Saturday, December 20, 2014

Gasing dan Kelereng



The Next Generation of Harapan Jaya

Speed boat yang kami gunakan merapat ke dermaga kayu sederhana itu. Beberapa detik saya habiskan untuk melihat sekeliling dermaga dan hari masih jauh dari kata senja.

“Har, abis naruh barang, ke warung lagi yuk” ajak Aria.
“Yuk, sekalian minum yang dingin-dingin” timpal saya.

Tak membuang waktu lama berjalan ke penginapan, menaruh barang dan kembali melewati deretan rumah di desa kecil ini, menuju ke satu-satunya warung yang menjual minuman dingin karena hanya warung itu yang mempunyai lemari pendingin. Kali ini kami tidak berdua saja tetapi dikuntit oleh tiga teman seperjalanan lainnya: Anna, Prue dan Ferry.

Menunggu senja datang di warung “gaul”, bertemankan sebotol minuman dingin. Kami duduk di bangku kayu panjang di depan warung, sembari terkadang memainkan kamera kami untuk mengabadikan moment-moment yang tertangkap oleh jendela hati.

Pemandangan dari warung, teduh dan indah, khas Misool. Dan pemandangan ini menjadi lebih indah dan hidup takala moment-moment lain membaur dengan alam Misool. Anak-anak kecil berhamburan di sepanjang jalan kecil yang memisahkan deretan rumah penduduk dari pantai, berceloteh dan bermain seolah hari itu menjadi hari yang paling membahagiakan buat mereka. Rombongan pekerja berduyun-duyun turun dari kapal angkot, berjalan menyusuri dermaga kayu untuk mencapai kerajaan kecilnya, membuat keindahan yang hidup ini nyata. Tak hanya mem”bongkar-muat” pekerja, sang empunya kapal angkot juga masih meneruskan dengan membongkar muat kebutuhan sehari-hari baik dari pulau sebelah, pulau ini maupun pulau kecil berpenghuni lainnya.
pulang kerja
Kapal Angkot
Loading after Unloading
pulang
yang narsis nongsis pun ada :D
“Aduh cantik banget, namanya siapa?” tanya Anna kepada seorang gadis cilik yang tampak segar habis mandi dan sedikit pendiam.
“Ami.” Jawab si gadis cilik.
Dan percakapan kedua gadis cantik ini berlanjut dan berakhir dengan bando pink cantik untuk Ami dari Anna, yang langsung dikenakan oleh Ami, menghiasi rambut legamnya.

Saya sudah bertemu dengan Ami di hari sebelumnya. Ami sempat menarik perhatian saya dan Aria karena si Ami ini ternyata jago membuat gasing dari janin buah kelapa, potongan karet gelang dan sebatang lidi pendek. Saya masih ingat, Ami membuat gasing-gasing kecil lucu itu dan membagikan ke anak-anak yang lebih kecil.
sharing is love
Sempat Ami bercerita kepada kami, sambil memungut satu buah yang entah apa namanya, bahwa jika mereka, anak-anak Harapan Jaya, tidak memiliki uang untuk membeli kelereng, maka buah itu akan menggantikannya. Buahnya berbentuk bulat sempurna dengan warna dan tekstur kulit seperti kelengkeng/longan tetapi memiliki ukuran sedikit lebih besar.

Dari awal mula memasuki desa kecil ini, saya telah melihat beberapa permainan favorite anak-anak Harapan Jaya. Selain permainan tanpa alat apapun yang terdiri dari nyanyian dan gerakan tari, mereka juga gemar sekali bermain kelereng (gundu) dan lompat tali karet gelang.

Tak heran pada saat hari pertama tiba, Prue yang telah kali kedua ke desa kecil ini, membawa beberapa mobil mainan kecil untuk dibagikan, yang disambut dengan gembira.

Ingin rasanya saya juga mempunyai sesuatu yang bisa saya bagi demi untuk melihat binar keriaan di mata mereka.

“Kelerengnya berapaan Mbak?” tanya saya di warung sebelah warung “gaul”
“Seribu dapat delapan” jawab si mbak.
Eh murah juga yah batin saya,”Saya beli sepuluh ribu yah mbak.” Kata saya lagi. Saat kembali ke penginapan nanti, akan saya bagi ke anak-anak Harapan Jaya, yang entah karena kebiasaan atau bagaimana selalu menghabiskan sore dengan bermain di depan rumah yang kami inapi dan pada saat saya membagikan kelereng kemudiannya, anak-anak Harapan Jaya segera bergerombol mengelilingi saya dengan mengacungkan tangan berharap ada sebutir atau dua butir kelereng dari genggaman saya.

Keriaan kami menghabiskan waktu menunggu senja terakhir di Misool bertambah meriah dengan bergabungnya si bocah dengan sepuluh semangat di dalam jiwanya, yaitu Wawan. Wawan bocah yang tak pernah mengenal kata lelah dan super aktif ke sana kemari dengan senyuman ramah dan gemar menolong.
Wawan dan saya
Ami, saya dan the gasings
Selesai cemal-cemil, minum-minum dingin di warung, kami beralih ke sebidang tanah kecil disebelah warung “gaul”. Anna, Prue, Ferry dan Aria akhirnya berakhir menantang anak-anak Harapan Jaya beradu main kelereng. Pagelaran pun dibuka dan berlangsung seru meski berakhir dengan kekalahan telak om-om dan tante-tante ini dari bocah-bocah Harapan Jaya.
Wefie dulu after the game
“Ngapain Ar?” tanya saya ke Aria, yang sibuk menata 2 buah gasing Ami (julukan saya) dan 4 butir kelereng.
“Mau difoto” jawab singkat Aria.
Dan entah apa yang terjadi, saya merasakan ada sedikit genangan air mata di sudut-sudut mata saya. Penataan gasing Ami dan kelereng tersebut menyadarkan saya bahwa hanya itulah alat permainan mereka. Gasing dan kelereng itulah batas sumber kegembiraan dari mainan anak yang bisa mereka punya dan mereka begitu bahagia, tertawa lepas layaknya anak paling bahagia di bumi pertiwi ini.

Mereka tidak punya handphone, mereka tidak punya play station, mereka tidak punya tab atau ipad. Mereka tidak punya mainan lain selain alam, gasing Ami, tali karet gelang dan kelereng yang kadang tergantikan dengan buah bulat seperti kelengkeng itu. Tapi entah mengapa saya melihat mereka sepertinya memiliki semua alasan kebahagiaan yang ada di bumi pertiwi ini.

Saya iri dan rindu akan masa kanak-kanak saya dimana tidak ada handphone, ipad, tab, play station, dan lain lain. Saya bersyukur dan malu bahwa saya memiliki lebih dari mereka tetapi saya selalu menuntut lebih.

Saya hidup di kota metropolitan dan kota terbesar di Indonesia, yaitu: Jakarta. Kehidupan saya dikelilingi dengan berbagai kemewahan gedung-gedung perkantoran dan pusat-pusat perbelanjaan dari yang biasa hingga yang kelas atas.
Mereka, anak-anak Harapan Jaya, hidup di penghujung ibu pertiwi di Papua. Empat jam mengarungi lautan Raja Ampat hingga bisa mencapai dermaga kayu sederhana mereka, sebagai gerbang dari desa kecil itu. Listrik pun hanya bisa mereka gunakan selama 12 jam saja dalam satu harinya.

Kekurangan mereka merupakan kekurangan saya, dan kekurangan saya bukanlah kebutuhan mereka.

Bagi mereka, mungkin, saya adalah orang ber-duit, bagi saya mereka adalah orang yang berkekurangan materi. Saya cemburu, iri karena mereka memiliki kebahagiaan yang sesungguhnya.
Gasing dan Kelereng saat ini, tetap menjadi pengingat saya akan mereka, teman-teman kecil saya

Dedicated to Wawan dan Ami – 2 bocah generasi penerus Harapan Jaya.

No comments:

Post a Comment