Wednesday, December 30, 2015

Sofa Berpola Kotak, The Sequel



Duduk membaca buku, dalam diam tanpa kata dan hanya bersentuhan sekali atau dua. Terkira tak perlu ada percakapan panjang untuk membuat kita nyaman dengan keberadaan masing-masing. Tanganku kadang merengkuh bahumu, kepalamu terkadang mampir bersandar sejenak di bahuku, kepalaku terkadang mencari hangatnya sentuhan kulit kakimu, jemari kakimu terkadang bermain usil di dadaku. Tersanding dengan sebuah kue kesukaan dan simple ice tea, kita berdua asik dengan dunia cerita masing-masing.

Fungsi shuffle yang aktif pada music player, sedari tadi secara acak memutar beberapa lagu koleksi kita. Dari lagu mellow kesukaanmu sampai lagu pop opera kegemaranku … dan lagu itu terputar, Lady Marmalade, soundtrack dari film Moulin Rouge. Ketenangan ruangan ini mendadak tersentak. Tercengang saat tubuh mungilmu melompat turun dari sofa yang kita duduki, melepas lilitan jemarimu di rambutku yang mulai panjang.

Kamu berjalan perlahan membelakangiku, berhenti dan menyisakan jarak 2 meter di antara kita. Secara dramatis kamu menolehkan kepalamu sedikit, mencoba melirik mencuri pandang ke arahku dengan kerling nakal. Tanganmu mulai terangkat tinggi dan bergerak perlahan bermain dengan jemarimu sendiri dan perlahan turun menelusuri lekuk tubuhmu. Meliuk mengikuti dentuman ketukan lagu itu.

Senyumku yang sempat berubah menjadi tawa melihat tingkahmu, perlahan larut menghilang dalam desah nafasku yang perlahan menjadi semakin berat dan cepat. Tubuhku bergeming terhadap apapun, sorot mataku seolah terbutakan hanya melihat padamu. Kamu terus melenggok memamerkan lekuk tubuhmu dengan padangan nakal yang menyorot penuh arti akan undangan.

“…He come through with the money in the garter belts, I let him know we bout that cake straight up the gate uh, We independent women, some mistake us for whores …”

Dan semua lirik serta nada menghilang dari pendengaranku saat dengan perlahan dalam rangkakan, kamu menghampiriku perlahan. Aku terdiam melumpuh. Kamu semakin dekat dan merayap mendaki tubuhku yang duduk terpaku. Tanganmu mulai membelai pipiku saat kamu duduk dipangkuanku, mengkonfrontasi seluruh inderaku atas keindahan tubuhmu.
“Sayang, kam…” ucapanku terhenti saat sebuah jarimu mensegel mulutku dan dua detik berikutnya kurasakan basah sejuk lembut bibirmu menyapu indah di bibirku. Merasakan sensasi yang tak pernah bosan kukecap atas ujung lidahmu yang bermain di sudut bibirku sebelum dengan perlahan masuk mencoba menemukan lidahku.

“Ahh…” desahmu tertahan, saat kulepas sesaat lumatanmu, sebelum kuhujamkan bibirku ke bibirmu lagi. Dengan arrogant, lidahku menuntut memasuki dan mencoba bermain, bergumul dalam rongga mulutmu.
“Sa… ahh” penggalan kata yang tak selesai kamu ucapkan saat kubidikkan ciumanku pada jenjang lehermu dan semakin turun tertahan cukup lama di sana.

Kuhempaskan tubuhmu terbaring dan kilauan indah memabukkan seolah terpercik diantara kita berdua saat kita bersatu. Tanganmu tergantung kuat di leherku, dengan pekik kecil yang terkadang terselip keluar dari mulutmu saat hentakan kuatku seperti apa yang kamu mau. Desauan kita semakin cepat, dengan sedikit racauan-racauan kecil yang terkadang terbisikan. Tangan mungilmu mencengkram kuat lenganku saat gerakanmu menuntutku menghujam lebih dalam. Dan dalam tautan bibirku, lenguhanmu teredam tercampur dengan lenguhanku saat percikan-percikan indah itu akhirnya meledakan pijar-pijarnya di antara kita.

***

Kunikmati sejuknya air yang mengalir keluar dari shower dan turun membasahi tubuhku yang terkadang terpaut dengan tubuhmu. Air sejuk jernih yang membasuh semua sisa peluh yang mengalir dan menempel di kulit kita.

“Gimana? Makin tergila-gila ga ama aku?” tanyamu dengan sorot mata nakal yang itu lagi.
“Aku always tergila-gila ama kamu, tapi let’s see apalah aku juga bisa membuatmu semakin tergila-gila kepadaku?” dan kalimat itu berakhir dengan ciuman dalamku ke bibirmu, merayap perlahan turun dan turun dan tertahan bermain di sana, sampai tubuhmu bergetar dan mengucap namaku dalam pekikanmu.

***

Entah anganku sudah berapa lama berkelana dalam dunia utopia, sebelum kelopak jendela hati terbuka dan menemukanmu sedang berusaha menggapai lampu baca tempat tidur di sisiku.

“Eh, kebangun yah?” katamu.
Kumatikan lampu baca di sisi tempat tidur, sesaat setelah kulihat buku yang tadi kubaca berada di bawah kacamata bacaku. Kutarik dirimu mendekati tubuhku dan kudekap dalam pelukanku.

“Goodnight sayang” ucapku dalam kecupan kecil.
“Goodnight juga sayangku” balasmu sambil menarik lengaku lebih erat memelukmu. Desahan nyamanmu adalah kidung tidur paling indah yang menemani tidurku. Hembusan kecil nafasmu menerpa lembut malu-malu pada lenganku dan aku tahu hidupku indah meski aku tak sempurna. Ada kamu di sisiku dan cintamu adalah aku.

Dalam keremangan, melalui celah pintu kamar yang terbuka, sudut mataku menatap ujung dari sofa itu. Sofa berpola kotak yang selalu menemani dan ada untuk cinta kami.

***

No comments:

Post a Comment