Saturday, February 15, 2014

Tanjungputus, where I found my childhood’s best friend: SEA



Tanjungputus Sea
“Welcome sir, may I take your order?” the cashier at Dunkin Donuts greeted me with his big smile.
“Yeah, I like to order some cold beverage.” I replied while looking at menu board.
“Bla bla bla bla ….” The cashier directly offered me many kind of cold beverages.
“Okay, I try Green Beans Ice Blended.” I ordered.
“Donuts?” the cashier added while he was inputting my order.
“Ah, no thanks.” I replied with no no hand waves.

With a cup of green beans ice blended in my hand, I sat around the table which was full already by my friends (some are new) who joined this trip. Trip to Tanjungputus Island – Lampung – Sumatera (about 1,5 hour from Bandar Lampung City).

It’s always a pleasure and awesome to share our stories with other travelers. We talked about how we got there and the beauty of the destination itself. We compared the cost without any “cheapest” competition; just being fair compared the cost and the facilities. We shared about couple destinations that we had been visited, shared tips and information, etc.

There we were, twenty five of us, gathered and just about to start our journey with 3 hour bus-ride from West Jakarta to Merak Harbor. From The Merak Harbor we continued the journey by a ferry, crossed the Sunda Strait to Bakauheni Harbor and passed Bandar Lampung City by mini buses to Ketapang Dock. We still had to ride a wooden single motor boat to Tanjungputus Island. Yeah it was quite long journey to Tanjungputus Island from Jakarta (around 10 hour).
The worst thing was, I forgot to bring either my ipod or books, while I found that night was one of my insomnia nights.

Sunday, January 26, 2014

Aku Pernah dan Aku Diam



Kupandang wajah bulat itu di cermin.
Kupandang senyum pada kanvas wajah itu ketika segaris bulan sabit tergambar.
Kupandang semua lekuk dan bentuk wajah itu.

Ku desahkan nafasku panjang, menciptakan embun yang memburamkan bayangan di cermin.
Biarlah bayangan itu selamanya menjadi bayangan.
Biarlah bayangan itu selamanya tersembunyi dalam buram.

Pernahkah kau melakukannya? Aku pernah dan aku diam.
Terlahir sebagai anak laki-laki ke dua dalam keluarga. 
Terlahir sebagai anak laki-laki yang itu dalam keluarga.
Terlahir sebagai anak laki-laki carut dalam keluarga.
Pernahkah kau menerimanya? Aku pernah dan aku diam, inilah takdirku.

Saturday, January 04, 2014

on The Road to Ijen, Baluran and Bromo




Malam kelam dengan sedikit sinaran bulan, dihiasi oleh kerlip kecil bintang-bintang yang bertaburan di kanvas langit yang hitam. Ramainya jalan raya dengan blitz-blitz sinar lampu dari kendaraan bermotor semakin berkurang dan hilang di kejauhan, tertinggal dalam laju kami menyusuri jalanan 2 lajur, membelah daerah-daerah yang masih alami dan belum tersentuh oleh beton-beton bertingkat. Dalam bayang-bayangannya hanya tampak pantulan pohon-pohon tinggi menjulang, mencoba menyentuh langit yang konon tak berbatas.

Kujulurkan kepala ini sedikit melalui jendela mobil yang terbuka. Sejenak kurasakan hempasan udara dingin segar di paras muka telanjang ini dan melongok melihat indahnya ribuan bintang bertaburan yang tak mungkin aku nikmati setiap hari. Hidup dan tinggal dalam himpitan beton dengan udara panas berpolusi dan langit yang selalu tertutup lembayung polusi itu sendiri. Kutolehkan kepalaku ke bangku belakang dan seketika ucapanku tertahan, tersenyum melihat 5 kepala yang tergolek, dalam perkelanaannya di dunia sana, bergerak mengikuti irama goncangan mobil ini.

Sunday, November 24, 2013

Papandayan - Keindahan persembahan Ibu Pertiwi Indonesia-ku

Pemandangan di Gunung Papandayan


Kami duduk berkumpul dalam lingkaran kecil di tengah 4 tenda kami, beralasan jas hujan yang digelar menjadi pengganti tikar. Hangat dalam balutan jaket masing-masing dengan cemilan yang mulai mengisi kekosongan area tengah lingkaran kami. Saya memandang wajah-wajah yang masih menampakan keletihannya tetapi dengan sorot mata yang ceria dan bahagia menyisakan semangat berpetualang. Saya menyesap cairan kopi hitam panas yang sedikit manis, mengalir perlahan melalui gorong-gorong kerongkongan saya. Kopi hitam panas yang berkubang dalam gelas kecil saya, mengepulkan uap panasnya melayang ke atas dan berbaur dengan tirai kabut yang menyeruak masuk ke area perkemahan ini dari puncak singgasana sang tuan tanah 7 puncak pegunungan ini.

Canda dan random topic dalam obrolan petang masih mengisi waktu kami dalam suhu yang semakin dingin dan sang angin yang tak henti-hentinya bertiup seolah berputar-putar di sekeliling kami mencoba mencuri dengar apa yang tampak asyik kami bincangkan.

“Ada yang mau mie lagi?” tanya sang komandan, dan langsung dijawab berebut dengan satu kata “GUE!”
Well menu apa lagi yang terdengar lebih menggoda selain mie instant, untuk menemani raga fana ini berteman dengan udara dingin dan angin yang tak lelah mengibaskan sayap-sayapnya.

Sesiangan sebelumnya, kami berjalan dan mendaki gunung landai ini, serta membuka tenda di tanah lapang bernama Pondok Saladah, area datar yang dikelilingi oleh ilalang gunung dan semak-semak Edelweiss. Di sinilah kami berada, Gunung Papandayan.

Monday, October 28, 2013

Sofa Berpola Kotak



“Sayang, makan yuk.” ajakku.
“Yuk, kamu maunya makan apa?” dia mengiyakan dan balas bertanya.
“Apa yah? Chinese food okay juga, tapi pingin juga makan western-westernan, bingung nih, kamu ada ide ga?” jawabku tak menentu.
“Ini aja deh.” dia menyudahi jawaban pendeknya dengan melumat bibirku dalam dan lama.
…. “Gimana?” tanyanya terengah.
“Lagi!” pintaku memaksa sambil menarik jenjang lehernya kembali dan memainkan lidahku dalam mulutnya berdansa dengan lidahnya.
Sesaat bibir kami terlepas dan nafas hangatnya menderu di pipiku.
“Sayang, aku mau main course-nya.” desahku dan mulai melepas kancing-kancing bajunya.
Dia diam dalam deru nafasnya dan tanganya mulai bermain pada resleting celana jeans-ku.