Sunday, October 13, 2013

Menjilat Ragam Kuliner di Sumatera Barat

 
“Selamat datang di Padang, Sumatera Barat.” sambut Bayu, si tour guide dadakan.
*adegan dan percakapan berjabat-tangan serta basa basi*
“Bla bla bla…. “ obrolan kami berempat.
“Okay sekarang mending itinerary-nya dibalik yah, hari ini kita ke Lembah Anai dulu.” tutur Bayu.
“NO!” tolak saya mentah-mentah.
*hening dengan suasana awkward dan sedikit intense.
“Mas Harry, kita ke Lembah Anai dulu supaya menghindari jalanan macet di hari minggunya.” jelas Bayu.
“TIDAK!” tolak saya lagi.
*kembali hening sementara beberapa pasang mata saling menatap dengan enggan*
*Si Randie, diam-diam kentut*
“Kita sarapan dulu coyyyy, gue laper abissssss. Mana di pesawat kaga dikasih snack sama sekali.” lenguhan saya memecahkan kondisi hening.
*suasana menjadi ceria gegap gempita kembali, sujud syukur*

Note: adegan di atas LEBAY!

3 hari 2 malam di Sumatera Barat tentunya tidaklah kami lewatkan tanpa memuaskan dahaga akan sajian khas dari Tanah Minangkabau.

***

Bumi Sumatera Barat, Tanah Minangkabau

Lembah Harau


“Randie dimana?” tanya saya ke Octa.
“Nih gue telepon.” Jawab Octa
*percakapan telepon*
“Jadi dia sudah dimana?” tanya saya lagi ke Octa
“Tuh baru berangkat, katanya 15 menit sampai.” Jawab Octa
*menunggu Randie*

***

Mobil ini melaju cukup kencang menyusuri jalanan antar kota di Provinsi Sumatera Barat menuju ke Lembah Anai. Entah dimana tepatnya sekarang, yang pasti tak jauh dari ibukota provinsi, Kota Padang. Tepat pukul 7.55 WIB, kami bertiga (saya, Randie dan Octa) mendaratkan telapak kaki kami untuk pertama kalinya di Bandara Internasional Minangkabau.
Penjelajahan kali ini, kami akan ditemani oleh temannya teman yang akan menjadi tour guide selama penorehan jejak-jejak di Sumatera Barat.

Sementara Randie dan Octa bercakap asyik dengan sang tour guide (Bayu) mengenai lokasi-lokasi gunung di Sumatera Barat, saya menikmati slide-slide yang bergerak dengan cepat pada layar jendela mobil. Jalanan dua jalur dengan satu lajur saja pada masing-masing arah diapit oleh rumah penduduk dan petak-petah hijau bagian dari sisi paling luar hutan Sumatera. Masyarakat setempat yang tampak telah menjalankan aktifitas sehari-harinya dari tadi. Orang-orang yang sama tetapi berbeda, rumah-rumah yang sama tetapi berbeda dan kegiatan harian yang sama tetapi berbeda. Ini bagian bumi Indonesia yang lain, yang disebut Sumatera Barat.

Friday, September 06, 2013

Tanjungputus, dimana saya menemukan sahabat masa kecil saya: laut

Tanjungputus Beach


“Selamat datang Pak, bisa dibantu?” mas mas Dunkin Donuts menyapa sambil tersenyum.
“Mau pesan minum Mas?” jawab saya sambil mata tersorot menelususri daftar menu minuman.
“Bla bla bla bla …” mas mas Dunkin Donuts, mulai menawarkan beberapa macam minuman.
“Okay, saya coba kacang hijau blended-nya” jawab saya memesan, sambil menatap nanar gambar minuman berwarna hijau muda.
“Donatnya pak?” tawar mas mas Dunkin Donuts lagi, yang saya jawab dengan penolakan dengan lambaian tangan.
“Selamat Siang Pak,” sela mbak mbak kasir dambil tersenyum manis, “Bla bla bla …” lanjutnya kembali menawarkan paket dengan sepotong donat dan kembali saya tolak.

Dengan tangan menggenggam segelas minuman, saya pun meleburkan diri ke gerombolan pejalan yang akan berkelana menjelajah area Pulau Tanjungputus – Lampung (1.5 jam dari Kota Bandar Lampung).

Monday, August 26, 2013

Liburan dimana? Iya di Taman Nasional Ujung Kulon



Sinar cerah matahari siang menyengat semua jengkal kulit yang tak berselimutkan. Terbuai dalam ombang-ambing ombak kecil dan semilir angin laut, terayun dalam buaian keindahan celah kerajaan Poseidon.

Sunyi tanpa suara durukduk dari mesin motor kapal kayu, kami terdampar di tengah lautan. Yupe, sang empunya daya mengalami kendala sehingga kehilangan lajunya. Detik pada jam tangan terus berputar lewat 60 menit atau lebih, dan kami masih memandang bagian langit yang sama, di petak laut yang sama. Sebagian dari kami memilih berkunjung ke lembah utopis dalam lelap dan sebagian lainnya hanya memandang menyerap pemandangan laut hijau biru kelam dalam nyenyat.

“DUK … duk … dukduruduk dukdukduk” batuk dan erang sang motor memecah keheningan panjang yang disambut dengan seruan gembira para penumpang. Perjalanan kami pun berlanjut dari awal Desa Taman Jaya – Ujung Kulon menuju ke Pulau Peucang – Ujung Kulon.

Saturday, August 03, 2013

Mount Halimun National Park, Where Everthing is Perfect in Imperfection

WELCOME


I heard Sundanese music being played, not far from where I was sitting, from the sounds of Sundanese’s traditional flute to the beat of Jaipong’s melody. The wind softly blew and touched my skins, brought another kind of peace in my soul. My eyes, which were familiar with the horizon turned into red on the roof tops and skyscrapers, never had enough to watch all the rice fields, tea plants, the border of rain forest and a small river passing this small village.      

Laying down on patio, enjoying my early lunch with my new fellow travel buddies. Sharing stories and laughing like an old friends without any judgment. The conversation just flew to where it’s flown away.

I need this kind of break, from the hectic office hour with its tiring politic which make smile loses its meaning. Now I smile and somehow I knew the smile was truly a smile.

We were twelve (from friend asking friend), finally put our footsteps in Halimun Mountain National Park – Malasari Village (Halimun). Umro, Setyawan, Erin, Chiss, Tika, Octa, Adi, Dian, Nat, Eka, Inda and I. This is my story about us in Halimun. 
friend asking friend