Friday, April 24, 2015

Turning Point - Coffee Shop



Sebuah siang yang berangin di belahan sisi wilayah Gading Serpong.

Selepas makan siang, atas rekomendasi seorang teman, kami memutuskan untuk meneguk kopi pahit yang menyegarkan demi melawan reaksi kantuk dari perut yang penuh. Atas dasar rekomendasi teman yang sama pula, kami memasuki sebuah coffee shop yang cukup luas. Awalnya kami tidak memperhatikan adanya coffee shop di area itu karena coffee shop itu tidaklah mencolok di antara deretan ruko-ruko berlantai 2 yang berjajar panjang memagari jalan raya boulevar.

Tulisan “Turning Point” dan informasi operating hour, kami lihat tertulis kecil di samping pintu masuk.

Tampak depan, Turning Points, merupakan sebidang tembok dengan cat warna putih polos di lantai dasar dengan hiasan jendela yang lebar berkusen hitam dengan kaca-kaca bening yang sekelumit memperlihatkan interior dalam coffee shop.

Wednesday, April 22, 2015

My "27 Things You Need To Do Before You Settle Down"



This morning I watched some random awesome video on my smart phone about 27 Things You Need To Do Before You Settle Down and here is my achievement,

1.  Travel with your BFFs - done (couple times)
Mostly I traveled with at least one of my BFFs.
2.  Learn to cook - done (since teens)
I learnt and have cooked since I was a teenager.
3.  Be financially independent - done (I am)
I have been 100% financially independent since I was 24 years old.
4.  Face one of your biggest fears - done (snorkeling, and now i love it!)
I never wanted to do some snorkeling. Deep water was too frightening for me. In October 2012, one of my best friends finally convinced me to put my life vest on, and jumped into the water and never moved from boat’s stair. I did snorkeling with one of my hands always holding onto the stair.  
5.  Live alone - done (since 2002)
I have lived alone since year 2002.

Saturday, December 20, 2014

Gasing dan Kelereng



The Next Generation of Harapan Jaya

Speed boat yang kami gunakan merapat ke dermaga kayu sederhana itu. Beberapa detik saya habiskan untuk melihat sekeliling dermaga dan hari masih jauh dari kata senja.

“Har, abis naruh barang, ke warung lagi yuk” ajak Aria.
“Yuk, sekalian minum yang dingin-dingin” timpal saya.

Tak membuang waktu lama berjalan ke penginapan, menaruh barang dan kembali melewati deretan rumah di desa kecil ini, menuju ke satu-satunya warung yang menjual minuman dingin karena hanya warung itu yang mempunyai lemari pendingin. Kali ini kami tidak berdua saja tetapi dikuntit oleh tiga teman seperjalanan lainnya: Anna, Prue dan Ferry.

Sunday, December 14, 2014

Catatan Semalam di Yogyakarta



Tugu - Yogyakarta
Kakiku melangkah menuruni gerbong kereta dan menjejakkan telapak kakiku di stasiun ini, lagi. Semua potongan-potongan memori lama berkelebatan layaknya pemandangan yang terpigura berlari menjauh dari jendela kereta tadi. Stasiun ini bergeming dalam keramaian ratusan orang yang berjalan lalu lalang melaluiku. Ada saat aku berdiri diam dan menyerap semua dalam indraku yang sadar.

“Har, ayo.” Seru seorang teman seperjalanan menggugah kegeminganku.
Setapak demi setapak kaki ini melangkah mengikuti kaki-kaki lain yang berjalan keluar dari stasiun ini. Di luar matahari bersinar cerah dengan riak awan membentuk noda-noda putih di langit yang biru cerah.

“Mas, taxi?” tawar seorang sopir taxi. Dan aku sadar kota ini menyapaku, memberikan senyuman selamat datang kembali melalui raga seorang sopir taxi.
Delapan tahun lebih sejak terakhir kalinya aku melebur dalam irama kota ini, meninggalkan semua canda, tawa, tangis, amarah dan gairah.

“Welcome back.” Bisikku lirih kepada jiwaku yang sangat merindu akan kota ini, Kota Yogyakarta.

Sunday, November 16, 2014

Penjelajahan ke Misool, Raja Ampat, Papua Barat, Indonesia Tercinta

at the top of Harfat Jaya, photo credit Anna
“Dermaga Dom” kata Pak Anes, salah seorang sopir taxi dari iringan beberapa taxi yang mengantar kami ke salah satu dermaga di Kota Sorong dari Bandara Dominique Edward Osok, Papua Barat.

Berasal dari beberapa penjuru kota di Indonesia dan terbang dengan beberapa maskapai penerbangan, untuk mencapai sebuah titik kecil di peta nusantara pada sinaran matahari yang berbeda Akhirnya kami bertemu di ujung dermaga ini. 17 orang yang rata-rata asing terhadap satu sama lain. 17 orang yang dipertemukan oleh garis jodoh tipis karena kegemaran yang sama, yaitu perjalanan dan alam serta Tukang Jalan haha.
view from Dermaga DOM
***
Kami berlayar membelah perairan Raja Ampat, menuju ke Gugusan Pulau Misool. Saya, Henny, Anna dan Aria, duduk di sisi belakang speed boat dengan bonus sinar matahari timur yang menyengat dan hempasan angin laut yang segar. 

Yah kami telah disambut, dan alam Papua pun mengucapakan selamat datang.