Sunday, September 25, 2016

Jelajah Turki - Istanbul bagian 2 (end)




Semilir angin berhembus mencoba membujuk kelopak mata agar menutup dan menghantar jiwanya berkelana dalam dunia lelap. Debur air terhempas ke lambung kapal bercampur dengan suara dari mesin kapal yang halus dan celoteh para penumpang-penumpang kapal ini, menciptakan melodi monoton yang membius. Saya berjuang untuk melawan lelap dalam diam dan mencoba menyerap semua kenikmatan sensasi ini. Saya bahkan enggan untuk bergerak dari bangku yang saya duduki. Meski sesekali saya bidikan camera dengan malas-malasan kepada beberapa obyek yang menarik, tanpa merubah posisi duduk.
 
“Cay? Cay?” seru pramusaji menawarkan gelas-gelas bening mungil berbentuk tulip khas Turki yang berisikan teh panas. Pramusaji-pramusaji ini berkeliling terus tanpa henti membawa segala barang dagangan dari kapal pesiar ini bergerak menuju ke calon-calon pembeli impulsive. Cay, orange juice, penganan lainnya, silih berganti bersliweran sesekali melewati saya secara berkala.

Pemandangan yang ditawarkan oleh jalur kapal pesiar ini sangat menarik dan menggugah rasa ingin tahu. Kantuk yang sempat menggoda, timbul tenggelam dan gagal membuat lelap, terkalahkan dengan pesona Selat Bosphorus dan bangunan serta landscape yang mengapitnya. Ini saatnya Jelajah Turki Istanbul, dilanjutkan. 

***
Pagi kedua di Istanbul kami buka dengan menikmati breakfast sederhana. Setelahnya kami mulai bergerak melangkahkan kaki dan memainkan Istanbul Kart menuju ke pemberhentian pertama, yaitu: Dolmabahce Palace.

card sakti, bisa buat belanja di mini market dan pipis di WC umum
Dolmabahce adalah istana baru dan terakhir dari masa-masa pemerintahan kesultanan hingga tahun 1924. Istana ini kemudian juga menjadi pusat administrasi dan tempat tinggal pribadi dari Presiden pertama dan kedua Republik Turki. Dolmabahce mempunyai 2 bagian gedung utama, yaitu: harem yang merupakan tempat tinggal pribadi dari sultan dan presiden yang berkuasa bersama dengan keluarganya; dan kantor kenegaraan dimana sultan dan presiden yang berkuasa menjalankan tugasnya dan menerima tamu kenegaraan. Saat ini istana telah menjadi museum dan dibuka bagi umum yang ingin menikmati keindahannya. Di bagian kantor kenegaraan, saya hanya melongo dan melongo melihat keindahan konstruksi dan interior dalam istana tersebut. Chandelier-chandelier yang terbuat dari kristal mendominasi langit-langit ruangan-ruangan besar. Sementara itu, guratan ukir-ukiran bersepuh emas seolah menantang menunjukkan keanggunannya yang angkuh dan berkilau. Sayangnya di bagian dalam semua ruangan di Dolmabahce tidak diijinkan untuk mengoperasikan camera dalam bentuk apapun. Sungguh sayang, saya tidak bisa mengabadikan Bohemian Crystal Chandelier terbesar di dunia, seberat 4,5 ton, yang sangat indah dan bagaikan ratu bertahta di tempatnya, menjadi bintang dari Ceremonial Hall.

gerbang utama Dolmabahce
gerbang tengah istana
gerbang samping Dolmabahce
Beranjak ke bagian Harem, ruangan-ruangan tampak lebih sederhana dibandingkan dengan kantor kenegaraan. Layaknya istana, Dolmabahce di bagian Harem juga banyak sekali memiliki ruangan-ruangan, kamar-kamar, dari peruntukan ibu suri, permaisuri, selir-selir sampai dengan ruangan-ruangan pribadi para sultan. Di bagian Harem ini pula terdapat kamar yang menjadi tempat meninggalnya seorang pria yang paling dicintai oleh rakyat Turki, Mustafa Kemal Ataturk. Dolmabahce juga memiliki taman-taman, air mancur-air mancur, dan gerbang-gerbang yang indah. Tak ketinggalan pula indahnya pemandangan Selat Bosphorus menjadi sebuah pemandangan panoramic yang susah untuk diabaikan keindahannya.

salah satu taman di Dolmabahce
sisi istana yang menghadap Bosphorus
Dari Dolmabahce, kami melanjutkan jelajah kami menyusuri sebuah jembatan yang sangat terkenal dan menjadi landmark di Istanbul, yaitu: Galata Bridge. Sebuah jembatan yang melintasi Golden Horn, di mana dari pagi hingga sore banyak sekali orang-orang yang memancing dari atas jembatan. Di lantai bawah jembatan juga berjajar restaurant-restaurant yang buka dari sejak menjelang tengah hari. Sementara itu di sisi Eminonu juga terdapat 3 perahu kayu yang berlabuh di sisi dermaga yang sangat ramai dikunjungi. Perahu-perahu kayu tersebut tak lain tak bukan adalah penjual fish sandwich legendaris Istanbul yang bernama Balik Ekmek.
pemancing di Galata Bridge
Perahu kayu penjual Balik Ekmek
Sejengkal dari kerumunan pembeli balik ekmek, terdapat loket yang menjual tiket river cruise di Selat Bosphorus yang memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Sesaat kemudian kami telah duduk di deck paling atas dari kapal pesiar ini dan menikmati pemandangan dan semilir angin segar Bosphorus. Dari cruise ini kami bisa melihat Dolmabahce Palace secara utuh dari sisi Bosphorus, kami juga melewati jembatan-jembatan yang menghubungkan benua Eropa dan benua Asia di Istanbul, menyaksikan rumah-rumah di pinggiran Bosphorus yang sangat  indah dengan dermaga pribadi dan taman kecilnya, melihat kegagahan tembok-tembok kuno pertahanan kota, deretan rumah-rumah penduduk yang berdiri menyusuri lembah dari kontur daratan, dan bahkan bangunan-banguna lain di sisi selat yang tampak mulai terlupakan.

benteng pertahanan kota
another palace di Istanbul
Maiden's Tower
Dolmabahce Palace
1,5 jam yang menyenangkan dan 1,5 jam untuk telapak kaki ini beristirahat total. Dari sini kami mencoba menjajal balik ekmek sebagai menu makan siang. Enak, segar dan very healthy.

Balik Ekmek
rame bener yang makan
Perut kenyang dan kami siap untuk berbelanja, dimana lagi jika bukan, di Grand Bazaar. Grand Bazaar adalah salah satu pasar tertutup (di dalam gedung) yang terbesar dan tertua di dunia, dengan 61 lorong dan lebih dari 4.000 toko, yang dibangun mulai dari tahun 1455. Sangat cocok sekali untuk shopping mulai dari souvenir, kaos, penganan-penganan khas Turki, karpet, chandelier, dan masih banyak lagi. Ah saya seolah tak ingin beranjak pergi dari pasar ini. Lorong-lorong yang bersih tanpa bau, dimana semua orang nampaknya menyapa kita untuk singgah di tokonya, jajaran souvenir beraneka ragam dan warna, sangat-sangat indah. Meski tidak berbelanja banyak tapi saya sangat menikmati berjalan perlahan-lahan melalui lorong-lorong yang literally menyesatkan ini. Tak cukup rasanya bagi saya untuk hanya menghabiskan waktu selama 2 jam saja.

salah satu Gate masuk ke Grand Bazaar
kaos-kaos murah dengan kualitas lumayan
labirin Grand Bazaar
fountain untuk umum di dalam Grand Bazaar
crowded tetapi udara tetap sejuk dan tidak pengap
Meski tak ingin beranjak, tetapi Grand Bazaar tutup pada pukul 7 malam dan saya (berpisah dengan teman seperjalanan) menggunakan tram untuk menuju ke Sirkeci. Lokum atau Turkish Delight adalah penganan manis yang sangat khas dan identk dengan Negara Turki. Di Sirkeci saya bisa menemui 2 toko yang sangat terkenal dengan lokum-nya yaitu: Ali Muhiddin Haci Bekir (sejak 1777) dan Hafiz Mustafa (sejak 1864). Lokum di kedua tempat ini jelas mempunyai harga yang lebih mahal daripada yang ditemukan dan dibeli di Grand Bazaar, tetapi jelas lebih enak. For me, yang paling enak adalah lokum delima yang saya beli di toko penganan (dalam itinerary Green Tour) yang saya kunjungi di Cappadocia.

Haci Bekir, Lokum
Hafiz Mustafa, dessert house
***

Dengan membawa beberapa kantong belanja, sejenak saya duduk di Hippodrome, mencoba meredakan penat di telapak kaki saya. 

Hippodrome Square
Obelisk di Hippodrome
“Ah ga sempat lagi deh masuk ke Blue Mosque. Besok pagi deh sebelum ke airport” benak saya berbicara kepada diri saya sendiri.

di dalam Blue Mosque
latar belakanga da hall utama Blue Mosque
“Malam terakhir di Istanbul, malam terakhir di Turki dan malam terakhir dari liburan kali ini” batin saya, “semoga bisa kembali ke sini, entah kapan, entah bagaimana. Tapi harus!”

Matahari semakin condong ke barat dan bergerak menuju timur di sisi bumi yang lain. Sayap-sayap pijar api mulai bertebaran dan menyisakan saputan cahaya keemasan yang terkadang bersemu ungu di langit Istanbul. Saya menghisap kembali rokok di tangan dan menghembuskannya perlahan, sementara mata saya dengan santai menikmati pemandangan di Hippodrome yang sarat akan insan-insan dengan gelak tawa dan aktivitas petang di hari minggu ini.


Esok saya dan teman seperjalanan akan terbang dan meninggalkan Turki untuk kembali ke tanah air. Secuil hati ini akan tertinggal di Turki, dan akan tetap di sana. Biarlah demikian, karena itu akan menjadi alasan bagi saya untuk kembali lagi ke sini. Mencari secuil hati yang tertinggal entah di mana? Di Istanbul atau di Goreme.

***

Detail: Itinerary, Tips and Fun Facts
More pictures on my Instagram Harry_Mdj 


No comments:

Post a Comment