Thursday, October 04, 2018

It's Time for LADAKH, India


more pictures in Instagram @harry_mdj

“Pergi kemana Har?”
“Ladakh.”
“Heh? Mana tuh? Baru denger?”
“Di India bro, India utara sono.”
“Buset, kaga pernah dengar. Baru tahu. Kok elo bisa tahu?”
“Iya bro, temen sudah ada yang pernah ke sana trus kalo elo pernah nonton film India, 3 idiots, nah Ladakh tuh ada di scene terakhir tuh film.”

Ladakh, India, memang belum terlalu popular sebagai destinasi wisata. Konon, bagi orang lokal pun, Ladakh baru mulai berkembang pesat dunia pariwisatanya, sejak dan mengikuti suksesnya film India, 3 idiots, pada tahun 2009 lampau.

Ketika teman seperjalanan mengajak gue ke Ladakh, tanpa berpikir 2x, gue langsung mengiyakan ajakan itu. Tentunya dengan iming-iming ada promo tiket Air Asia PP Jakarta ke New Delhi (transit di Kuala Lumpur). Sialnya, karena beberapa kondisi akhirnya kami membeli tiket PP dengan durasi yang kurang lama, sehingga kami hanya meng-explore sebagian kecil Ladakh saja. Seperti biasa, penyakit beli tiket dulu baru bikin itinerary belakangan.

Note: semua catatan bisa saja tidak valid setelah masa waktu tertentu. Catatan ini murni pada apa yang terjadi saat hari kunjungan gue.

***
Negara Tujuan
INDIA atau Republik India adalah sebuah Negara di Asia Selatan yang memiliki jumlah penduduk terbanyak kedua di dunia dan merupakan negara terluas ketujuh di dunia. India merupakan bagian dari Britania Raya sebelum meraih kemerdekaan di tahun 1947.

Tujuan
Ladakh atau Tibet Kecil adalah suatu wilayah bagian dari Pemerintahan Jammu dan Kashmir (semacam propinsi) di India Utara, dengan ibukota Leh. Penduduk asli Ladakh menyebut diri mereka Ladakhi, yang mana mayoritas beragama Buddha Tibetan. Walaupun demikian mereka mengakui bahwa meski agama dan budaya mereka sangat kental dengan Tibetan, tetapi nenek moyang mereka lebih cenderung ke Mongolian.

Ladakh merupakan bagian yang dipersengketakan antara India dan Pakistan, sehingga India mempunyai military base yang sangat banyak di Ladakh. Tetapi pada umumnya, kondisi keamanan relatively kondusif dan aman.

The City of Leh from Leh Palace
Visa
Sejak pertengahan tahun 2018, India akhirnya memberlakukan e-Visa bagi turis asal Indonesia dan beberapa negara lain. e-Visa India sangat mudah sekali di-apply dan tanpa biaya apa pun ( e-Visa India ).

Pada saat memasuki area counter-counter imigrasi di Indira Gandhi International Airport, bagi pemegang e-Visa, cari counter-counter dengan tulisan e-Tourist Visa (BUKAN e-Visa). Nama visanya memang e-Visa tetapi antrian di imigrasi untuk turis dengan e-Visa ada di counter-counter e-Tourist Visa, bukan counter e-Visa.

e-Visa (harus dicetak yah)
Inner Line Permit (ILP)
Beberapa tempat tujuan wisata di Ladakh masuk dalam Protected Area. Semua turis wajib mempunyai ILP untuk mengunjungi tempat-tempat wisata tersebut. ILP diterbitkan secara individual atau group (biaya tetap per orang).

Mengururs ILP bisa melalui travel agent atau hotel tempat kita menginap. Apakah bisa mengurus sendiri? Gue kurang paham, harusnya bisa sih tetapi ILP tidak bisa diurus secara online karena membutuhkan passpor asli (bukan hardcopy atau softcopy).

ILP
Penerbangan
Kali ini gue dan 3 orang teman seperjalanan menggunakan 3 maskapai dengan rute sebagai berikut:
1.     Jakarta (Soetta IA) ke New Delhi (Indira Gandhi IA) dengan menggunakan Air Asia Airlines (transit Kuala Lumpur IA – KLIA2).
2.     New Delhi (Indira Gandhi IA) ke Leh (Kushok Bakula Rinpoche Airport) dengan menggunakan Jet Airways.
3.     Leh (Kushok Bakula Rinpoche Airport) ke New Delhi (Indira Gandhi IA) dengan menggunakan Go Air.
4.     New Delhi (Indira Gandhi IA) ke Jakarta (Soetta IA) dengan menggunakan Air Asia Airlines (transit Kuala Lumpur IA – KLIA2).

Untuk 1x penerbangan pulang pergi Jakarta – New Delhi – Jakarta, gue menghabiskan biaya total Rp 2,8 juta-an. Sedangkan untuk penerbangan ke Leh, gue menghabiskan biaya Rp 1,0 juta-an dan kembali ke New Delhi dari Leh dengan biaya Rp 1,6 juta-an.

Boarding Pass dari New Delhi (Indira Gandhi IA) ke Jakarta (Soetta IA) harus print out dari counter check in. Check in bisa dilakukan by web tetapi print boarding pass harus diambil di counter check in Air Asia (tidak bisa dengan print boarding pass sendiri atau dari mesin self check in, akan ditolak di imigrasi Delhi).
 
Bahasa
Bahasa resmi di India adalah bahasa Hindi (dengan ragam bahasa daerah yang sangat banyak sekali. Tidak semua orang India bisa berbahasa Hindi) dan Inggris. Sedangkan di Ladakh, bahasa sehari-hari mereka adalah Bahasa Ladakh (berbeda dengan Hindi maupun Tibetan) dan mostly mampu berbahasa Inggris dengan (cukup) baik.

Dress Code
Tidak ada dress code khusus yang harus dipakai di Ladakh. However, alangkah baiknya jika kita tidak menggunakan celana yang terlalu pendek dan tank top pada saat mengunjungi holy shrines, tempat ibadah, monastery-monastery yang tersebar di seluruh penjuru Ladakh (kalau tidak salah lebih dari 30 monastery). Well, it’s Ladakh anyway dimana sepanjang tahun cuacanya dingin.

Weather
Best season untuk mengunjungi Ladakh adalah pada saat musim panas karena cuaca dinginnya tidak se-extreme pada musim-musim lainnya dan pada siang hari cenderung hangat sejuk. For your consideration, khususnya dalam memilih jaket setebal apa yang perlu dibawah, Di Pangong Tso, pada saat musim panas, suhu di malam hari tetap mencapai 5ºC dan berangin cukup kencang. Oleh karenanya juga lipbalm dan sunblock adalah 2 hal yang harus dibawah dan dipakai setiap saat.

Musim paling tidak disarankan tentunya adalah musim dingin, karena selain suhu dingin yang extreme, kebanyakan jalan juga tertutup salju sehingga tidak akan bisa dilewati oleh kendaraan apa pun.

Ladakh juga merupakan dataran tinggi. Sebagai info dan perbandingan adalah (dalam satuan meter di atas permukaan laut).

Lokasi-lokasi di Ladakh:
The city of Leh ada di 3.500 mdpl
Nubra Valley ada di 3.048 mdpl
Pangong Tso ada di 4.250 mdpl
Khardung La/Pass ada di 5.481 mdpl

Lokasi-lokasi di Indonesia:
Mahameru, Gunung Semeru ada di 3.676 mdpl
Puncak Jaya (Carstensz) ada di 4.884 mdpl
Gunung Rinjani (summit) ada di 3.726 mdpl

Anyway, karena Ladakh merupakan salah satu dataran tertinggi di dunia, maka umumnya bagi turis (baik domestic maupun mancanegara) diharuskan menyediakan waktu aklimatisasi (dalam hal ini, merupakan waktu tubuh untuk penyesuaian dengan kadar oksigen yang sangat rendah). Commonly dibutuhkan waktu 1 sampai dengan 2 hari untuk proses ini dengan kegiatan istirahat, santai dan aktivitas-aktivitas ringan.

Mountain sickness sangat mungkin menimpa kepada seseorang (tidak ada batasan-batasan umur dan kondisi kesehatan, tergantung dari kondisi dan daya tahan tubuh masing-masing pada saat kunjungan). Mountain sickness biasanya seperti nafas berat, kepala terasa berat, sesak nafas, sakit kepala hebat, mual-mual yang disertai dengan muntah-muntah. Oleh karenanya sangat disarankan membawa pain killer medicine (biasanya dosis yang lebih tinggi dari biasanya) dan membeli oksigen tabung yang tersedia di toko-toko medice dengan harga sekitar INR 600 per botol di Ladakh. Di area-area tertentu juga terdapat medical center yang menyediakan oksigen dengan tarif mulai dari INR 200 per 10 menit. Jangan dipaksakan, mintalah bantuan staf hotel atau penduduk local jika merasa mengalami mountain sickness yang tidak tertahankan. Kadar oksigen sangat vital dan bisa drop hingga dibawah 50 (normal diangka 90-an) ketika proses aklimatisasi tidak berhasil seperti yang kita harapkan.
need more Oxigen
Mata Uang
Mata uang di seluruh India adalah Rupee (INR).

Notice: sejauh yang gue tahu, pecahan rupee yang commonly diterima diperjual-belikan di money changer di Indonesia adalah pecahan 500 dan 2.000 dengan harga yang jatuh sekali. Beli secukupnya dan habiskan di India.

Bandara Udara
Airport utama di Delhi bernama Indira Gandhi International Airport. Airport-nya cukup besar dan modern, dilengkapi dengan beberapa café, baik di area lobby dan duty free lounge.
Di sisi luar, yang gedungnya masih semi terkoneksi dengan gedung terminal airport, terdapat fasilitas Penitipan Bagasi berbayar. Tarifnya beragam tergantung waktu dan berat bagasi yang akan dititipkan.

Welcome to India
Indira Gandhi International Airport
silakan dipilih
Sedangkan airport di Leh adalah Leh Kushok Bakula Rimpochee Airport. Airport-nya cukup kecil dan dilengkapi dengan beberapa café diarea boarding lounge.
Setiba di Leh Airport baik di arrival hall maupun saat kembali di departure hall, turis wajib mengisi form yang isinya adalah beberapa data pribadi dan kunjungan. Isi saja (yang bisa diisi saja) dan serahkan ke petugas, ga akan ditanya apa-apa kok. 

Departure Hall Leh Airport:
1. Security Check dibedakan menurut maskapai penerbangan, jangan salah antri.
2. Pada saat masuk boarding lounge, ada 2 pintu, satu untuk wanita dan satu untuk pria.

Welcome To Ladakh
Leh Airport
Sewa mobil dan/atau Taxi
Satu-satunya cara untuk menjelajahi Ladakh adalah dengan menyewa mobil dan/atau taxi. Simple, flexible dan masih dalam range affordable untuk biayanya. Kendaraan umum sangat jarang dan tidak pasti jadwalnya. Selain itu kondisi lokasi tempat-tempat wisata yang jauh dan bisa sangat jauh (hingga 6 jam perjalanan dengan mobil) antara satu dengan yang lainnya.

Jika hanya explore kota Leh, maka tidak perlu sewa mobil, cukup jalan kaki atau naik taxi saja.

Gue dan teman seperjalanan menggunakan jasa Visit Ladakh yang bekerja sama dengan www.distant-holidays.com. Dan menurut pengalaman kami, service dan experience yang didapat sangat baik dan memuaskan dengan harga yang fair. Very recommended.

mobilnya nih, udah plus sopir dan bensin
Metro
Hanya kami temukan di kota-kota besar, misalnya New Delhi. Kelemahan terbesar dari metro ini adalah adanya pemeriksaan yang sangat ketat untuk memasuki stasiun metro manapun. Pemeriksaannya selevel dengan saat memasuki airport lounge.
Paket Travel Card
Tuk-Tuk
Tuk-tuk adalah alat transportasi yang paling banyak kami gunakan selama di New Delhi. Pastikan untuk selalu menawar tarif tuk-tuk. Dengan bentuk semacam bajaj di Jakarta, 1 tuk-tuk muat hingga 4 sampai dengan 5 orang penumpang (1 duduk serong di depan bersama sopir tuk-tuk).

Hostel
Selama jelajah Ladakh, kami hanya menggunakan penginapan dengan private room dan private bathroom. Hotel/guest house yang kami pilih adalah

Smanla Guest House – Leh adalah sebuah hostel yang terletak di Sankar Road Chubi, Leh. Menurut gue, letak hostel ini cukup ideal karena tidak terlalu ramai dan walkable ke Leh Market dengan pemandangan alam yang indah. Jika beruntung seperti gue, bisa dapat kamar yang balkonnya mengarah ke Shanti Stupa. Staff-nya ramah, dan pemiliknya Mr. Smanla sangat helpful dan lancar berbahasa Inggris. Harga kamar belum termasuk breakfast dan sebaiknya tidak membeli paket breakfast di sini, karena untuk menu yang sangat sederhana, harganya terlalu mahal.

Kondisi kamar agak berdebu (debu tipikal daerah padang pasir), meski masih dalam kategori bersih, dengan kamar mandi sederhana yang luas (shower air panas, wastafel air panas dan toilet duduk).


Morning Sky Guest House – Leh adalah sebuah hostel dengan rooftop di Horpo House, Sankar (near Lamdon Model School), Leh. Letak hostel agak jauh dari Leh Market (meski masih bisa dibilang walkable) dan jauh dari keramaian serta memiliki taman bunga yang sangat indah dengan rooftop yang menampakkan pemandangan yang sangat indah. Staff dan pemilik-nya sangat ramah, helpful dan bahasa Inggrisnya sangat bagus. Tersedia pula layanan room service dengan harga terjangkau.

Kondisi kamar bersih dengan kamar mandi kecil modern yang bersih (shower air panas, wastafel air panas dan toilet duduk).


The Kesar Hotel –  Nubra Valley adalah sebuah hotel di Sumur, Nubra Valley. Letak hotel berada di komplek hotel di Sumur. Staff-nya sangat ramah, helpful dan bahasa Inggrisnya cukup bagus. Harga kamar sudah termasuk breakfast yang porsinya berlimpah. Di Kesar, juga tersedia resto kecil cantik yang menyajikan menu intercontinental dengan harga yang fair, mengingat porsinya adalah porsi sharing hingga 3 orang.

Kondisi kamar agak berdebu (debu tipikal daerah padang pasir), meski masih dalam kategori bersih, dengan kamar mandi etnic yang luas dan cantik (shower air panas, wastafel air panas dan toilet duduk).


Tso Camp – Pangong Tso adalah sebuah hotel tenda dengan pemandangan Danau Pangong di Spangmik, Pangong Tso (Lake). Staff sangat helpful dan bahasa Inggrisnya cukup bagus. Harga kamar sudah termasuk buffet breakfast (veggie food only).

Kondisi kamar bersih, dengan kamar mandi sederhana modern yang cukup luas (shower air panas – limited time, wastafel air panas – limited time dan toilet duduk). Meski kamar tenda, gue mendapatinya sangat nyaman. Masing-masing tenda terdiri dari 3 area: teras (semi outdoor), bed room dan bathroom.


Kuliner
Surprisingly, di Leh maupun di tempat-tempat wisata lain, sangat banyak resto yang menyajikan menu intercontinental semacam pizza, pasta dan nasi goreng (Yes! Nasi goreng). Selain menu intercontinental, menu-menu makanan India jelas mendominasi diikuti dengan sejumlah kecil menu-menu Tibetan.

Chicken Saag Wala (hijaunya dari bayam, enak!
Jika disuguhin ini atau nemu ini di meja kasir, ini adalah refreshment candy (free), ambil secukupnya di tangan dan makan
Toast with Egg dan Samosa
Indomie-nya India, Maggie
Beer India
Entah apa namanya, tapi enak renyah krupuk
fresh apricot Ladakh, mini-mini ukurannya
Amul adalah produk lokal India
Gue nemuin ini di Go Air saat terbangd ari Leh ke Delhi, NYESEL beli satu!
Dark Choco 55%, enak murah merk AMUL, asli India

Kopi dan Teh di Ladakh terbiasa atau terstandard adalah kopi susu atau teh susu. Pastikan memberikan order yang jelas dengan tambahan NO milk jika ingin kopi hitam atau teh biasa.

es kopi ... TADA es kopi susu nongolnya
Salah satu minuman khas Tibetan yang lazim ditemukan di Ladakh adalah Tibetan Tea, jika tidak suka dengan aroma dan rasa susu yang kuat (agak amis), trust me, do not order this beverage.

Teh Susu Tibetan plus Ayam masak ala Tibetan (lupa namanya)
Salah satu es krim khas India adalah Kulfi. Apakah bedanya dengan es krim biasa? Tidak terlalu jauh berbeda, mirip dengan es krim biasa yang disajikan seperti es lilin. Pilihan rasa-rasanya saja yang half of it tidak biasa ditemukan di Indonesia.
Kulfi
Mineral Water
Mostly tersedia ukuran bawa 1.000 ml dengan harga mulai dari INR 20.

Souvenir
Leh Market merupakan gudang souvenir, khususnya bagi penggemar kain-kain pashmina serta barang-barang antique ala-ala Tibetan. Fridge Magnet dan keychain untungnya, meski tidak banyak, cukup mudah ditemukan dengan harga yang beragam. Fridge Magnet yang gue beli harganya mulai dari INR 70.

Souvenir unik lain ada Roda Doa atau Prayer Wheel yang ukuran mininya bisa dibeli dengan harga INR 250. Sedangkan aneka ragam batu-batuan perhiasan cantik serta ragam handicraft perhiasan dana tribute-atribut etnic bisa ditemui di beberapa Tibetan Refugee Market dalam komplek Leh Market.

Leh Market
Toko Souvenir Yahut! Orangnya baik dan harga fair bahkan murah
Heaven!
Prayer Wheel
Tibetan Refugee Market
***

2 comments: