Saturday, February 20, 2016

The Mdj's #FindingCoffeeShop #Serpong - Battle 2 (Scandinavian, Turning Point, & Tanamera)



Hola, welcome to Battle 2

Gue asli Malang, merantau sejak umur 24 tahun. Yogyakarta, Surabaya dan akhirnya keseret arus urbanisasi, menginjakkan kaki juga di Jakarta. Kurang lebih 9 tahun gue tinggal di Tanjungduren, Jakarta Barat, dan akhirnya settle down di Legok nempel Serpong.

Hobi clubbing di umur 20-an akhirnya beranjak menjadi hobi nongkrong di coffee shop aja. Entah kenapa, dulu yang suka music jedag-jedug akhirnya sekarang lebih enjoy dengerin music random dengan segelas kopi. Sebut saja cappuccino, mochaccino, coffee latte, piccolo dan americano adalah minuman kopi yang gue suka. Dari semua jenis, gue so far paling suka adalah cappuccino dan overall kopi yang gue suka adalah jenis yang pahit biasa, bukan yang asam.

Apakah gue ahli kopi? NO, gue ga ngerti kopi jenis ini itu bla bla bla. Apakah gue penggila kopi? NO, kadar gue ngopi biasa aja. Ngopinya dimana? Di kantor kalo ngantuk tak terkira dan coffee shop. Jadi siapakah gue? Gue cuman seorang yang suka ngopi aja sambil duduk-duduk di coffee shop. Biar dikata gaul? Entah yah, gue ga merasa gaul minum kopi di coffee shop, secara tampang gue lusuh banget dibanding pengunjung lain yang sebagian tampak all out banget. Salah mereka? Ga, for me semua orang bebas nikmatin kopi apapun dan dimana pun dan pakai apapun.

Anyway, gue sudah tinggal di Legok nempel Serpong for 3 months (28 feb ini) dan jiwa gue haus akan nongki di coffee shop lagi. Bukan coffee shop with international branded kayak Starbuck, Coffee Bean dan setipikalnya yang gue kangenin (kalo Starbuck mah ada di depan kantor). Yang gue maksud adalah coffee shop-coffee shop indie. Lokal aja dan mostly ga punya cabang.

This is my story of #FindingCoffeeShop #Serpong. Penilaian gue dan basian-basiannya murni adalah subjektifitas. In my opinion, selera itu subjektif banget jadi ga selalu bisa jadi patokan secara general. Apa yang gue bilang ok mungkin extra ordinary bagi yang lain, yang gue bilang enak mungkin sampah bagi yang lain. So semua penilaian dan review gue murni berdasarkan dari selera gue. Jadi yang ngecap gue, yang nilai gue, yang nulis gue, yang nentuin juga gue.

Let’s the battle begin.

1.     Scandinavian Coffe Shop (Jawara Battle 1)
Lokasi: Ruko Graha Boulevard, Gading Serpong
Review: Area duduk yang cukup luas, dengan penataan yang cozy dan nyaman. I like it. Ada area indoor dan outdoor. Semua meja dilengkapi colokan listrik, even di meja-meja outdoor. Kasir di sisi depan dengan etalase cakes di sampingnya. Pelayanannya (saat gue berkunjung) membaik dari sebelumnya. Kopinya (Butterscotch Latte) enak meski kemanisan dan kurang panas.
Score: overall for me, it’s (still) 8.5 out of 10

2.     Turning Point Coffee
Lokasi: Ruko Golden 8 Extension, Gading Serpong
Review: Ini kali ke dua gue ke sini, yang pertama kali pas masih tinggal di Grogol. Area duduk yang sempit dan terbatas, dengan penataan yang cozy. Kasir ada di depan dengan etalase cakes di sampingnya. Pelayanannya ok banget, very friendly and welcome. Insidennya adalah yang nganter pesenan (bukan yang nerima pesenan) salah 3x ngasih ke gue, padahal semua pesenan meja sebelah. Kopinya (Filter) enak meski for me kurang panas dan meski kopi asam tapi gue suka. Peneman kopi (cake, pastry, dll) enak meski cukup pricy. Ada area terbuka di belakang yang lucu perabotannya. Semua area, termasuk area terbuka di belakang adalah area no smoking dan (dulu, entah sekarang) bisa bawa pets ke sini.
Score: overall for me, it’s 8,8 out of 10

3.     Tanamera Coffe
Lokasi: Scientia Square Park, Summarecon Digital Center
Review: Area duduk yang cukup luas, dengan penataan yang cozy tapi kurang comfy. Ada area lantai 2 juga di sini, jadi jauh lebih luas dari pada yang di Thamrin City. Ada area indoor dan outdoor. Kasir di sisi depan dengan etalase cakes di sampingnya. Pelayanannya OK, meski penggunaan bahasa inggris agak berlebihan (toh sesama orang Indonesia, gue pikir ga perlu “jadi semuanya one hundred forty three thousand”). Kopinya (long black) lumayan dengan panas yang pas banget. Meanwhile cakenya (gue pesen lemon cake) enak tapi nothing special dengan harga yang fair.
Score: overall for me, it’s 8.3 out of 10

Again, it’s just my personal review, based on my experience and personal taste. So ga bisa digeneralisasi. Harus datang sendiri dan mengecap sendiri baru tahu apakah kita punya selera yang sama or not. So Battle 2 of my #FindingCoffeeShop #Serpong dimenangkan oleh Turning Point Coffee (sekaligus pemegang high score so far dengan point 8,8).

See you on Battle 3.


2 comments: