Monday, October 15, 2018

It's time for Ladakh - The Story

more pictures in Instagram @harry_mdj

Ladakh atau Tibet Kecil adalah suatu wilayah bagian dari Pemerintahan Jammu dan Kashmir (semacam propinsi) di India Utara, dengan ibukota Leh. Penduduk asli Ladakh (Ladakhi) mayoritas beragama Buddha dan konon nenek moyang mereka lebih cenderung ke Mongolian. Ketika teman seperjalanan mengajak gue ke Ladakh, tanpa berpikir panjang, gue langsung mengiyakan ajakan itu. Sialnya, karena beberapa kondisi akhirnya kami membeli tiket PP dengan durasi yang kurang lama, sehingga kami hanya punya waktu meng-explore sebagian kecil Ladakh saja.

Ladakh merupakan salah satu dataran tertinggi di dunia, maka umumnya bagi turis (baik domestic maupun mancanegara) diharuskan menyediakan waktu aklimatisasi (dalam hal ini, merupakan waktu tubuh untuk penyesuaian dengan kadar oksigen yang sangat rendah). Commonly dibutuhkan waktu 1 sampai dengan 2 hari untuk proses ini dengan kegiatan istirahat, santai dan aktivitas-aktivitas ringan. Mountain sickness akibat gagalnya proses aklimatisasi, akan membuat perjalananan meng-explore Ladakh menjadi sangat tidak nyaman.

Best season untuk mengunjungi Ladakh adalah pada saat musim panas karena cuaca dinginnya tidak se-extreme pada musim-musim lainnya. Saat musim panas, di siang hari cenderung hangat sejuk dan di beberapa tempat, pada malam hari suhu bisa drop hingga 5ºC. Tetap saja dingin yah buat kita orang tropis.

Ini dia cerita jelajah Ladakh singkat gue bersama 3 teman seperjalanan.

What about Ladakh? Baca dulu ini 101-nya: It's Time for Ladakh - 101

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

***
Hari ke 1.
Gue memulai perjalanan kali ini dari Soekarno Hatta International Airport (11:00 WIB) menuju ke Indira Gandhi International Airport dengan 1x transit di Kuala Lumpur International Airport 2. Gue dan 3 orang teman seperjalanan akhirnya landing juga di New Delhi, India, pada pukul 22:00 waktu setempat (waktu di India 90 menit lebih lambat dari WIB).
Welcome to India
Lepas tetek bengek imigrasi, kami berjalan menuju ke Domestic Departure (masih di Indira Gandhi International Arirport) dan pada pukul 05:40, kami melanjutkan perjalanan kami, terbang ke Leh. Tepat pukul 07:00, pesawat kami mendarat di Kushok Bakula Rinpoche Airport aka. Airport of Leh. Kota Leh berada di ketinggian 3.500 meter di atas permukaan laut. Kurang lebih sama dengan ketinggian Mahameru (Gunung Semeru di Jawa Timur, Indonesia).
Welcome to Ladakh

Hari ke 2.
Dari airport, tujuan pertama kami adalah Smanla Guest House. Setelah proses check in dan isi form untuk pengurusan ILP, kami memulai aktivitas aklimatisasi dengan tidur. Kamar yang cukup nyaman dengan hawa yang sejuk membuai kami sejenak hingga rasa lapar yang akhirnya memaksa kami bangun dan berjalan santai, kurang lebih 15 menit, menuju ke Leh Market.

Smanla Guest House
Leh Market or Leh Main Market adalah bazar terbesar di Leh. Leh Market juga merupakan pusat keramaian bagi kota kecil Leh. Resto-resto berjajar-jajar bersambungan dengan segala toko-toko pashmina, karpet, souvenir, fashion, antique, money changer, Tibetan Market dan banyak lagi.

Leh Market
Resto-resto di Leh Market sangat beragam tetapi mostly menyajikan menu intercontinental, dari menu India, Tibetan, Asia sampai ke Europian seperti pizza, pasta, sampai nasi goreng. Resto-resto di Leh Market juga banyak sekali yang berada di roof top, sehingga mempunyai atmosphere yang lebih nyaman, sejuk dan menyenangkan. Buka dari pagi hingga malam, Leh Market juga merupakan pusat bisnis dari Kota Leh, baik yang berhubungan dengan traveling maupun tidak.

late lunch
Sehabis menyantap hidangan late lunch di sebuah roof top resto, alih-alih kembali ke hotel dan melanjutkan “proses” aklimatisasi, kami malah mengunjungi Shanti Stupa dan Leh Palace.

Shanti Stupa.
Stupa Shanti adalah stupa Buddha berkubah putih yang terletak di puncak bukit di Chanspa, Leh. Dibangun pada tahun 1991 oleh Bhikshu Buddha Jepang, Gyomyo Nakamura dan merupakan bagian dari misi Pagoda Perdamaian. Stupa ini juga menyimpan relic dari Sang Buddha pada dasarnya dan disakralkan oleh Dalai Lama ke 14. Stupa ini sangat terkenal di Ladakh karena selain menjadi tempat suci, juga mempunyai pemandangan  landscape Leh yang sangat indah.

Shanti Stupa
Leh Palace.
Leh Palace adalah bekas istana kerajaan yang menghadap ke Kota Leh. Mempunyai model yang serupa dengan Istana Potala di Lhasa, Tibet. Istana ini dibangun oleh Raja Sengge Namgyal pada abad ke 16 dan mempunyai 9 lantai, dimana lantai atas diperuntukkan untuk keluarga kerajaan, sementara lantai bawah untuk kandang kuda dan gudang.
Leh Palace
Petang menjelang dan sebelum kembali ke hotel, kami menyempatkan diri dulu untuk bersantap malam dengan menu Tibetan di sebuah resto di Leh Market (lagi).

Leh Market di petang hari
Catatan kecil: malam itu juga tumbang 2 korban mountain sickness yang dimulai dari sakit kepala hingga muntah-muntah. Proses aklimatisasi itu sangat penting dan crucial, jangan dianggap remeh yah. Untungnya kami pergi ber-4 dan hanya 2 yang tumbang, jadi gue dan seorang teman masing-masing dapat jatah merawat 1 “pasien”.

Hari ke 3.
Dari Smanla Guest House, kami melanjutkan perjalanan yang cukup panjang menuju ke Nubra Valley (berada di ketinggian 3.048 meter di atas permukaan laut). Perjalanan panjang ini, melintasi salah satu jalan-jalan yang masuk dalam kategori deadly road in the world. Why? Karena selain melintasi gunung-gunung batu yang rawan longsor, jalan-jalan yang digunakan untuk 2 arah juga sangat sempit sekali tanpa ada rail guards sama sekali. Bagi yang takut ketinggian, gue saranin duduk di tengah saja yah.

Deadly Roads
Dalam perjalanan ke Nubra Valley, kami melalui dan melintasi the highest motorable pass in the world, yaitu Khardung La (Khardung Pass), yang berada di ketinggian 5.481 meter di atas permukaan laut. Hampir 600 meter lebih tinggi dari Puncak Jaya (Carstensz) di Papua. Ada apa di Khardung La? Ga ada apa-apa sih, selain stone signages, kuil, medical center, dan beberapa bangunan lainnya. It’s kind of like a rest area terpencil.

Stone signages Khardung La ada 2 dan selalu ramai antri foto dari para turis baik dari domestic maupun mancanegara, khususnya rombongan konvoi motor.

Antri buat photo ginian
Catatan kecil: salah seorang teman (salah satu pasien di malam sebelumnya) harus ke tenda medical center karena kadar oksigen drop hingga dibawah 50 (normal di atas 90). Bayar? Iya dong. Terjangkau kok, 200 INR per 10 menit.

Tak lama kami habiskan waktu di Khardung La, karena selain angin dingin yang menusuk, juga nafas yang sudah tersenggal-senggal menjadi semakin sesak. Dan perjalanan kami pun berlanjut ke dataran yang jauh lebih rendah. Diskit adalah satu daerah di Nubrah yang pertama kami singgahi.

The Statue of Maitreya Buddha.
Patung Buddha ini adalah salah satu destinasi utama di Diskit yang berdiri setinggi 32 meter, menghadap ke arah Shyok River dan Pakistan. Destinasi ini terletak tak jauh dari Diskit Monastery yang merupakan monastery tertua dan terbesar di Diskit (dari abad 14). Pembangunan patung ini dimulai dari tahun 2006 dan disakralkan oleh HH Dalai Lama pada tahun 2010. Patung ini didirikan untuk perlindungan Diskit, pencegahan perang berkelanjutan dengan Pakistan dan perdamaian dunia.

Patung Buddha Maitreya
The Sand Dunes of Hundar.
Dari diskit kami menuju ke Hundar. Hundar adalah sebuah desa kecil di Nubra yang merupakan bekas pusat pemerintahan Kerajaan Nubra di masa lalu. Pemberhentian kami kali ini adalah sand dunes atau padang pasir kecil (bukit-bukit pasir) yang terletak antara Hundar dan Diskit. Bukit-bukit pasir yang kami kunjungi (ada banyak sand dunes di Hundar) tampaknya merupakan yang terfavorit. Selain bukit-bukit pasir, area ini juga dipagari oleh tebing-tebing gunung batu tinggi yang seolah merengkuh menawarkan perlindungan. Sand dunes ini juga dilintasi oleh sebuah sungai kecil yang sangat jernih dan bersih alami. Sangat indah.

Padang pasir mini
Perjalanan di Nubra Valley kami tutup dengan singgah di Sumur dan menginap di sana (The Kesar Hotel). Sebuah hotel kecil yang nyaman alami dengan resto kecil yang menyajikan hidangan yang nikmat (ada Beer di sini  *love*).
Kesar Hotel
Catatan kecil: 2 pasien kami kondisinya sangat membaik selama di Nubra Valley.

Hari ke 4.
Pagi hari ke 4, kami awali dengan bangun santai dan menikmati breakfast yang melimpah ruah dan nikmat. Setelahnya kami duduk manis di dalam mobil yang hangat dan kembali menyusuri lereng-lereng gunung batu menuju Pangong Tso.

Sebelum mencapai Pangong Tso, kami melewati apa yang disebut sebagai wetland conservation area. Area padang rumput yang dipenuhi area rawa-rawa dan berbatu sebagai area konservasi bagi binatang liar, misalnya kuda, kiang (looks like donkey/kedelai), yak dan Himalayan Marmot yang cukup jinak dan lucu untuk diajak berfoto bersama. Please do notice bahwa pengunjung diperkenankan mendekat tetapi dilarang menyentuh dan memberi makan.
Himalayan Marmot
Kuda Liar
Pangong Tso.
Pangong Tso yang berarti high grassland lake adalah sebuah danau endorheic yang berada di ketinggian 4.250 meter di atas permukaan laut. Hingga saat ini Danau Pangong sedang dalam proses identifikasi di bawah Konvensi Ramsar sebagai lahan basah yang penting secara internasional. Ini akan menjadi lahan basah lintas batas pertama di Asia Selatan di bawah Konvensi Ramsar. Pada musim dingin, danau seluas 604km² ini akan beku secara keseluruhan. Pada musim panas pun suhu di malam hari masih mencapai 5ºC.

Pangong Tso

Pangong Tso mempunyai jarak tempuh yang cukup jauh dari Leh, kurang lebih 6 sampai dengan 7 jam berkendara. Dan oleh karenanya kami memutuskan untuk menginap satu malam di Pangong. Pilihan kami adalah penginapan tenda di sisi Danau Pangong, Tso Camp. Tendanya besar dan nyaman, dilengkapi dengan kamar mandi pribadi serta pemandangan memukau birunya air Danau Pangong dan gugusan gunung-gunung batu raksasa yang menjadi latar belakang danau. Sayangnya, karena keterbatasan listrik, maka listrik hanya tersedia dari petang (around 19:00) sampai dengan pukul 23:00. Setelahnya? Gelap total, hanya berteman terang bulan saja.
Tso Camp
Catatan kecil: 2 pasien kami tumbang kembali dan salah satunya hingga membutuhkan perawatan khusus. Pihak staf hotel Tso Camp sangat-sangat membantu kami.

Hari ke 5.
Pagi hari menyambut dan kondisi pasien kami belum membaik secara significant, maka kami putuskan untuk segera menuju ke daratan yang lebih rendah, dengan rencana secepat mungkin kembali ke Kota Leh.

Selama perjalanan kembali kami disuguhi dengan pemandangan alam yang sangat-sangat indah dan majestic. Tak pernah bosan gue menolehkan pandangan gue ke pemandangan di luar sana, sementara yang lain mengembara ke dunia utopia masing-masing.

Another wild life di pinggir jalan
Truly, ketika sedang meng-explore Ladakh, gue berasa kecil banget atas ciptaan Tuhan lain yang agung. Anyway, karena Ladah merupakan wilayah yang dipersengketakan antara India dan Pakistan, maka India menempatkan dan mempunyai base camp tentara yang sangat banyak di Ladakh. Tak heran perjalanan kami kembali ke Kota Leh, memakan waktu karena harus berkali-kali terhambat iring-iringan truk-truk militer India yang jumlahnya bisa mencapai puluhan.

Dalam perjalanan kembali ke Leh ini, kami juga sempatkan berhenti beberapa menit di Changla Pass, yang mempunyai jargon sebagai second highest pass dengan ketinggian kurang lebih di 5.391 meter di atas permukaan laut.
Chang La
Sesampai kembali di Leh, kami langsung menuju ke Morning Sky Guest House. Rencananya kami hanya akan menaruh barang dan akan melanjutkan kembali perjalanan menuju ke tempat-tempat wisata yang cukup dekat dari Leh. Rencana tinggal rencana, apalagi guest house yang kami pilih ternyata memiliki roof top dengan pemandangan yang indah serta taman bunga yang cantik. Oh hell yeah setengah hari kami habiskan hanya untuk berleha-leha di guest house yang pemilik dan stafnya sangat ramah sekali.

Modest roof top with gorgeous view
Catatan kecil: kondisi 2 pasien kami sangat membaik dan happily ever after.

Hari ke 6.
Hari terakhir kami di Ladakh tiba dan saat kota kecil itu masih sedikit terlelap, kami sudah ada di Airport of Leh. Pukul 08:25 kami terbang kembali ke New Delhi dan akan melanjutkan kembali penerbangan kami meninggalkan India pada pukul 23:00.

Bonus places:
Selama di New Delhi, kami sempatkan menjelajah beberapa landmark-landmark di New Delhi.

Parliament House
Sebuah komplek parlemen India yang sangat luas dan terdiri dari beberapa gedung serta sebuah istana kepresidenan.
Abaikan bapak-bapak yang keukeuh ga mau gantian photo
India Gate
Monumen yang sering sekali dibandingkan dengan Arc de Triomphe (Paris) ini adalah sebuah monumen peringatan bagi 70.000 tentara Angkatan Darat India Inggris yang meninggal pada periode tahun 1914 samapai dengan 1921 dalam Perang Dunia Pertama.

Indian Gate
Qutub Minar
Qutub Minar atau Qutab Minar atau Qutb Minar adalah menara tertinggi di dunia yang terbuat dari batu bata, dengan tinggi 73 meter. Menara yang mulai didirikan pada tahun 1192 ini merupakan bagian dari komplek Qutub yang merupakan Situs Warisan Dunia UNESCO. Desain dari menara ini diperkirakan terinspirasi dari Minaret of Jam di Afghanistan Barat.
Qutub Minar
***
Try this!
“What is it?” gue menunjuk ke penganan ice cream yang ada dalam kotak pendingin, di sebuah corner, sisi boarding lounge Indira Gandhi International Airport.
“It’s a traditional India’s ice cream sir. It calls kulfi. You should try it sir.”
“Okay. Give me two sticks of traditional flavor.”
“Here you go, sir. Enjoy your kulfi.”
“Thanks.”

Sebuah cuplikan moment kecil sesaat sebelum gue meninggalkan India.

Mungkin ada saat di masa yang akan datang untuk gue kembali ke negara ini dan mencoba meng-explore sesuatu yang sedikit main stream, like Agra dan Jaipur. It (looks like) has many exotic and interesting destinations. I love to go there someday.

Namaste.
***

1 comment: