Wednesday, July 23, 2014

Halimun, Dimana Secuil Hati ini tertambat




Rebah, berbaring di atas ranjang kapuk sederhana, raga ini tak inginkan malam berlalu. Otot kaki yang pegal-pegal karena trekking melintasi hutan siang tadi pun, menjadi sesuatu yang terindukan. Suasana khas pedesaan menemani jiwa yang belum lelap ini. Suara riak air dari sungai kecil di belakang kampung terdengar jelas, gesekan dedaunan pohon-pohon hutan indah berirama, beragam bunyi dari hewan-hewan nocturnal saling bersahutan. Layaknya sebuah orchestra alam yang mendendangkan pujanya kepada ibu bumi yang dicintai.

Berusaha menahan otot mata untuk tetap terbuka dan tak puas-puasnya menikmati semua kedamaian ini. Meresapi setiap detik yang berlalu, mencakup dengan semua panca indera yang sadar. Jiwa ini bahagia, jiwa ini damai, jiwa ini mereguk manisnya rindu akan desa kecil ini dan alam sekitarnya. Jiwa ini tersenyum sejati, sadar akhirnya kembali ke tempat ini, Desa Malasari – Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

***
Tepat pukul 22.40 malam, kami bertolak ke Desa Malasari yang terletak di dalam kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak, di wilayah perbatasan Kabupaten Bogor dan kabupaten Sukabumi. Kurang lebih 5 jam perjalanan darat dari Jakarta (Semanggi).

Taman Nasional Gunung Halimun Salak atau biasa kami sebut singkat dengan Halimun, adalah hasil perluasan dari Hutan Lindung Gunung Halimun yang ditetapkan pada tahun 1924. Halimun kini memiliki area seluas lebih dari 113ribu kilometer persegi dengan ratusan ragam flora dan fauna, termasuk jenis hewan endemic langka yang dilindungi, seperti macan tutul jawa (Panthera pardus melas), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis aygula), lutung budeng (Trachypithecus auratus), dan juga ajag (Cuon alpinus).

Nama Halimun diambil dari kondisi alam yang sering dan cenderung berkabut (halimun) di area Halimun. Masih di area Halimun, pada sisi kawasan Pegunungan Kendeng merupakan tempat tinggal masyarakat adat Baduy dan sisi lain yang dihuni masyarakat adat Kasepuhan Banten Kidul.

***
Alunan musik yang mendayu berdendang di telinga melalui earphone ipod. Titik-titik hujan tak hentinya menubruk kaca jendela mobil dan mengalir mengikuti gravitasi ke bawah.
Helaan nafas panjang saya merupakan tanda bahwa kekhawatiran saya selama seminggu sebelum malam ini terjadi, yaitu: hujan.
“Pokoknya gue mau lihat langit penuh bintang yang lo bilang keren abis pas di Halimun!” Harapan dari Kathy, salah seorang dari rombongan, segera teriang-iang di benak saya.
Hujan! Bagaimana mungkin ada bintang jika sinarannya tertutup oleh awan-awan cargo titik hujan? Ya semoga saja, hujan segera reda dan langit kembali cerah.

Harapan akhirnya tetap menjadi harapan. Pukul 02.00 dini hari kami memasuki gerbang “Selamat Datang” di Halimun, menjejaskan jejak kami melalui guratan bunga ban mobil ELF yang kami tumpangi dan masih saja langit tak usainya mencurahkan titik-titik air kecilnya.

Plan berhenti di salah satu spot untuk melihat jutaan bintang di langit yang kelam pun sirna. Mobil kami tak bergeming menderu, melewati area datar kecil diantara jalanan sempit berkelok menanjak dengan lereng-lereng perkebunan teh yang curam.

***
Menjelang pukul 04.00 subuh, akhirnya kami memasuki sebuah rumah di perkampungan kecil yang akan menjadi atap peneduhan kami selama 1 hari 1 malam di Desa Malasari Halimun ini.

Masih rumah yang sama, masih perabotan yang sama dan masihlah saya disambut oleh seraut wajah Pak Suryana yang teduh, ramah dan bersahabat, seolah mengucapkan selamat datang kembali. Masih dalam kesederhanaan dan kesahajaan yang sama seperti setahun yang lalu..

Kantuk dan udara dingin tak juga mengurangi kegembiraan kami. Sejenak melepas penat, duduk mengelilingi meja makan dengan seduhan minuman hangat dan mie gelas yang saya bawa dari Jakarta, sebelum akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat sejenak dengan harapan esok hari cuaca cerah.
photo by Paulus Rudy
 ***
Aroma nasi goreng dan seduhan kopi hitam adalah alarm kami di pagi hari itu (4 jam setelah kedatangan kami). Dengan sedikit kantuk menggelayut, kami beranjak dari kasur dan tertatih menuju meja makan yang sudah penuh dengan makanan.

Usai sarapan yang cukup lama. Saya memutuskan untuk membawa rombongan yang sudah bersemangat lagi ini, ke sungai di belakang kampung dan bermain menghabiskan pagi di sana.

***
Sedikit menyusuri jalanan kampung serta pematang sawah dan sampailah kami di sisi sungai. Sungai yang dangkal dengan aliran yang cukup deras, bening dan dingin segar.

“Eh pakai acara nyebrang ke sana yah?” “Yah basah-basahan dong.” Seru beberapa teman, saat beberapa dari kami memutuskan untuk menyebrang dan bermain di sisi sungai yang lain.
“Iya, ayo sini. Pelan-pelan aja.” “Yah jelas basahlah, kan tadi sudah dibilang main di sungai.” Jawab saya.
“Em … nggak apa deh. Gue di sini aja nunggu.” “Iya, gue juga di sini aja deh.” Keputusan mereka setelah sedetik dua detik, memandang air bening yang dingin segar itu.
“Ya udah, kalian hunting foto and narsis di sini aja yah, kalau mau balik ke rumah dulu juga boleh.” Tanggap saya.

*beberapa saat kemudian*

“Eh fotoin gue dong.” “Eh sini-sini hahaha.” “Coba deh ambil foto ke sanaan dikit.” “Geser dikit.” “Tahan!” “Kya kya, mau fotonya ambil back ground itu yah.” “Lagi coba.”
“… … …” saya speechless.
Teman-teman yang memutuskan menunggu di sisi sungai dan enggan menyeberang, entah terprovokasi apa, akhirnya menyeberang juga dan asik ber-narsis ria, di sana di sini di situ, dimana-mana. Bakalan susah nih ngajak mereka balik haha.
photo by Umro
Hati saya senang melihat mereka begitu menikmati sebuah sungai sederhana dan ter-wow akan sebuah pemandangan sederhana, yaitu: sawah dan gerombolan pohon dari sisi luar hutan hujan Halimun. Sungai kecil bersahaja, sungai kecil bentukan alam tanpa sentuhan tangan manusia pun. Sungai kecil yang sejenak membuat anak-anak kota megapolitan tersebut melupakan gadget mereka (kecuali camera tentunya), tertawa, tak peduli akan pakaian yang basah dan sejenak melupakan kepenatan akan tuntutan pekerjaan dan tugas yang menunggu di Jakarta.
Sesuai prediksi, memang agak susah mengajak mereka kembali dan dengan janji akan segera menikmati makan siang, maka rombongan pun mulai beranjak kembali ke rumah Pak Suryana.

***
“Kalian ditemani 2 ranger yah buat jungle trekking.” Kata Umro, sang travel organizer.
“Lho, lo ga ikutan mas?” tanya saya.
“Ga Har, ntar gue nemenin mobilnya jemput kalian di pos ama bawain kalian minuman panas. Jadi ntar balik ke rumah ga usah pake trekking lagi.” Jawab Umro, disambut dengan anggukan kepala saya.

Ini kali ke dua saya ke Halimun. Kali pertama jungle trekking di hari pertama kala itu harus dibatalkan karena hujan deras yang mengguyur kawasan dari pagi hingga siang hari, dan memaksa kami untuk mengambil jalur rocky pedestrian trekking yang lebih mudah dan aman.

Lucky us, hujan yang mengguyur kawasan dari malam hingga dini hari, berhenti saat menjelang subuh, sehingga saat siang harinya, jalur jungle trekking dirasa sudah bisa ditempuh karena tidak terlalu licin lagi.
photo by Paulus Rudy
 

Ini kali ke dua saya ke Halimun dan akhirnya saya bisa merasakan jungle trekking, memasuki hutan hujan Halimun melalui jalur ranger. Dengan beriringan kami memebelah pepohonan dan membaur dengan aroma basah lembab tanah, desiran dedaunan yang bertengger di atas pohon, seruan-seruan saling bersahutan dari hewan-hewan hutan, geraman macan kumbang dan … wait! Geraman macan kumbang!

IYA! Tanpa sadar rombongan kami melewati tempat macan kumbang itu sedang berada. Ranger pun kaget dan sempat melihat sekelebat perawakan si macan yang hitam pekat, berlari mendaki sisi yang lebih tinggi dari jalur ranger. Pak Ranger sangat heran sekali, karena berdasarkan pengalaman beliau, waktu-waktu siang biasa macan kumbang ada di atas pohon.

Selain geraman macan kumbang, kami juga beruntung bisa melihat Surili dan Lutung Hitam dalam gerombolannya mencari bahan-bahan kunyahan, melompat menyeberangi celah langit di antara pepohonan tinggi.

Ini kali ke dua saya ke Halimun dan masih saja keberuntungan tidak mendatangi saya, untuk bisa melihat Owa Jawa. Ingin sekali bisa melihat Owa Jawa di habitat aslinya, meski dari jauh saja.

***
Melangkah dan melangkah, menyusuri jalan setapak ranger yang terkadang menjadi begitu becek dan licin, melewati semak-semak liar, melalui gelantungan dahan-dahan rotan yang berduri tajam, dan sampailah kami di dasar menara canopy setinggi hingga 30 meter dari permukaan tanah. Terdapat beberapa canopy, yang satu sama lain terhubung secara garis lurus oleh jembatan-jembatan gantung. Perlu ijin terlebih dahulu untuk menaiki canopy serta melewati jembatan gantungnya, karena memang fungsi utamanya adalah untuk penelitian bukan untuk wisata. Ada beberapa syarat-syarat dan ketentuan khusus untuk naik ke canopy dan menggunakan jembatan gantungnya.

 ***
Air Terjun (Curug) Macan. Masih seperti saat kali pertama saya datang, hanya terlihat lebih termakan alam saja. tetap mengguyurkan air dalam debit yang cukup besar untuk ukuran air terjun yang kecil ini. Masih indah dengan bebatuan yang berserakan di sungai pada sisi depannya.

Letak Curug Macan tidaklah jauh dari dasar tangga canopy utama, sehingga tak membutuhkan waktu yang lama untuk dicapai.
 ***
Menjelang senja, kami sudah berada di pos ranger Pusat Penelitian Cikaniki. Seperti pada kunjungan pertama saya, kami menunggu hingga langit dan alam mengelam untuk menyaksikan Glowing Mushroom.

Sambil menunggu, kami menikmati sore itu dengan duduk-duduk di teras pusat penelitian sambil menghirup minuman panas yang dibawa oleh Umro. Sempat kami beranjak ke sisi belakang (berseberangan langsung dengan hutan) dan dari jauh menyaksikan segerombolan Surili bermain di pepohonan.

Perlahan langit mengelam dan kami siap untuk melihat jamur-jamur kecil yang lucu berpendar dalam gelap laksana bintang-bintang di langit sana.

Ini kali ke dua saya ke Halimun dan entah mungkin karena sudah lama sempat tak turun hujan, mushroom-mushroom lucu itu berkurang jumlahnya.

“Pada saat curah hujan tinggi, barulah jamurnya banyak.” Jelas Umro.

***
Tiba kembali di rumah Pak Suryana malam hari dan berikutnya adalah acara favorite saya. Duduk mengelilingi meja makan, bersantap, ngemil, ngopi dan saling berbagi canda hingga buaian peri kantuk tiba.

Saat-saat dimana jalinan pertemanan akhirnya mencapai titik yang lebih tinggi dari sekedar kenal. Berbagi olokan dan cerita tanpa paksaan, tanpa kepura-puraan, tanpa keharusan. Lepas! Bebas! Itu saja dan tak lebih.

***
Rebah dan berbaring di ranjang kapuk sederhana, raga ini tak inginkan malam berlalu dan bersikukuh menikmati sebuah orchestra alam yang mendendangkan pujanya kepada ibu bumi. Jiwa ini tersenyum sejati, sadar masih ada setengah hari lagi di tempat ini, Desa Malasari – Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

***
Ini kali ke dua saya kembali gagal melihat sunrise dan konon memang susah sekali untuk melihat  sunrise di Halimun.
Acara tea walk tetap berjalan dengan track yang tidaklah terlalu panjang, mengelilingi sebuah bukit kecil yang sepenuhnya tertutup oleh pohon-pohon teh.

Malang, belum juga memutari separuh bukit kecil itu, hujan turun perlahan dan semakin deras di setiap menit yang berlalu. Walhasil kami tergopoh-gopoh berbalik arah kembali ke rumah dengan extra hati-hati karena jalan setapak tanahnya menjadi licin dan sangat licin di beberapa tempat.

Kami habiskan pagi itu dengan sarapan dan bercakap-cakap menunggu hujan mereda.

***
Tetesan-tetesan hujan terakhir pun akhirnya menghempas ke permukaan jalan dan meresep ke dalam tanah. Perlahan sang bola api muncul perlahan malu-malu di balik gumpalan awan yang besar.

“Siap!” “Ayo lanjutin tea walk-nya.” Seru saya mengkomando.

Rombongan kami pun kembali bergerak menyusuri jalan-jalan setapak pemanen daun teh di antara jutaan pohon-pohon teh yang pendek. Jalan, jalan dan jalan memutari sebuah bukit kecil. Pemandangan yang hijau dengan latar belakang pegunungan Halimun yang bearak-arakan hingga ke batas horizon.




 ***
Saya duduk di sini, di meja ini, menuliskan sebuah cerita tentang perjalanan singkat saya ke Halimun untuk yang ke dua kalinya. Duduk di dalam ruangan yang berada di lantai 19, di sebuah gedung perkantoran modern dan keinginan saya hanya satu, yaitu: entah kapan, saya pasti kembali ke sana. Bukan wahana, tempat wisata, sight seeing yang saya cari di sana, melainkan sebuah rasa damai dan bebas dalam sebuah kesederhanaan yang seadanya. Jiwa ini selalu mempunyai secuil rindu akan tempat itu. Halimun, dimana saya akan kembali.

No comments:

Post a Comment