan salah satu negara paling “melek” teknologi di dunia yang berada di Benua Asia.

Sebuah negara Kekaisaran yang merupakan salah satu negara yang mempunyai budaya yang sangat kuat dan mendunia. Sebut saja salah bentuk budayanya yang mendunia adalah dari sisi makanan. Ambil contoh sushi, sake, ramen, wasabi dan masih banyak lagi. Salah satu bentuk budaya lain yang sangat terkenal adalah Geisha, Ikebana, Origami, Kimono, Anime dan masih banyak lagi.

Negara ini juga terkenal sebagai negara penjajah yang pernah menduduki Indonesia pada masa Perang Dunia ke 2 dan beberapa negara asia lainnya. Termasuk juga cerita legendaris serangan Pearl Harbour ke Amerika dan serangan-serangan tujuan penaklukan negara adidaya lain, seperti China.

Jepang beberapa tahun belakangan sangat popular sekali menjadi destinasi wisata bagi orang-orang Indonesia. Travel booming ke Jepang belakangan ini sangat stabil, meski terkadang sempat tersendat sedikit terkait dengan beberapa bencana akut yang menimpa negara ini.

Tujuan

2019: Tokyo (transit) – Kyoto – Hiroshima – Miyajima – Osaka – Tokyo (transit).

2020: Tokyo (transit) – Osaka – Kyoto – Kanazawa (Transit) – Shirakawa – Tokyo – Miyagi – Kawaguchiko – Tokyo.

Visa

Untuk berkunjung ke Jepang, kita butuh visa. Kali ini gue dibantu pihak panorama tour mengurus Visa Waiver, secara passport-nya sudah e-Passport. Dengan biaya yang terjangkau (lupa-lupa dikit, sekitar Rp 250.000,- -an) dengan masa yang agak lama (karena waktu itu ngurusnya Desember 2018, pas high season juga), 2 minggu-an deh. Visa Waiver ini berlaku untuk 3 tahun sejak dikeluarkannya visa atau sisa masa berlaku akan hangus mengikuti Visa’s Date Expired (yang mana yang lebih cepat). Pemegang Visa Waiver (turis) hanya bisa berkunjung dan tinggal di Jepang maksimal 14 hari berturut-turut, tetapi bebas keluar masuk Jepang tanpa ada batasannya selama Visa Waiver masih berlaku.

Penerbangan

2019: Kali ini gue terbang kembali bersama Air Asia dengan rute yang seharusnya adalah Soekarno Hatta (Jakarta) – Narita (Tokyo) – Soekarno Hatta (Jakarta), tapi beberapa bulan sebelum terbang nampaknya Air Asia menutup direct flight ini dan akibatnya gue harus re-route menjadi:

Soekarno Hatta (Jakarta) – Don Mueang (Bangkok) – Narita (Tokyo) dan dengan rute kembali yang sama.

2020: Kali kedua gue terbang dengan Japan Airlines (JAL) dengan rute: Soekarno Hatta (Jakarta) – Narita (Tokyo) - Soekarno Hatta (Jakarta).

Dress Code

Tidak ada dress code khusus di Jepang, kecuali mungkin jika ingin memasuki area temple atau shrine, better tidak memakai pakaian yang minim (bawa kain saja buat rok atau sarung atau scarf. Well gue juga kurang paham, secara gue berkunjung pas peralihan musim semi ke musim panas (2019) dan musim dingin (2020), dimana udara masih (relatively) dingin dengan angin yang (cukup) kencang, terutama di Tokyo, Kyoto dan Hiroshima.

Bahasa

Kemampuan untuk membaca dan berbicara Bahasa Jepang akan sangat banyak membantu lho dalam meng-explore negara ini. Kebanyakan orang Jepang yang gue temui selama kunjungan hanya paham sedikit dalam bahasa Inggris dan bahkan tidak bisa sama sekali atau dengan dialek yang susah sekali dimengerti. Google translate adalah our best friend.

Weather

2019: Bulan Mei 2019, weather di Kyoto (pagi 14°, siang jelang sore 22°) masih dingin dengan angin yang cukup kuat. Begitu juga dengan di Hiroshima. Tentunya weather pada saat daylight lebih hangat daripada mulai menjelang petang atau pagi. Di Osaka (pagi 16°) & Narita (pagi 20°) sendiri weather sedikit lebih hangat daripada Kyoto. Jaket kain sedang sudah cukup.

2020: Akhir bulan Februari 2020, weather di Osaka (pagi 3°, siang jelang sore sedikit lebih hangat) masih musim dingin tanpa salju dengan angin yang cukup kencang dan curah hujan yang mulai tinggi. Meanwhile di Shirakawa go, masih bersalju dikit dengan suhu hingga 0° dan angin yang kencang. How about Tokyo? Dingin tanpa salju dengan cuaca yang lebih hangat, tetapi masih disekitaran dibawah 9°. Tak jauh dari Tokyo, di Shiroishi (Miyagi) masih bersalju cukup tebal, dengan hujan salju ringan dan suhu disekitaran -1°.

Mata Uang

Mata uang di Jepang adalah Japanese Yen (JPY = Yen). 1 Yen equal dengan 130-an rupiah (kurs jual di Indonesia saat kunjungan gue ke Jepang). Pecahan mata uang di Jepang sangat beragam dan terdiri dari uang koin dan uang kertas.

Layaknya di negara lain, Jepang juga punya e-money card yaitu SUICA. Basically sama kayak e-money dimana-mana, bisa digunakan untuk pembayaran JR Line maupun Subway Line dan juga bisa digunakan pula di beberapa mini market, vending machine dan restoran. 

Suica Card

Osaka Pass

1 kartu dengan pilihan 1 day pass dan 2 days pass. Harga Osaka Pass (yang dibayar 1x saja pada saat beli kartunya) sudah termasuk (tanpa limit tertentu selain tanggal berlakunya kartu) masuk ke banyak tempat destinasi wisata di Osaka (ada list-nya) dan JR Line maupun Subway Line di dalam Osaka. Jika sudah beli Osaka Pass, untuk naik JR Line bisa menggunakan Osaka Pass maupun JR Pass.

Harap perhatikan jadwal penggunaan Osaka Pass. Di beberapa tempat wisata, penggunaan Osaka Pass memang tidak dibatasi secara jumlah kunjungan tetapi terkadang ada jam kedatangan maksimalnya (durasi di dalam tempat wisata bebas), misalnya di Umeda Sky Building.

Osaka Pass

 
Bandara

2019 dan 2020: Gue landing dan take off dari Narita International Airport yang berada di Narita yang berjarak 65 kilometer lebih dari pusat kota Tokyo.

Wifi

2019: gue menggunakan 2 vendor yaitu Simcard JavaMifi (personal) dan Japan NINJA Pocket Wifi (sharing). Pengambilan dan pengembalian perangkat di Narita International Airport Terminal 1 – tanpa deposit dan dokumen apa pun kecuali fotocopy passport peminjam yang mereka lakuakn sendiri.

2020: gue hanya menggunakan wireless modem JavaMifi (personal). Well, pilihan tahun 2020 terbukti lebih effective dan efficient (recommended). 

Apakah ada wifi di tempat menginap dan restoran? Ada yang ada dan ada yang tidak ada. Jujur karena gue sudah ada modem unlimited maka gue ga fakir wifi, jadi ga terlalu merhatiin ketersediaan wifi di tempat-tempat yang gue tinggali atau kunjungi. Battery dari perangkat JavaMifi juga terbukti awet seharian. Jadi Cuma butuh di charge malam hari saja (kondisi: 1 perangkat = 1 pemakai).

Penginapan

2019: Airbnb banyak dan relative mudah dicari dengan harga yang lebih miring daripada hotel. Airbnb biasanya memiliki fasilitas lengkap seperti mini apartment. Dari mini kitchen dengan peralatan makan lengkap dan microwave, kamar mandi dengan bath tub. Airbnb yang terletak lebih ke pinggir biasanya lebih luas daripada yang berada di dekat pusat kota. Airbnb juga tidak selalu menyediakan kasur, melainkan futon (semacam alas tidur yang sangat umum digunakan di Jepang. Nyaman kok).

Capsule hotel juga banyak ditemukan di Jepang. Harganya? Lebih miring lagi dan menurut pengalaman gue, capsule-nya cukup luas dan cukup kedap suara. 

Kyoto – Airbnb Yanaginoshitacho 2F, Minami-ku (Jujo Station). Tidak ada staff yang jaga, semua self- service dengan password yang dikirimkan oleh pihak Airbnb untuk akses digital lock pintu town house.

Osaka – Airbnb 2-Chome-12-8 Katsuysamakita, Ikuno (Momodani Station). Tidak ada staff yang jaga, semua self-service dengan password yang dikirimkan oleh pihak Airbnb untuk akses digital lock pintu apartment.

Hiroshima – Hiroshima Peace Hotel (Capsule Hotel), 2-6-14 Yokokawacho, Nishi-ku, Naka-ku.

Narita – Narita Sando Guesthouse, Kamicho 520, Narita Shi, Chiba Prefecture.

2020: Kali ini gue dan teman gue menggunakan Airbnb (modern banget dan no staff) selama di Osaka dan saat di Shirakawa, kami menggunakan guest house gassyo-style (rumah tradisional khas Shirakawa) dengan ryokan room style. Di Tokyo kami menggunakan standard room hotel.

Di Osaka kami mendapat Airbnb dengan ruang yang lapang sekali, beda dengan hotel di Tokyo yang sangat sempit sekali. However, both dalam kondisi yang sangat bersih dan lokasinya sangat strategis.

How about guest house-nya yang di Shirakawa? Well actually guest house yang kami pilih terletak paling ujung (salah satu yang terjauh dari terminal bus Shirakawa Go – 15 menit sampai dengan 20 menit jalan kaki), tetapi pemandangan dari kamar ryokan kami adalah bentangan pegunungan bersalju dan hutan serta area sawah tanpa penghalang apa pun. Meanwhile jika guest house-nya yang sedikit di tengah desa, maka pemandangan akan terhalang oleh rumah-rumah dan atap tetangga. Tergantung preferensi masing-masing.

Osaka – Takuto Stay Osaka Uehommachi (Tanimachi 9-chome - exit 7). Tidak ada staff yang jaga, semua self-service. Check in diperlukan via video call dari tab yang tersedia di lobby. Akses pintu lobby akan dikirimkan oleh pihak Airbnb, sedangkan password untuk akses digital lock pintu kamar akan diinformasikan pada saat check in (paling cepat pukul 15:00 Waktu Setempat).


Shirakawa Go – Shimizu Inn.


Dinner and Breakfast is in additional request with additional cost



Tokyo – Hotel MyStays Asakusa-Bashi (Asakusabashi Station).

Locker Coin

Penyewaan locker berbayar ini, selalu ada di hampir semua stasiun besar/sedang. Ada yang menggunakan kunci manual ada juga yang menggunakan system digital lock. Tersedia 3 ukuran (kecil, sedang dan besar) dengan harga mulai dari 400 Yen per hari. Ini satu hal yang gue sangat suka di Jepang, jadi kalau itinerary ada jadwal balik kucing, maka ga perlu gotong/geret ransel/koper gede, cukup yang dibutuhkan aja, sisanya titipin dengan aman dan nyaman di persewaan locker berbayar ini.

Caranya cukup mudah. Untuk yang kunci manual, cari locker yang kosong dan masukan luggage kita ke dalam, tutup dan masukan coin Yen sesuai tarif (hanya menerima coin) dan putar kuncinya, cabut dan simpan. Nantinya pada saat ingin mengambil dan jika lewat dari 1 hari maka pintu tidak akan bisa terbuka. Kita harus memasukan pembayaran coin lagi untuk 1 hari kelebihan (atau lebih) baru pintu akan terbuka.

Sedangkan untuk digital lock, cari locker kosong, masukan luggage ke dalam dan tutup (ingat nomor locker) dan beranjak ke layar digital yang biasanya terletak di tengah jejeran locker. Sistem pengunci dan pembayaran akan dipandu oleh system di layar tersebut. Simpan bukti bayar yang tertera QR Code untuk nantinya membuka locker lagi di layar yang sama (bisa menerima uang kertas selain coin). Jika ada kekurangan bayar karena lebih dari 1 hari, pada saat ingin membuka pintu locker, system akan menginformasikan kekurangan biaya yang harus dibayar.


Transportasi

MRT baik yang dioperasikan oleh Japan Railway (JR) Line maupun Subway Line (2 perusahaan yang berbeda). Sedangkan di Hiroshima ada tram. SUICA berlaku untuk semua tiket JR, Subway dan Tram.

Tram di Hiroshima

 

Jika beli ngeteng, tiket MRT-nya seperti ini, kecil dan nanti dimasukkin ke mesin di gate-nya

The famous JR-Pass hanya bisa digunakan di jaringan JR Line saja (yes, termasuk jaringan Shinkansen), termasuk untuk ferry menuju ke Pulau Miyajima.

JR Pass & Tiket Shinkansen

Ferry Port untuk ke Pulau Miyajima
Shinkansen

Kereta api super cepat yang bisa kamu temukan di JR Station only. Jika beli ngecer, sekali jalannya sangat mahal, so jika selsama trip di Japan kita mengunjungi multi city, sebaiknya membeli JR Pass, karena dengan JR Pass kita bebas kemana saja dan tidak ada batasan maksimal penggunaan (meski rute yang sama), baik untuk reserved seat maupun unreserved seat. Basically beda reserved dan unreserved hanya kalau reserved, tiket shinkansen sudah ada gerbong dan nomor seat, sedangkan kalau unreserved tiketnya tanpa nomor gerbong dan nomor seat. Gerbong unreserved seat akan diinformasikan dan bebas memilih bangku yang ada. Model, fasilitas dan lain-lainnya sama semua. Jadi ga perlu kuatir jika ga dapat reserved seat.

Mau cari info Gerbong (Car) dan jenis Shinkansen, jangan lupa tengok sticker di bawah

Taxi? Banyak banget dan dengan sistem argo. Nyoba di Hiroshima saat malam hari, mahal banget jika disbanding naik kereta. Di Miyagi (Fox Village) harus menggunakan taxi (tidak ada pilihan lain). Taxi dari Shiroishi Station ke Fox Village sekali jalan kurang lebih closing argo di 4.200 Yen.

Taxi di Jepang semua mempunyai pintu otomatis. Jadi kita ga perlu buka pintu karena driver akan membukakan pintu secara otomatis dari tombol di area pengemudi, baik saat kita mau masuk atau mau keluar dari taxi. Keren yak!

Jinrikisha

Adalah semacam becak tradisional Jepang yang ditarik oleh tenaga manusia. Gue temuin ini di Arashimaya Kyoto dan Miyajima. Harganya cukup mahal karena di masa sekarang lebih dipakai sebagai hiburan turis.

Bus

Bus di Jepang sangat on time, bersih dan nyaman sekali dengan leg room yang cukup lega. Bus di Jepang juga menerapkan maksimal luggage yang bisa dimasukkan ke dalam bagasi bawah bus.

Gue pakai bus antar kota saat ke Shirakawa-Go dari Kanazawa dan dari Tokyo ke Kawaguchiko serta Tokyo ke Narita International Airport. Murah, nyaman dan cepat (tibanya pun on time).

Gue juga gunakan bus area saat explore Kawaguchiko, dengan membeli Fuji Bus Pass. Fuji Bus Pass meliputi beberapa area disekitaran Kawaguchiko, jadi recommended untuk dibeli. Untuk ke beberapa tempat wisata di Fuji Area tidak ter-cover oleh Fuji Bus Pass, dan karenanya harus beli tiket bus sekali jalan.

Jadwal Ke dan dari Shirakawa-go


Jadwal Kawaguchi-ko


Kuliner

Fun Facts: semua restoran di Jepang selalu menyediakan air es gratis (free flow), jadi buat yang ga suka minuman macem-macem, lumayan bisa irit budget air minum pada saat makan. Tapi yang ga suka air es, ga ada pilihan lain. Mereka selalu menyediakan dan menyajikan air es meski di musim dingin pun. Semua minum hangat harus dibeli dari menu.

Ramen:

Japanese noodle! Siapa yang ga tahu? Di Indonesia pun banyak sekali dari Ikkudo, Ippudo, Ikkousha, dan masih banyak lagi.

Ga sah aja sih menurut gue (pecinta mie) jika ke Jepang ga nyobain Ichiran Ramen. You have to eat here! Ichiran Ramen bisa ditemui di kota-kota besar. Mengandung babi? YES, sangat. Tetapi Ichiran Ramen juga mengeluarkan yang No Pork (apakah juga No Lard, kurang tahu) dan setahu gue tidak mempunyai sertifikasi kosher aka. Halal. Harga? Affordable kok. Berkisar dari 800-an Yen. Sedangkan untuk instant-nya mulai dari 2.000 Yen per 5 pax baik yang mie kriting atau original noodles.

The Best Ramen

dalam bilik-bilik ramen di ichiran - sebelah kiri adalah air ocha dingin free

bilik-bilik makan di Ichiran Ramen

Pesan dan bayar di mesin sampai dapat kupon kecil. Saat antri nanti isi detail dari pesanan


Tsukemen:

Japanese Dipping Noodles. Basicly sama seperti ramen tetapi mie, lauk dan kuahnya dipisah. Cara makannya mie dicelupkan ke kuah per suap (kuahnya cenderung lebih kental dengan taste yang lebih kuat dari ramen biasa). Gue nyobain jenis ramen ini di Hiroshima yang kebetulan menghidangkan kuahnya di hot bowl, jadi pas banget dengan udara dingin yang merong-rong Hiroshima kala itu.

Bento:

Sangat banyak ditemukan di Jepang dari Family Mart, Seven Eleven, Supermarket dan Counter-counter Bento di semua stasiun MRT. Harga sangat beragam dari kurang dari 500 Yen hingga ribuan Yen.


Takoyaki:

Udah pada tahu kan! Penganan khas Jepang lainnya yang going international dengan sukses. Savory pancake ball yang originally berisi potongan gurita (octopus) ini biasanya disajikan dengan topping dan lebih dari satu jenis saus. Sejauh penjelajahan gue di Jepang, paling banyak gue temukan antrian takoyaki di Dotonbori – Osaka. Penganan ini dijual dalam satuan porsi dengan harga yang affordable dan merupakan salah satu Top Japanese Street Food.

Okonomiyaki:

Vegetables pancake khas Jepang ini sering gue samain sama Fuyunghai-nya Chinese Food. Bedanya, isian sayur di okonomiyaki lebih banyak dan disajikan dengan saus yang berbeda dari fuyunghai (yang disajikan dengan saus kuah asam manis). Saus dan topping yang biasa dipakai di okonomiyaki biasanya tidak jauh berbeda dengan takoyaki.

Okonomiyaki biasanya dimasak dan dimakan di dalam restoran yang disajikan di atas lempeng panggangan yang ada di tengah meja dengan sumpit dan spatula khas okonomiyaki.

Ceritanya, okonomiyaki berasal dari Osaka dan Dotonbori sangat terkenal dengan okonomiyaki-nya. Banyak resto di Dotonbori yang menawarkan makanan ini.

Yoshinoya:

Layaknya Yoshinoya di Indonesia, menu utama mereka adalah rice bowl. Yang membedakan adalah variance menu selain original beef bowl. Di jepang variance-nya sangat banyak sekali mulai dari salad, pork, unagi (belut), sukiyaki, curry, dan lain-lain.

Perbedaan lagi dengan Yoshinoya Indonesia adalah di Indonesia mempunyai banyak pilihan side dish, misalnya gorengan dan lain-lain. Di Jepang hampir tidak ada.


Gyukatsu:

Makanan ini, basically adalah daging goreng tepung (katsu). Gyu merujuk pada daging sapi, bisa aged beef, bisa kobe beef, bisa wagyu beef dengan harga yang tentunya berbeda-beda. Originally gyukatsu akan mempunyai tingkat kematangan medium raw sampai medium.

Mochi:

Ketan ini sangat popular di Jepang (even for local Japanese) dan sangat identic dengan Budaya Jepang. Saat ini mochi di Jepang sudah dijual dengan ragam variance yang sangat banyak dari yang original, segala macam rasa, segala macam filling, sampai dengan tambahan buah segar. Penganan yang juga merupakan oleh-oleh khas Jepang ini dijual baik dalam box maupun per biji.

Mochi bisa ditemukan di semua toko oleh-oleh samapai dengan mini market yang tersebar di seluruh Jepang.

Rice Crackers:

Cemilian ini adalah krupuk nasi dengan banyak varian topping, dari bubuk-bubukan sampai saus-saus-an atau rumput laut, yang dijual dengan harga yang murah. Me? not big fans of this tho.

Rice Cakes:

Kue beras panggang khas jepang ini, disajikan dengan saus-saus pilihan dan dijual per tusuk. Waktu itu gue coba yang original Japanese sauce. Gue suka tekstur lembek chewy lengket rice cake-nya, tetapi kurang cocok dengan rasa sausnya.

Hida Tochimoni Beans:

Salah satu penganan unik yang gue temuin di Shirakawa-Go. Kacang-kacang berbalur adonan dengan variance rasa yang banyak. Gue suka banget, mulai dari yang nutty flavour sampai yang fruit flavour. Harganya juga affordable. Pas banget buat ngemil sama nyeruput kopi hitam pahit kesukaan gue di tengah hawa dingin Shirakawa. You have to try this! Macam kacang shanghai-nya Indonesia deh tapi lebih ke sweet bukan savory gurih bawang.

Onigiri:

Makanan ini adalah nasi kepal khas Jepang dengan cukup banyak varian dan filling. Bosan dengan bento atau dalam kondisi 1 bento kurang 2 bento kebanyakan, gue sering beli onigiri yang selalu terjual di mini mart apa pun di Jepang, dengan harga mulai sekitar 100 Yen-an sampai 200 Yen-an.

Maple Cakes:

Intinya kue bolu dengan filling di dalamnya, biasa dijual per box atau 100 Yen per biji. Filling-nya cukup beragam. Originally berisi pasta kacang merah. Lumayan buat ganjel-ganjel menemani kopi. Cake ini sangat terkenal sebagai oleh-oleh khas Miyajima. Tetapi gue juga temuin di Asakusa Namise Shopping Street (Sensoji Temple) dengan bentuk dan nama yang beda tetapi rasa dan harga relatively sama.

Melon Pan:

“Kudu coba! Uenak!” kata keponakan saya. Dan akhirnya saya pun mencoba dan memang enak. Ga ada hubungannya dengan melon tetapi (kalau tidak salah) bentuknya yang menyerupai melon. Semacam roti berbentuk dome dengan crunchy crush di bagian atas-nya. Dijual per satuan dengan variant rasa dan filling. Gue temuin di Asakusa Namise Shopping Street (Sensoji Temple) – Tokyo dan di pertokoan Asakusabashi Station – Tokyo. 

Souvenir

“Har, ini ada oleh-oleh gantungan kunci dari Jepang. Jangan dibuang, mahal itu!” masih teriang kalimat teman gue yang baru pulang dari Jepang pada tahun 2000-an awal. Dan tahun 2019 gue menemukan bahwa kalimat itu masih relevan.

Oleh-oleh apa sih? Standar aja yah macam gantungan kunci dan tempelan kulkas. Tempelan kulkas di Jepang gue temui mulai dari harga 100-an Yen per piece (banyak di dalam gedung serba guna yang beberapanya adalah toko oleh-oleh di samping Osaka Castle). Gantungan kunci yang gue beli di Kyoto, per piece-nya yang paling murah seharga 380 Yen. Cukup mahal sih tetapi memang kualitasnya bagus.

Masuk gedung ini belok kiri, mentok. nah toko souvenir tempelan kulkas termurah (so far)

Tokyo Banana? Ga usah kuatir dan ga perlu keliling seantero Jepang buat nyariin, di Narita Airport – Terminal Keberangkatan banyak banget, termasuk kitkat sake, dan kitkat-kitkat aneka rasa. Tokyo Banana juga ada di Tokyo Station (Exit South Gate – satu ruang dengan counter penjualan tiket bus).

Beli souvenir yang murah dimana?

Tempelan Kulkas (kualitas biasa saja tetapi murah) di gedung samping Osaka Castle (di dalamnya selain ada restoran, museum, juga banyak toko oleh-oleh.

Kebanyakan turis Indonesia bakalan kembali ke Indonesia via Tokyo, maka jika males bawa oleh-oleh berat ke sana kemari serta berprinsip jika di airport mahal, maka gue saranin beli segala macam oleh-oleh di Asakusa Namise Shopping Street (Sensoji Temple). Selain banyak pilihan harga juga tidak mukul. Tetapi menjelang petang toko-toko di area ini akan banyak yang tutup. Jadi perhatikan waktu berkunjung.

Di shopping street ini kita akan temui ratusan toko kecil-kecil menjajakan: kaos, kimono, yukata, kipas, pernak pernik lucu, permen, mochi, mini cake, kitkat dan lain-lain. Belum lagi saat belanja ga perlu takut kelaparan karena selain banyak restoran, juga banyak toko-toko yang menjual segala bentuk cemilan yang bisa langsung dimakan di area toko penjual (di area shopping ini dilarang makan dan minum sambal jalan).

Mineral Water

Air mineral kemasan cukup mahal di Jepang. Air mineral kemasan paling murah yang pernah gue temui untuk ukuran botol sedang (around 600 ml), seharga 100 Yen dan air mineral kemasan besar (around 2 lt), seharga 98 Yen. Benar! Kemasan besar harganya lebih murah. Triknya adalah beliyang gede-gede simpen di penginapan dan tuang ke botol kecil.

Untuk para sobat “kalau bisa gratis ngapain bayar” ada kabar bahagia! Semua tempat makan di Jepang menyediakan minum air es gratis (hanya air es yang gratis yang disediakan di meja) dan boleh refill. 

 ***

No comments:

Post a Comment