Friday, September 16, 2016

Jelajah Turki - Ephesus, Selcuk



Ephesus
Semburat cahaya dari matahari memantul memukau ke arah laut dan langit yang berawan. Tersaput kelambu tirai cahaya keemasan di langit dan perak di permukaan Laut Aegean, dengan bidang horizon sebagai pembatas tengah kanvasnya. Mobil yang kami tumpangi melaju melalui jalanan tepi laut, menyusuri Kusadasi. Jalanan yang memisahkan deretan komersial dengan pasir pantai yang tampak sangat menggoda. Kusadasi, sebuah kota kecil yang ramai dengan jajaran toko, restaurant dan hotel di sepanjang jalan. Sementara di dataran yang sedikit lebih tinggi, nampak tonjolan-tonjolan hunian penduduk yang berjejalan rapi.

Saya duduk di tepi jendela mobil dan tak mau berpaling darinya. Melalui indera mata, saya serap sebisanya apa yang sedang terjadi saat itu di Kusadasi, baik landscape-nya, jajaran toko-tokonya dan hilir mudik insan-insannya. Kami tak punya waktu untuk menjelajah Kusadasi sekarang. Mungkin di masa depan.

Tak lama kami menyusuri Kusadasi. Ternyata 2 orang di mobil travel umum yang sama memang bertujuan akhir di Kusadasi. Lepas itu, mobil langsung bertolak tanpa berhenti lagi menuju ke Selcuk. It’s time for Selcuk untuk menorehkan kenangannya di moment-moment saya dalam Jelajah Turki.

Kusadasi
***
Petang pertama tiba, kami habiskan waktu untuk menikmati suasana malam di Selcuk sembari mencari makan malam. Kota kecil, relative tenang dan nyaman dengan udara yang hangat. Menyenangkan untuk duduk menikmati segelas ayran dingin, mengamati orang-orang berjalan dan bersepeda, hilir mudik melalui meja kami. Lampu lorong-lorong dari kotak pertokoan dan pemukiman ini, menambah hangatnya suasanya Selcuk di malam hari. 

karena sedang musim panas, pukul 19.30 masih terang
after 20.00
ayran aka. plain yogurt dingin
Suara canda tawa, nada yang sedikit meninggi atas tema gosip, denting garpu dan pisau beradu dengan piring, suara deruman kendaraan bermotor yang samar terbawa angin dari jalanan raya di ujung kotak; membaur menjadi satu dan menjadikannya sebuah melodi yang sudah lama saya rindukan dari sebuah perjalanan ke kota. Berbeda dan mempunyai kenikmatan tersendiri dibanding dengan melodi yang tercipta dari laut, perkampungan dan pegunungan dari mana biasanya saya melakukan perjalanan. Saya mencintai kedua jenis melodi itu dan merindukan salah satunya pada saat saya menikmati salah satunya.

***
Pagi hari berikutnya, bersama dengan beberapa teman-teman seperjalanan baru, kami melaju menuju ke beberapa tempat wisata di Selcuk. Mengikuti one day local tour adalah pilihan yang tepat di Selcuk. Selain tempat wisata yang agak jauh dari kota, kami juga mencari dan akan mendapatkan cerita-cerita dibalik bongkah-bongkah batu, baik yang tersusun dalam suatu bentuk maupun yang terserak.

Pemberhentian pertama adalah sebuah shrine bagi umat Katholik mupun Muslim, yaitu: House of Virgin Mary. Sebuah rumah batu kecil yang merupakan rumah terakhir dari Bunda Maria, selepas pelarian mereka setelah kejadian penyaliban Yesus. Rumah batu kecil dengan 2 ruangan ini ditemukan pada abad 19 atas petunjuk dari visi yang diperoleh Anne Catherine Emmerich. Saat ini rumah tersebut menjadi kapel bagi para peziarah dan pada sisi kiri luar dari bangunan tersebut menjadi tempat ibadah umum. Lepas dari suasana kapel yang tenang, tak terpungkiri, meski bagi saya yang Buddhist, rumah ini jelas mempunyai aura damai dan menenangkan jiwa. Dinding-dinding batu yang dingin seolah menyimpan memorinya sendiri atas apa yang pernah ada di rumah ini. Memetakan dalam diamnya, atas siapa saja yang pernah datang dan pergi. Mendengar semua suara yang berujar dalam pantualan gema yang terserap kedalam pori-pori padatnya.

in front of the house
Pada sisi jalan keluar dari area rumah Bunda Maria, terdapat 4 pancuran air yang konon mempunyai pamor semacam wishing well. Pancuran 1, 2 dan 3 adalah untuk cinta, kesehatan dan kemakmuran. Sedangkan pancuran terakhir adalah gabungan dari semuanya. Di sebelah pancuran juga terdapat sebidang tembok batu yang entah sejak kapan menjadi tempat dari peziarah maupun pengunjung lain untuk menggantungkan kalimat-kalimat harapan mereka, baik di sebidang kertas, tissue, robekan tiket, dan lainnya. Harapan-harapan itu bertumpuk dan menindih satu sama lain hingga jutaan lembar. “Hanya alam yang akan menanggalkan harapan-harapan itu dari tembok batu tersebut” kata guide kami, “entah dengan hujan atau tiupan angin.”

pancuran-pancuran
wishing wall
Next stop adalah the lost city of Ephesus. Sebuah reruntuhan kota di pesisir Turki, yang merupakan bagian dari peninggalan kota besar Yunani kuno yang kemudian menjadi kota Romawi. Kota ini pada masanya menjadi kota kedua terbesar di area Romawi setelah kota Roma. Kota ini sebagian besar hancur akibat gempa bumi pada tahun 614 M. Pamor kota ini sebagai pusat perdagangan menurun karena pelabuhannya lambat laun semakin jauh dari tepi pantai yang bergeser hingga kiloan meter.

Di Ephesus, terdapat 28 situs atau obyek yang bisa dikunjungi. Rombongan kami dengan waktu yang cukup terbatas mengunjungi beberapa situs-situs utama, antara lain: The Varius Baths (permandian umum sebelum memasuki wilayah kota), The Basilica, Odeon – Bouleuterion, Palace of Council – Prytaneion (tempat tinggal pemimpin Ephesus), The Memmius Monument (monument untuk keluarga terpandang pada saat itu. Tak jauh dari monument ini terletak sebuah baru besar dengan ukiran Greek’s goddess of victory yang merupakan inspirasi dari lambang “the swoosh” dari brand Nike saat ini), The Heracles Gate (sebuah gerbang dengan 2 pilar yang mempunyai ukiran Hercules dalam mengalahkan Singa Nemean dalam mitologi 12 Labours of Hercules), The Fountain of Trajan (sekaligus menjadi sumber air bagi penduduk kota), The Houses on The Slopes (perumahan orang kaya), The Temple of Hadrian, The Public Toilets, The Brothel (lokalisasi), The Library of Celsus (pada masanya, merupakan perpustakaan terbesar setelah Alexandria), Mazeus & Mithriadates Gate, The Marble Street, The Grand Theater (amphitheater), dan The Harbour Street (yang dulunya berujung pada tepi laut).

Odeon – Bouleuterion
pose dulu

can't you see Nike's logo in this sculpture?
Herakles Gate

The Library of Celsus
Mazeus & Mithriadates Gate

The Library of Celsus
The Marble Street

The Grand Theater
The Harbour Street
Mungkin sedikit berlebihan tetapi benar adanya perasaan saya ini. Perasaan cukup aneh dalam menyusuri area luas ini, yang menimbulkan rasa kagum, bertanya-tanya, ingin tahu dan berandai-andai. Menjejakkan langkah-langkah saya di jalanan dan tempat yang sama dengan manusia-manusia yang saat ini sudah terlupakan. Manusia-manusia dengan nama “tanpa nama” yang ada dalam bayangan, saat membaca buku dan mendengarkan cerita-cerita dari sang guide. Seolah-olah ditarik dalam sebuah situasi yang membuat saya mencoba merasakan bagaimana kehidupan kota ini di eranya. Bagaimana manusia-manusianya? Bagaimana kehidupan mereka? Bagaimana mereka menemukan kesenangan? Apa yang mereka lakukan pada saat itu, pada moment yang sama saat saya melewati jalanan marble itu? Dunia fantasi saya seolah mencoba melihat dua layar yang menampilkan cerita masa kini dan masa lalu.

Beranjak dari reruntuhan kota yang luar biasa itu, kami menuju ke sebuah rumah makan yang menyajikan hanya masakan dengan bahan organic. Enak! dan setelahnya seperti pada tour-tour umumnya, kami beranjak ke rumah produksi karpet, yang berlokasi di tempat yang sama. Menarik kok, karena kami bisa melihat dari awal proses penenunan benang sutera dari kepompong ulatnya, hingga menjadi karpet dengan harga puluhan sampai dengan ratusan juta. Selain itu kami juga memperoleh pengalaman melihat bagaimana orang Turki menjual karpetnya beserta Turkish Coffee yang disediakan secara gratis (lengkap dengan ice mineral water). Sangat menyenangkan dan tidak ada paksaan sama sekali untuk membelinya.

Pilih-pilih karpet sutera dan wol
Turkish Coffee gratisan
Lepas dari toko karpet, kami menuju ke Temple of Artemis. Temple ini masih merupakan bagian dari Ephesus, meski letaknya cukup jauh dan dulunya merupakan ikon kebanggan dari penduduk Ephesus. Berbeda dengan kuil saudara kembarnya (Dewa Apollo), di Hierapolis – Pamukkale, kuil Dewi Artemis, saat ini hanya tersisa beberapa bongkahan-bongkahan batu besar dan penggalan satu pilar saja. Temple of Artemis adalah salah satu dari 7 keajaiban dunia kuno, bersama dengan Piramida Giza di Mesir, Taman Gantung Babilonia di Irak, Light House of Alexandria di Mesir, Kolosus di Yunani, Mausoleum Mausolus di Turki (Bodrum), dan Patung Zeus di Yunani. 

yang tersisa dari kuil kuno ini
Berkendara tak jauh dari kuil tersebut kami berkunjung sebentar ke Masjid kuno yang sampai saat ini masih aktif sebagai tempat ibadah umum umat Muslim, yaitu: Izmir Selcuk Isa Bey Mosque. Dari sana kami menuju ke pemberhentian terakhir yaitu Rossini Leather Shop. Cukup menarik kok, dengan pertunjukan fashion show yang mana 2 atau 3 dari kami juga diajak bersama melenggak-lenggok di atas catwalk, memamerkan koleksi mereka. Koleksi jacket kulitnya juga keren-keren dengan harga yang sudah didiskon sampai dengan 60%, meski untuk ukuran kantong saya masih terbilang mahal. Di toko ini pula kami mendapat beberapa tips dalam merawat jacket kulit koleksi pribadi kami dengan bahan dan cara sehari-hari (bukan berjualan produk perawatan kulit).

Isa Bey Mosque
taman dalam Masjid
***
Sisa hari itu, setelah kembali ke hotel, kami habiskan dengan bersantai-santai saja sambil menikmati buah anggur dan makan malam di sebuah restaurant yang enak dengan suasana café dan layanan yang homey. Restaurant yang tampak sedikit fancy tetapi ternyata mempunyai harga menu yang rata-rata, Kosem Restaurant. Bagi saya sih restaurant ini selingan yang menyenangkan karena menyajikan menu chicken schnitzel. Bosan juga saya berhari-hari digembleng menu kebap-kebapan yang mendominasi menu di semua restaurant di seantero Turki.

taman kota di Selcuk
***
Semburat keemasan semakin pudar seiring menghilangnya sang mentari di ufuk barat dan menampilkan kelamnya malam. Jarum-jarum di jam tangan saya berbondong-bondong bergerak ke pukul 10.

It’s time for us to leave this city. Bus Metro kembali menghantar kami membelah malam dengan sorotan lampu-lampunya. Menina-bobokan kami menuju kota pemberhentian terakhir kami di Turki, Istanbul. Sebuah kota yang kerap kali digambarkan, diceritakan, diilustrasikan oleh pujangga-pujangga dan sastrawan-sastrawan dunia. Sebuah kota yang terletak di dua benua (asia dan eropa), sebuah kota yang menyimpan cerita dari 2 benua, sebuah kota yang bercerita tentang budaya 2 benua. It’s time untuk Jelajah Turki di Istanbul.

***
Detail: Itinerary, Tips and Fun Facts
More pictures on my Instagram Harry_Mdj 

No comments:

Post a Comment