Monday, September 14, 2020

It's Time for JAPAN - The story in 2020

 

Instagram @harry_mdj

Where do I start? It’s JAPAN! One of the most wanted destinations in Asia for the past few years. “Have you been to Japan?”, “You have to go to Japan, Har!”, “You will love Japan! I know you”, “One time is not enough for Japan.”

So when a good friend of mine asked me to join him for Japan, I said “Count me in, bud!”

And here we go, months later, in Japan.

Kali ini, dikarenakan kesibukan ala-ala, dari moving for good from Republik Tangerang tercinta ke Bali. Plus penyesuaian jam kerja hingga budaya kerja dan industry serta bisnis yang berbeda dari yang biasa gue tangani di Tangerang, maka gue akan merangkum 2 kali kunjungan gue ke Jepang. Bulan Mei 2019 dan Bulan Februari 2020. Yes! One time is not enough!

Bukan sok sibuk tapi emang sibuk banget.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

***

It's Time for JAPAN - The Story in 2019

Instagram @harry_mdj

Where do I start? It’s JAPAN! One of the most wanted destinations in Asia for the past few years. “Have you been to Japan?”, “You have to go to Japan, Har!”, “You will love Japan! I know you”, “One time is not enough for Japan.”

So when a good friend of mine asked me to join him for Japan, I said “Count me in, bud!”

And here we go, months later, in Japan.

Kali ini, dikarenakan kesibukan ala-ala, dari moving for good from Republik Tangerang tercinta ke Bali. Plus penyesuaian jam kerja hingga budaya kerja dan industry serta bisnis yang berbeda dari yang biasa gue tangani di Tangerang, maka gue akan merangkum 2 kali kunjungan gue ke Jepang. Bulan Mei 2019 dan Bulan Februari 2020. Yes! One time is not enough!

Bukan sok sibuk tapi emang sibuk banget.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

***

It's Time for JAPAN - Expenses Realization (2019 & 2020)

Instagram @harry_mdj
 
Realisasi itinerary dan biaya yang gue share, hanya sebatas biaya yang relative mandatory selama Jelajah Jepang. Untuk biaya beli souvenir dan ngafe-ngafe tidak akan gue share. Please aware, dalam perjalanan ini gue bersama dengan 1 orang teman seperjalanan jadi ada biaya yang kami bagi ber 2 tetapi biaya yang gue tampilin di sini sudah biaya per 1 orang.

Realisasi biaya TIDAK termasuk:
1.     Biaya snack, additional mineral water.
2.     Biaya toilet selama di Jepang (FREE di semua tempat).
3.     Biaya shopping souvenir di Jepang dan Duty Free Narita INternational Airport.
4.     Biaya transportasi dan makan minum selama menuju, di, dan dari Soekarna Hatta International Airport.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.
***

It's Time for JAPAN

 

Instagram @harry_mdj

Where do I start? It’s JAPAN! One of the most wanted destinations in Asia for the past few years. “Have you been to Japan?”, “You have to go to Japan, Har!”, “You must love Japan! I know you”, “One time is not enough for Japan.”

So when a good friend of mine asked me to join him for Japan, I said “Count me in, bud!”

And here we go, months later, in Japan.

Kali ini, dikarenakan kesibukan ala-ala, dari moving for good from Republik Tangerang tercinta ke Bali. Plus penyesuaian jam kerja hingga budaya kerja dan industry serta bisnis yang berbeda dari yang biasa gue tangani di Tangerang, maka gue akan merangkum 2 kali kunjungan gue ke Jepang. Bulan Mei 2019 dan Bulan February 2020 (Yes! Ke Jepang sekali tuh ga cukup).

Bukan sok sibuk tapi emang sibuk haha.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

***

Tuesday, December 04, 2018

Singapore Tipis-tipis 2018

more pictures in Instagram @harry_mdj

“Har, jatah replace off lo masih ada dua hari lho.”
“Oh iya! Yang dari acara GWK kemarin.”
“Iya. Hangus lho akhir bulan ini.”
“WHAT!”
“Replace off maksimal cuma 30 hari sejak diajuin.”
“WHAT! … duh kemana yah? Masa diambil cuma buat bengong di rumah?”

Dan 2 minggu kemudian, berdirilah gue di jalur antrian imigrasi kedatangan di Terminal 4 Changi International Airport.

Transit? Nope. Sejak terakhir kalinya gue ke Singapore (tahun 2012), akhirnya 6 tahun kemudian baru kesempatan balik lagi ke negara ini. Explore till drop? Nope. Gue lagi pingin jalan-jalan malas. So 4 hari 3 malam di Singapore, ga banyak tempat yang gue kunjungi.

Monday, October 15, 2018

It's time for Ladakh - The Story

more pictures in Instagram @harry_mdj

Ladakh atau Tibet Kecil adalah suatu wilayah bagian dari Pemerintahan Jammu dan Kashmir (semacam propinsi) di India Utara, dengan ibukota Leh. Penduduk asli Ladakh (Ladakhi) mayoritas beragama Buddha dan konon nenek moyang mereka lebih cenderung ke Mongolian. Ketika teman seperjalanan mengajak gue ke Ladakh, tanpa berpikir panjang, gue langsung mengiyakan ajakan itu. Sialnya, karena beberapa kondisi akhirnya kami membeli tiket PP dengan durasi yang kurang lama, sehingga kami hanya punya waktu meng-explore sebagian kecil Ladakh saja.

Ladakh merupakan salah satu dataran tertinggi di dunia, maka umumnya bagi turis (baik domestic maupun mancanegara) diharuskan menyediakan waktu aklimatisasi (dalam hal ini, merupakan waktu tubuh untuk penyesuaian dengan kadar oksigen yang sangat rendah). Commonly dibutuhkan waktu 1 sampai dengan 2 hari untuk proses ini dengan kegiatan istirahat, santai dan aktivitas-aktivitas ringan. Mountain sickness akibat gagalnya proses aklimatisasi, akan membuat perjalananan meng-explore Ladakh menjadi sangat tidak nyaman.

Best season untuk mengunjungi Ladakh adalah pada saat musim panas karena cuaca dinginnya tidak se-extreme pada musim-musim lainnya. Saat musim panas, di siang hari cenderung hangat sejuk dan di beberapa tempat, pada malam hari suhu bisa drop hingga 5ÂșC. Tetap saja dingin yah buat kita orang tropis.

Ini dia cerita jelajah Ladakh singkat gue bersama 3 teman seperjalanan.

What about Ladakh? Baca dulu ini 101-nya: It's Time for Ladakh - 101

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

Friday, October 05, 2018

It's Time for LADAKH, India - Expenses Realization


more pictures in Instagram @harry_mdj



Realisasi itinerary dan biaya yang gue share, hanya sebatas biaya yang relative mandatory selama Jelajah Ladakh. Untuk biaya beli souvenir dan ngafe-ngafe tetap akan gue share tetapi hanya info-nya saja (di artikel yang berbeda), tidak akan masuk ke dalam totalan biaya realisasi. Please aware, dalam perjalanan ini gue bersama dengan 3 orang teman seperjalanan, jadi ada biaya yang kami bagi ber 4 dan biaya yang gue tampilin di sini adalah biaya per 1 orang.

Realisasi biaya TIDAK termasuk:
1.     Biaya snack, additional mineral water.
2.     Biaya toilet selama di Ladakh & Delhi (FREE di semua tempat).
3.     Biaya shopping souvenir di Ladakh dan Duty Free Indira Gandhi IA.
4.   Biaya additional makan minum selama transit di Kuala Lumpur (kecuali yang bertepatan dengan jam makan).
5.     Biaya additional In Flight Meals di Air Asia (kecuali yang bertepatan dengan jam makan).
6.     Biaya transportasi dan makan minum selama menuju, di, dan dari Soekarna Hatta International Airport.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

Thursday, October 04, 2018

It's Time for LADAKH, India


more pictures in Instagram @harry_mdj

“Pergi kemana Har?”
“Ladakh.”
“Heh? Mana tuh? Baru denger?”
“Di India bro, India utara sono.”
“Buset, kaga pernah dengar. Baru tahu. Kok elo bisa tahu?”
“Iya bro, temen sudah ada yang pernah ke sana trus kalo elo pernah nonton film India, 3 idiots, nah Ladakh tuh ada di scene terakhir tuh film.”

Ladakh, India, memang belum terlalu popular sebagai destinasi wisata. Konon, bagi orang lokal pun, Ladakh baru mulai berkembang pesat dunia pariwisatanya, sejak dan mengikuti suksesnya film India, 3 idiots, pada tahun 2009 lampau.

Ketika teman seperjalanan mengajak gue ke Ladakh, tanpa berpikir 2x, gue langsung mengiyakan ajakan itu. Tentunya dengan iming-iming ada promo tiket Air Asia PP Jakarta ke New Delhi (transit di Kuala Lumpur). Sialnya, karena beberapa kondisi akhirnya kami membeli tiket PP dengan durasi yang kurang lama, sehingga kami hanya meng-explore sebagian kecil Ladakh saja. Seperti biasa, penyakit beli tiket dulu baru bikin itinerary belakangan.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

Thursday, March 29, 2018

It's Time for IRAN - TEHRAN


more pictures in Instagram @harry_mdj

Pertama kali dengar tentang Negara ini pada tahun 1980-an. Pertama kali diajak ngebolang ke Negara ini pada tahun 2016. Pertama kali keracun dan memutuskan buat ngebolang ke Negara ini pada tahun 2017. Pertama kali menginjakkan kaki ke tanah Rumi ini pada tahun 2018. Akhirnya setelah penantian berbulan-bulan, It’s time for IRAN!
Blank? Baca ini dulu:

Kota keempat dan terakhir yang kami (gue dan 2 teman seperjalanan) kunjungi adalah Tehran, ibukota Negara Iran. Salah satu kota tua dari Persia Kuno yang juga merupakan salah satu dari pusat perdagangan Silk Road kuno. Tehran juga merupakan ibukota propinsi dari Propinsi Tehran dan merupakan kota terpadat di Iran serta di Asia Barat. Nama Tehran sendiri masih belum diketahui jelas asal usulnya tetapi sudah dipakai sejak lebih dari 7.000 tahun yang lalu. Tehran mempunyai banyak sekali historical places dan landmarks yang sangat terkenal dan menarik. Sayangnya kami tidak punya cukup waktu untuk mengunjungi semua landmarks dan historical places itu.

Artikel ini, it’s all about city tour di Tehran. We had only literally 41 hours in Tehran (include sleeping time). Such a short time with so many destinations! I KNOW, RIGHT! So yuk tengok kemana saja kami ngelayap di Tehran. It’s Tehran in 41 hours.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat kunjungan gue. Jelajah Iran dilakukan di akhir bulan February (musim dingin). Winter is here! Suhu rata-rata: di malam dan dini hari adalah 4 sd. 8 derajat celcius, sedangkan di siang hari mencapai 10 sd. 14 derajat celcius. Suhu di Tochal Ski Resort lvl 5 adalah minus 4 derajat celcius dan di lvl 7, minus 9 derajat celcius.

Tuesday, March 27, 2018

It's Time for IRAN! - SHIRAZ (include Persepolis)


more pictures in Instagram @harry_mdj
Pertama kali dengar tentang Negara ini pada tahun 1980-an. Pertama kali diajak ngebolang ke Negara ini pada tahun 2016. Pertama kali keracun dan memutuskan buat ngebolang ke Negara ini pada tahun 2017. Pertama kali menginjakkan kaki ke tanah Rumi ini pada tahun 2018. Akhirnya setelah penantian berbulan-bulan, It’s time for IRAN!
Blank? Baca ini dulu: It's Time for Iran

Kota ketiga yang kami (gue dan 2 teman seperjalanan) kunjungi adalah Shiraz (include Persepolis). Salah satu kota tua dari Persia Kuno ini, terletak sekitar berkendara 6,5 jam dari Yazd. Shiraz juga merupakan ibukota propinsi dari Propinsi Fars dan merupakan salah satu kota terpadat di Iran. Shiraz sangat terkenal dengan beberapa situs yang antara lain adalah Pink Mosque, Shah Cheragh dan Persepolis Complex.

Artikel ini, it’s all about short city tour di Shiraz. We had only literally 18 hours in Shiraz (include sleeping time). Such a short time! I KNOW, RIGHT! So yuk tengok kemana saja kami ngelayap di Shiraz. It’s Shiraz in 18 hours.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat kunjungan gue. Jelajah Iran dilakukan di akhir bulan February (musim dingin). Winter is here! Suhu rata-rata: di malam dan dini hari adalah 4 sd. 8 derajat celcius, sedangkan di siang hari mencapai 10 sd. 14 derajat celcius. Suhu di Tochal Ski Resort lvl 5 adalah minus 4 derajat celcius dan di lvl 7, minus 9 derajat celcius.

Monday, March 26, 2018

It's Time for IRAN! - YAZD (include BAFQ & FAHRAJ)


more pictures in Instagram @harry_mdj

Pertama kali dengar tentang Negara ini pada tahun 1980-an. Pertama kali diajak ngebolang ke Negara ini pada tahun 2016. Pertama kali keracun dan memutuskan buat ngebolang ke Negara ini pada tahun 2017. Pertama kali menginjakkan kaki ke tanah Rumi ini pada tahun 2018. Akhirnya setelah penantian berbulan-bulan, It’s time for IRAN!
Blank? Baca ini dulu: It's Time for Iran

Kota kedua yang kami (gue dan 2 teman seperjalanan) kunjungi adalah Yazd (+ melipir jauhan dikit ke Bafq dan Fahraj). Kota tertua di dunia yang masih dihuni sampai saat ini, terletak sekitar berkendara 4 jam dari Isfahan. Yazd juga merupakan ibukota propinsi dari Propinsi Yazd. Yazd sangat terkenal dengan situs-situs agama Zoroastrianism dan bagian old town atau old city Yazd juga tercatat sebagai UNESCO World Heritage Site. Sebuah kota cantik yang menjadi favorite saya selama jelajah Iran.

Artikel ini, it’s all about “ga short-short banget” city tour di Yazd. We had only literally 29 hours in Yazd (include sleeping time). Such a short time! I KNOW, RIGHT! So yuk tengok kemana saja kami ngelayap di Yazd. It’s Yazd in 29 hours.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat kunjungan gue. Jelajah Iran dilakukan di akhir bulan February (musim dingin). Winter is here! Suhu rata-rata: di malam dan dini hari adalah 4 sd. 8 derajat celcius, sedangkan di siang hari mencapai 10 sd. 14 derajat celcius. Suhu di Tochal Ski Resort lvl 5 adalah minus 4 derajat celcius dan di lvl 7, minus 9 derajat celcius.

Thursday, March 22, 2018

It's time for IRAN! - ISFAHAN


More pictures in Instagram @harry_mdj

Pertama kali dengar tentang Negara ini pada tahun 1980-an. Pertama kali diajak ngebolang ke Negara ini pada tahun 2016. Pertama kali keracun dan memutuskan buat ngebolang ke Negara ini pada tahun 2017. Pertama kali menginjakkan kaki ke tanah Rumi ini pada tahun 2018. Akhirnya setelah penantian berbulan-bulan, It’s time for IRAN!
Blank? Baca ini dulu: It's time for Iran - General

Kota pertama yang kami (gue dan 2 teman seperjalanan) kunjungi adalah Isfahan (aka. Esfahan). Kota terbesar ke tiga di Iran yang terletak sekitar berkendara 6 jam dari Tehran ini, juga merupakan ibukota propinsi dari Propinsi Isfahan. Isfahan dengan segudang situs-situs kuno yang tercatat telah berdiri sejak abad ke 11. Sebuah kota cantik yang menjadi pujaan dan inspirasi dari beberapa pujangga ternama, seperti Rumi misalnya.

Artikel ini, it’s all about short city tour in Isfahan. We had only literally 18 hours in Isfahan (include sleeping time). Such a short time! I KNOW, RIGHT! So yuk tengok kemana saja kami ngelayap di Isfahan. It’s Isfahan in 18 hours.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat kunjungan gue. Jelajah Iran dilakukan di akhir bulan February (musim dingin). Winter is here! Suhu rata-rata: di malam dan dini hari adalah 4 sd. 8 derajat celcius, sedangkan di siang hari mencapai 10 sd. 14 derajat celcius. Suhu di Tochal Ski Resort lvl 5 adalah minus 4 derajat celcius dan di lvl 7, minus 9 derajat celcius.

Tuesday, March 20, 2018

It's Time for IRAN - Expenses Realization

more pictures in Instagram @harry_mdj
Pertama kali dengar tentang Negara ini pada tahun 1980-an. Pertama kali diajak ngebolang ke Negara ini pada tahun 2016. Pertama kali keracun dan memutuskan buat ngebolang ke Negara ini pada tahun 2017. Pertama kali menginjakkan kaki ke tanah Rumi ini pada tahun 2018. Akhirnya setelah penantian berbulan-bulan, It’s time for IRAN!

Realisasi itinerary dan biaya akan gue share, tetapi hanya sebatas biaya yang relative mandatory selama Jelajah Iran. Untuk biaya beli souvenir dan ngafe-ngafe tetap akan gue share tetapi hanya info-nya saja (di artikel yang berbeda), tidak akan masuk ke dalam totalan biaya realisasi. Please aware, dalam perjalanan ini gue bersama dengan 2 orang teman seperjalanan, jadi semua biaya bersama kami bagi ber 3 dan biaya yang gue tampilin di sini adalah biaya per 1 orang.

Realisasi biaya TIDAK termasuk:
1.     Biaya snack, additional mineral water (yang belinya pribadi).
2.     Biaya toilet selama di Iran (FREE di semua tempat).
3.     Biaya shopping souvenir di Iran dan Duty Free.
4.     Biaya additional makan minum selama transit di Kuala Lumpur (kecuali yang bertepatan dengan jam makan).
5.     Biaya additional In Flight Meals di Air Asia (kecuali yang bertepatan dengan jam makan).
6.     Biaya transportasi dan makan minum selama menuju, di, dan dari Soekarna Hatta International Airport.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

It's Time For IRAN


more picture: Instagram @harry_mdj
Pertama kali dengar tentang Negara ini pada tahun 1980-an. Pertama kali diajak ngebolang ke Negara ini pada tahun 2016. Pertama kali keracun dan memutuskan buat ngebolang ke Negara ini pada tahun 2017. Pertama kali menginjakkan kaki ke tanah Rumi ini pada tahun 2018. Akhirnya setelah penantian berbulan-bulan, It’s time for IRAN!

Dengan beberapa informasi dan rekomendasi dari internet serta bantuan dari sahabat yang berhasil ngeracunin gue, itinerary jelajah IRAN pun tersusun juga dengan optimisme yang cukup tinggi. Dalam waktu 6 hari 5 malam di Iran, kami (gue dan 2 teman seperjalanan) memutuskan untuk mengunjungi 4 kota besar (plus 2 suburb). Waktu yang sangat mepet sekali. Inilah yang terjadi saat itinerary baru dipikirin setelah membeli tiket promo dadakan, walhasil keinginan banyak tapi waktu kurang.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

Friday, December 22, 2017

Mendadak Jelajah Toraja


Check my Instagram @harry_mdj for more pictures

“Gunung Agung-nya erupsi!” dan berawal dari kalimat pendek ini, maka rencana ber-long weekend di Ubud dan Sanur – Bali terpaksa dengan berat hati dibatalkan. Keputusan batal ini lebih dipicu oleh kondisi Bandara Ngurah Rai yang bisa tutup operasi sewaktu-waktu, sedangkan 3 dari kami (4) sudah harus ada di Jakarta kembali pada hari Senin-nya. Keputusan ini juga berimbas kepada ticket pesawat yang tidak bisa di-refund 100% dan begitu juga booking-an hotel di Ubud dan Sanur – Bali.

Imbas force major dan kerugian yang kami tanggung tak guna jua menyurutkan keingan untuk hengkang dari Jakarta selama long weekend Maulid di awal Desember kemarin. 1 hari sebelum dimulainya masa long weekend, akhirnya kami ber-4 memutuskan untuk merubah destinasi, dadakan issued ticket, booking akomodasi, transportasi ke dan di destinasi baru.

Jumat, 1 Desember 2017 (09:00 WITA).
Perwakilan Bintang Prima, Makassar.
Ber-4 kami duduk menunggu bus suspensi yang akan membawa kami melintas membelah Provinsi Sulawesi Selatan dari ujung Selatan menuju ke Utara. Ke Toraja kami akan menghabiskan long weekend ini. Keputusan yang cukup ambisius menurut saya tapinya tetap kami jalani dengan optimis.

Thursday, October 26, 2017

11 Things, While You Were Traveling in Indonesia




Indonesia is consisting of more than 17 thousands islands and islets. Indonesia has hundreds of native languages and dialects, as well as cultures. We unite through our national language, Bahasa Indonesia. The descendant of immigrant, like Chinese, Arabian, Indian, etc, speaks, read and write fluently in Bahasa Indonesia. We sing our National Anthem, Indonesia Raya, together from west to east. We also have similar culture despite we have different details in each culture. We are the locals of Indonesia.

Me? I was born in Indonesia as Indonesia Citizen. I’m the youngest but the first born child as Indonesia Citizen. My parents were also born in Indonesia, as well as my big brother and sisters, yet they were holding some kind like China’s Passport until around late 70’ies. My grandparents were born in China and came to Indonesia when they were teens (in early 20th century). I don’t deny my Chinese thingy which run through my blood, yet I prefer people call me as Indonesian not Chinese, because by the law, by the birth and (first of all) by my heart, I am an Indonesian.

I’ve been traveling since I was a child. My parents did love traveling so much. I started to capture my travel moment in early 2000. I love traveling because by that time, I think I can completely being myself. Yet I can’t do traveling as many as I wish, because of the money and the time. Currently I work as financial planner in a listed company and I only get (max) 15 days for my annual leave.

Please check my exploring map and Instagram @harry_mdj

And here the 11 things that you have to know and aware, while you were traveling in Indonesia.

Sunday, August 27, 2017

Jelajah LAOS (Luang Prabang & Vientiane): CULINARY



for more pictures, please check my Instagram @harry_mdj

Sekitar tahun 2012 atau 2013, seorang teman baik bernama Dina Rosita (yupe, Dina @duaransel) mengirimkan sebuah post card dengan gambar sebuah dhammasala (aula berdoa bagi umat Buddha Theravada) yang dipenuhi oleh para Bhante (Bhikkhu/Biksu) yang terlihat sedang mengalunkan puja.

Gue ingat banget, waktu itu Dina sedang mengadakan kuis atau apa gitu, dengan hadiah kiriman post card langsung dari Luang Prabang, Laos. Gue kebetulan ga ikutan kuisnya dan ingat Dina berucap (kurang lebih), “Har kamu emang ga ikutan kuis, tapi aku kirimin post card nih. Pas lihat kartu pos itu, kok tetiba ingat kamu.” Gue menerima post card itu setelah beberapa lama, gembira dan sempat menempel post card tersebut untuk waktu yang lama di dinding kubikel gue di kantor.

Layaknya sebuah ramalan yang terkabul, scenery dalam kartu pos itu akhirnya gue saksikan dan rasakan dengan mata telanjang gue pada tanggal 13 Agustus 2017 ini. Dhammasala dari Wat Xieng Thong, yang meski tanpa para Bhikkhu, masih sama scenery-nya dengan kartu pos yang gue terima dari Dina beberapa tahun yang lalu. Dan inilah catatan gue selama Jelajah cepat Laos. Yupe, bukan cerita, tapi catatan kecil.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.
***
ALL ABOUT LAOS (CULINARY)
***

Saturday, August 26, 2017

Jelajah LAOS (Luang Prabang & Vientiane): DESTINATION



for more pictures, please check my Instagram @harry_mdj

Sekitar tahun 2012 atau 2013, seorang teman baik bernama Dina Rosita (yupe, Dina @duaransel) mengirimkan sebuah post card dengan gambar sebuah dhammasala (aula berdoa bagi umat Buddha Theravada) yang dipenuhi oleh para Bhante (Bhikkhu/Biksu) yang terlihat sedang mengalunkan puja.

Gue ingat banget, waktu itu Dina sedang mengadakan kuis atau apa gitu, dengan hadiah kiriman post card langsung dari Luang Prabang, Laos. Gue kebetulan ga ikutan kuisnya dan ingat Dina berucap (kurang lebih), “Har kamu emang ga ikutan kuis, tapi aku kirimin post card nih. Pas lihat kartu pos itu, kok tetiba ingat kamu.” Gue menerima post card itu setelah beberapa lama, gembira dan sempat menempel post card tersebut untuk waktu yang lama di dinding kubikel gue di kantor.

Layaknya sebuah ramalan yang terkabul, scenery dalam kartu pos itu akhirnya gue saksikan dan rasakan dengan mata telanjang gue pada tanggal 13 Agustus 2017 ini. Dhammasala dari Wat Xieng Thong, yang meski tanpa para Bhikkhu, masih sama scenery-nya dengan kartu pos yang gue terima dari Dina beberapa tahun yang lalu. Dan inilah catatan gue selama Jelajah cepat Laos. Yupe, bukan cerita, tapi catatan kecil.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.
***
ALL ABOUT LAOS (DESTINATION)
***

Thursday, August 24, 2017

Jelajah LAOS (Luang Prabang & Vientiane): GENERAL



for more pictures, please check my Instagram @harry_mdj

Sekitar tahun 2012 atau 2013, seorang teman baik bernama Dina Rosita (yupe, Dina @duaransel) mengirimkan sebuah post card dengan gambar sebuah dhammasala (aula berdoa bagi umat Buddha Theravada) yang dipenuhi oleh para Bhante (Bhikkhu/Biksu) yang terlihat sedang mengalunkan puja.

Gue ingat banget, waktu itu Dina sedang mengadakan kuis atau apa gitu, dengan hadiah kiriman post card langsung dari Luang Prabang, Laos. Gue kebetulan ga ikutan kuisnya dan ingat Dina berucap (kurang lebih), “Har kamu emang ga ikutan kuis, tapi aku kirimin post card nih. Pas lihat kartu pos itu, kok tetiba ingat kamu.” Gue menerima post card itu setelah beberapa lama, gembira dan sempat menempel post card tersebut untuk waktu yang lama di dinding kubikel gue di kantor.

Layaknya sebuah ramalan yang terkabul, scenery dalam kartu pos itu akhirnya gue saksikan dan rasakan dengan mata telanjang gue pada tanggal 13 Agustus 2017 ini. Dhammasala dari Wat Xieng Thong, yang meski tanpa para Bhikkhu, masih sama scenery-nya dengan kartu pos yang gue terima dari Dina beberapa tahun yang lalu. Dan inilah catatan gue selama Jelajah cepat Laos. Yupe, bukan cerita, tapi catatan kecil.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

***
ALL ABOUT LAOS (GENERAL)
***

Wednesday, August 23, 2017

Jelajah LAOS (Luang Prabang & Vientiane): ITINERARY dan REALISASI BIAYA



For more pictures, please check my Instagram @harry_mdj
Sekitar tahun 2012 atau 2013, seorang teman baik bernama Dina Rosita (yupe, Dina @duaransel) mengirimkan sebuah post card dengan gambar sebuah dhammasala (aula berdoa bagi umat Buddha Theravada) yang dipenuhi oleh para Bhante (Bhikkhu/Biksu) yang terlihat sedang mengalunkan puja.

Gue ingat banget, waktu itu Dina sedang mengadakan kuis atau apa gitu, dengan hadiah kiriman post card langsung dari Luang Prabang, Laos. Gue kebetulan ga ikutan kuisnya dan ingat Dina berucap (kurang lebih), “Har kamu emang ga ikutan kuis, tapi aku kirimin post card nih. Pas lihat kartu pos itu, kok tetiba ingat kamu.” Gue menerima post card itu setelah beberapa lama, gembira dan sempat menempel post card tersebut untuk waktu yang lama di dinding kubikel gue di kantor.

Layaknya sebuah ramalan yang terkabul, scenery dalam kartu pos itu akhirnya gue saksikan dan rasakan dengan mata telanjang gue pada tanggal 13 Agustus 2017 ini. Dhammasala dari Wat Xieng Thong, yang meski tanpa para Bhikkhu, masih sama scenery-nya dengan kartu pos yang gue terima dari Dina beberapa tahun yang lalu. Dan inilah catatan gue selama Jelajah cepat Laos. Yupe, bukan cerita, tapi catatan kecil.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.
***
ITINERARY dan REALISASI BIAYA
***