Sunday, December 14, 2014

Catatan Semalam di Yogyakarta



Tugu - Yogyakarta
Kakiku melangkah menuruni gerbong kereta dan menjejakkan telapak kakiku di stasiun ini, lagi. Semua potongan-potongan memori lama berkelebatan layaknya pemandangan yang terpigura berlari menjauh dari jendela kereta tadi. Stasiun ini bergeming dalam keramaian ratusan orang yang berjalan lalu lalang melaluiku. Ada saat aku berdiri diam dan menyerap semua dalam indraku yang sadar.

“Har, ayo.” Seru seorang teman seperjalanan menggugah kegeminganku.
Setapak demi setapak kaki ini melangkah mengikuti kaki-kaki lain yang berjalan keluar dari stasiun ini. Di luar matahari bersinar cerah dengan riak awan membentuk noda-noda putih di langit yang biru cerah.

“Mas, taxi?” tawar seorang sopir taxi. Dan aku sadar kota ini menyapaku, memberikan senyuman selamat datang kembali melalui raga seorang sopir taxi.
Delapan tahun lebih sejak terakhir kalinya aku melebur dalam irama kota ini, meninggalkan semua canda, tawa, tangis, amarah dan gairah.

“Welcome back.” Bisikku lirih kepada jiwaku yang sangat merindu akan kota ini, Kota Yogyakarta.

***
Bersama teman seperjalanan lain (Candy, Hardi dan Donal), aku memutuskan untuk berlibur akhir pekan di Yogyakarta. Alih-alih menggunakan pesawat atau kereta api executive, kami memilih mencoba sensasi baru yaitu: kereta api ekonomi. Kereta api ekonomi yang sekarang ber-ac dan menggunakan nomor tempat duduk tanpa ada pedagang-pedagang dan pengamen yang tiada habisnya silih berganti melewati gerbong demi gerbong mencoba mengumpulkan rupiah.
Nyaman, tapi entah terasa ada yang hilang dari ketidak-nyamanan hiruk pikuk mereka. Ah tapi pemandangan penumpang bergoleran di sela-sela bangku tegak 90 derajat dan di sepanjang lorong gerbong, beralaskan koran masih terlihat.

Entah berapa jam kami habiskan dalam mencari posisi yang nyaman. Menjejakkan kaki ke depan, mencondongkan tubuh ke samping, menekukkan kaki ke sana kemari, sampai akhirnya kami memasuki Stasiun Tugu, dimana kami memutuskan untuk turun daripada mencapai stasiun akhir yaitu: Stasiun Lempuyangan.
mencoba meniup bantal, tapi perutnya yang mlembung :'(
 ***
Aku memandang keluar jendela, mencoba mencari kenangan-kenangan lama dalam setiap sudut kota yang terjelajahi, dalam mobil sewaan yang meluncur membelah Yogyakarta. Mencoba mengerti mengapa begitu banyak perubahan modernisasi di kota ini. Okay, aku egois dan aku lebih suka Yogyakarta yang dulu, tapi yakinnya inti dan jiwa kota ini masih sama seperti yang dulu.

“Kemana kita nih?”
“Makan dong, laper beut nih!”
“Ya udah, sesuai plan yah. Yuk cus ke Gudeg Bu Atmo.”
Dengan ingatanku yang rabun dan tambahan petunjuk Candy, akhirnya Donal memarkirkan mobil di depan Gudeg Bu Atmo, yang seingatku tak berubah dari delapan tahun yang lalu.

Gudeg Bu Atmo (Song Djie) selalu menjadi gudeg favorite-ku dan suapan-suapanku membuktikan kenikmatannya tidak berubah dengan harga yang jelas lebih mahal tapi masih terjangkau. Gudeg Bu Atmo tidak seperti gudeg khas Yogya dengan merk yang mentereng terkenal dengan satu rasa, manis! Gudeg Bu Atmo menurutku pas sekali peraduannya. Manisnya areh dan nangka bercampur dengan gurih lembutnya daging ayam serta pedasnya krecek.
“Ini beneran mantap bro!” kata Donal diantara kunyahannya.
“Nah kan! Selain di Godean, kalo malem buka juga di Malioboro bro, depan jalan Ketandan.” Timpalku.
Jawara! Nasi gudeg, krecek, tahu, telor, tempe dan paha ceker
 ***
Meninggalkan kecapan nikmat gudeg, Donal memacu mobil sewaan kami menuju ke Kaliurang.
“Taman bermain itu masih sama, tak berubah” bisikku dalam hati, ketika melewati jantung Kaliurang, menuju Museum Ullen Sentalu.
Melewati taman bermain ini, mengundang segudang memori indah penuh gelak tawa dalam kilasan-kilasan dibenakku. Dulu, dulu sekali entah berapa puluh kali aku dan teman-teman seperjuangan melewati taman ini menuju villa yang kami sewa untuk menghabiskan akhir pekan atau hanya sekedar hang out saja di Kaliurang. Teman-teman seperjuangan, teman-teman sekantor yang mostly adalah perantauan yang mencoba peruntungan di Yogyakarta.

“Wah tempat tongkrongan teh poci-nya masih ada.” Seruku bersemangat, memandang sebidang warung rumahan yang tutup. Teh poci biasanya buka dan ramai sekali pada malam hari terutama saat malam minggu.

Tak jauh dari taman bermain, alun-alun Kaliurang julukanku, menjorok ke dalam dari jalan raya berdirilah sebuah museum, Ullen Sentalu. Museum budaya yang alih-alih dimiliki pemerintah, dimiliki oleh pribadi dan didedikasikan untuk semua pengunjung yang haus akan budaya tradisional dan sejarahnya.

Di Museum Ullen Sentalu, pengunjung akan dibagi menjadi beberapa kelompok (dalam kondisi ramai pengunjung) dan harus ditemani dengan seorang guide. Guide ini membawa kami menyusuri satu demi satu ruangan yang ada dalam museum dan menjelaskan cerita-cerita yang melekat pada koleksi benda-benda budaya yang terpajang. Koleksi didominasi oleh lukisan dan foto dari anggota-anggota keluarga empat kerajaan di Yogyakarta dan Solo. Koleksi museum juga menampilkan benda-benda lain seperti alat musik, surat-surat pribadi dan batik tradisional dengan berbagai motif.

Bagiku yang adalah penggemar cerita sejarah dan budaya, keberadaan guide ini sungguh menyenangkan karena sang guide ini sangat fasih dan tahu tentang sejarah dalam setiap koleksi benda-benda budaya di sini. Sayangnya karena pengunjung yang ramai maka sang guide agak tergesa-gesa dalam menyampaikan cerita-cerita indah itu, karena rombongan lain di belakang kami hanya terpaut lima menit saja. Walhasil, rombongan-rombangan ini seolah saling berkejaran.

Mengakhiri tour, kami diajak ke tempat terbuka dengan replika besar dari salah satu relief di Candi Borobudur. Di area relief inilah kami baru diperbolehkan mengambil foto dan bebas menghabiskan waktu menikmati keindahan tamannya.

Thanks to Hardi yang merekomendasikan tempat ini, yakinnya Museum Ullen Sentalu adalah tempat yang akan kukunjungi lagi, jika ke Kaliurang dan hopefully di hari kerja, biar sepi dan puas bertanya dan mendengarkan cerita indah para pendahulu dari sang guide.
The one and only, Ullen Sentalu
tiket masuk yang cakep
replika relief di candi Borobudur
wefie dulu bareng Donal, Candy, Hardi
 ***
Perjalanan kembali menuju kota sedikit terhambat karena 3 anak manusia teman seperjalanan, ingin mengecap jadah tempe, yang merupakan penganan khas Kaliurang.

“Lo ga mau Har?” tanya Hardi.
“Ga ah, entah dari dulu gue ga suka. Gue minum aja deh.” Jawab saya.
***
“Gila yah perubahan Yogya banyak banget, mall mulai bermunculan dimana-mana.”
“Woi, mau kemana kita?”
“Makan siang lah.”
“Yuk lunchy di Mbok Sabar.”
Memasuki kota kembali dari Kaliurang, Donal mengarahkan mobil sewaan kami ke Jalan Jagalan. Entah bawaan libur atau gimana? Tapi perut ini kapasitasnya bertambah, mungkin karena hawa sejuk di Kaliurang (alasan).

Mbok Sabar menyajikan ayam bacem yang lezat. Ayam kecoklatan yang didominasi rasa manis khas Yogya dengan lalapan segar dan sambal bajaknya, disajikan dengan nasi putih hangat. Makan hanya seperempat ekor selalu terasa kurang.
seperempat ekor, kurang deh
 ***
Sang mentari perlahan mulai condong ke ufuk barat dan perlahan lampu jalanan Yogya satu persatu mulai menerangi sisi-sisi kehidupan Yogya yang sama, yang semakin ramai menjelang petang.

Seusai check in dan beristirahat sejenak di hotel, kami memutuskan untuk berjalan menyusuri hiruk pikuknya Jalan Malioboro. Menyusuri deretan pedagang kaki lima dari ujung Hotel Garuda sampai ke Mirota Batik.

Jalanan yang dari dulu, saat masih menghuni kota ini, tak pernah dan tak akan pernah bosan kususuri. Dulu, dulu sekali entah berapa ratus kali kulalui sisi jalanan ini, bersama teman, menghantar tamu atau sendiri mencari ketenangan dalam keramaian Malioboro.

“Silakan mas, dilihat-lihat dulu.” Sambut seorang ibu penjual pernak pernik gelang dengan senyumannya yang bersahabat. Tidak ada panggilan “Koh Cik”, tidak ada sambutan ”Boleh, cari apa”, tidak ada plengosan jutek saat batal membeli. Aku sadar, senang aku telah kembali ke Yogaya, meski sedih untuk meninggalkannya lagi.
Jalan Malioboro menjelang petang
warna Malioboro
pembatik di Mirota Batik
 ***
Berlalu dari hangatnya Malioboro, kami melaju melintasi Jalan Sultan Agung untuk menembus dan mencapai Warung Makan Cak Koting untuk bersantap malam.
“Hm lupa-lupa ingat, kayaknya ini jalan tempatmu.” Batinku. Dan memori tentangmu menghampiriku seketika. Kamu yang dulu, dulu sekali pernah menjadi bunga sekali atau dua dalam hidupku di Yogya. Kamu memang bukanlah cintaku tapi yakinnya kamu tak akan terhapus dalam memori ini karena kamulah yang pertama dan kesekian bagiku. Entah kamu ada dimana sekarang, kita bagaikan 2 insan yang bebas tak menuntut dan acuh satu sama lain. Mungkinkah karena sentimentil Yogya telah membuatku mendadak rindu dan ingin bersua, meski ku tahu engkau telah tertambat di pelabuhannya.
***
“Haiiiii” seru seorang cewek manis berhijab.
“Halo Reeeee, haha akhirnya ketemu juga.”
“Rereeeeee.”
Di tengah menikmati sedapnya gigitan pedas sambal Cak Koting, muncullah yang ditunggu-tunggu. Teman kami Rere dalam kesibukannya menyempatkan diri untuk bersua dengan kami, melaju dengan motornya dari Bantul.

Acara santap malam di Cak Koting menjadi lebih sedap dengan kehadiran dan celoteh Rere, salah satu “adik kecil” kami di private group pejalan (Travel Troopers).

Cak Koting, sudah ada dan menjadi favorite sejak dulu. Lokasi di depan (bekas) Bioskop Mataram (bukan Jalan Mataram). Warung yang dulunya luas sekali, entah kenapa sekarang menjadi mengecil, tetapi “dapur”-nya menjadi lebih modern. Cak Koting menyajikan Soto Sulung dan aneka ragam penyetan dari bebek, ayam, tempe sampai jerohan sapi macam babat dan paru. Lezat, apalagi disantap dengan sambal penyetan Cak Koting yang pedas menggigit.
***
“Jadi kita ke House of Raminten?”
“Eh jadi dong, penasaran ama gosipnya haha.”
*kasak kusuk bahas gosip seputar House of Raminten*

Dan tak berapa lama, kami telah bergabung dengan puluhan pengunjung lain dalam antrian di House of Raminten yang heitz di Yogya. Sambil menunggu tempat kami dipersiapkan, kami menumpang kamar kecil dan melewati 3 kandang kuda. Literally 3 kandang kuda dengan 3 ekor kuda poni di masing-masing biliknya. 1 ekor kuda cukup jinak untuk dibelai sedikit kepalanya, 1 ekor kuda sangat agresif terhadap orang asing dan 1 ekor kuda yang cuek dan membelakangi kami.

Sesaat tak lama antri, akhirnya ada meja kosong dan telah dipersiapkan untuk kami. Duduk mengelilingi meja bulat dan bertukar kalimat bersama dengan seorang teman lagi, Isna, yang merupakan salah satu teman seperjalananku ke Raja Ampat tempo hari.

House of Raminten menyajikan beberapa menu yang cukup beragam dengan pelayanan yang baik. Environment-nya asik buat hang out dan ditunjang dengan harga makanan dan minuman yang terjangkau.
***
Malam semakin larut dan larut tapi tak menyurutkan antrian di House of Raminten. Batin ini kembali diterjang dengan kerinduan yang sangat dalam akan teman-teman seperjuangan yang telah tercerai berai, menyusuri jalan kehidupannya masing-masing. Entah kapan dan bagaimana kami akan bisa bersua bersama kembali. Saat ini semuanya terlihat tak mungkin meski hati ini masih menyimpan harapan. Beberapa orang masih terhubung dengan social media, meski tak ada lagi komunikasi. Sebagian hilang raib entah kemana, terputus oleh jalan yang terlalu bersimpang. Sebagian lagi masih menjaga jalinan persahabatan meski tak se-intens layaknya masa lampau.

Sahabat lama, jikalau kau membaca tulisan ini, kiranya tahulah bahwa seseorang sangat merindukan kalian. Mencoba memetakan kembali potongan-potongan memori terdahulu, merangkainya dalam lusinan kenangan cerita yang tak lekang oleh waktu, sebatas nafas ini berhembus dalam raga.

Sahabat lama, jikalau kau membaca tulisan ini, mungkinkah kalian merasakan kerinduan yang sama. Dulu, dulu sekali pernah ada cerita tawa, tangis, canda dan amarah yang terangkai menjadi sesuatu yang sempurna dalam ketidak kesempurnaan hidup bagi kisah kita dalam kehidupan yang ini.

Sahabat lama, apakah mungkin kita akan bersua, berkumpul kembali, menangis dan tertawa bahagia bercerita akan masa lalu dan menerawang masa yang akan datang. Mungkinkah? Meski hanya satu kali saja sepanjang sisa nafas kita.

Dedicated to Gang Hore – Yogyakarta (2002 – 2005)

No comments:

Post a Comment