Saturday, January 04, 2014

on The Road to Ijen, Baluran and Bromo




Malam kelam dengan sedikit sinaran bulan, dihiasi oleh kerlip kecil bintang-bintang yang bertaburan di kanvas langit yang hitam. Ramainya jalan raya dengan blitz-blitz sinar lampu dari kendaraan bermotor semakin berkurang dan hilang di kejauhan, tertinggal dalam laju kami menyusuri jalanan 2 lajur, membelah daerah-daerah yang masih alami dan belum tersentuh oleh beton-beton bertingkat. Dalam bayang-bayangannya hanya tampak pantulan pohon-pohon tinggi menjulang, mencoba menyentuh langit yang konon tak berbatas.

Kujulurkan kepala ini sedikit melalui jendela mobil yang terbuka. Sejenak kurasakan hempasan udara dingin segar di paras muka telanjang ini dan melongok melihat indahnya ribuan bintang bertaburan yang tak mungkin aku nikmati setiap hari. Hidup dan tinggal dalam himpitan beton dengan udara panas berpolusi dan langit yang selalu tertutup lembayung polusi itu sendiri. Kutolehkan kepalaku ke bangku belakang dan seketika ucapanku tertahan, tersenyum melihat 5 kepala yang tergolek, dalam perkelanaannya di dunia sana, bergerak mengikuti irama goncangan mobil ini.

***
“Di, bangun! Siapin duit, ada pos untuk tamu harap lapor dan kayaknya butuh duit.” Kataku membangunkan Adi dari alam buaiannya.

Setelah menempuh perjalanan darat dengan mobil selama 7,5 jam, akhirnya kami mencapai juga pos penjagaan pertama dari komplek wisata Kawah Ijen (ada 3 pos penjagaan, dimana semua tamu harus melapor). Kurang dari satu jam perjalanan harus kami tempuh lagi sebelum akhirnya mobil kami berhenti di area parkir yang tersedia, dikelilingi dengan beberapa warung tenda yang masih menunjukkan keberadaannya meski waktu sudah mendekati tengah malam.

***
“Semua siap? Mari sebelum memulai trekking ini, kita berdoa sesuai dengan keyakinan masing-masing, semoga perjalan pergi dan kembali berjalan lancar.” Pimpin Mas Sam, sang guide yang kami sewa.

Dan dimulailah perjalanan trekking mendaki menuju ke Kawah Ijen selama lebih kurang 2 jam, hingga mencapai titik dimana kami bisa memandang telaga kehijauan dari Kawah Ijen. Sampaikah kami? belum. Perjalanan berlanjut menuruni lereng berbatu terjal, yang biasa dilalui oleh penambang sulfur/belerang, menuju ke tujuan utama kami yaitu Api BIru (blue fire).
in the middle of way up to Kawah ijen
Api biru adalah fenomena alam yang sangat langka di dunia dan hanya bisa ditemukan di Kawah Ijen – Jawa Timur Indonesia dan Islandia.
The Blue Fire
Penambang Sulfur/Belerang
Semua kelelahan yang merong-rong seolah hilang begitu saja begitu melihat api biru yang bergelora membara memainkan tangan-tangannya. Sungguh suatu fenomena alam yang harus dilihat.
Sejenak mengabadikan dan menikmati panorama api biru itu sebelum kami mulai merangkak naik lagi menyusuri tebing batu terjal kembali ke atas (tidak disarankan berlama-lama di wilayah tersebut karena kandungan belerang yang kuat).

***
Pemandangan dari atas ke arah telaga kehijauan Ijen juga sangat indah dan sedikit mengintimidasi, dengan kukungan pagar-pagar tebing raksasa yang mencuat mengapai angkasa, merengkuh telaga itu dalam intinya.
Kawah Ijen
 

***
On the road again, dan kali ini kami kembali mengukur jalan menuju ke Taman Nasional Baluran (kurang lebih 3 sampai dengan 4 jam perjalanan).

“Pantai tuh!” seruku sambil mengarahkan tangan ke luar jendela dan mengarahkan kepala ke bangku belakang yang diikuti dengan 5 pasang kepala menoleh ke arah pantai.
Pantai Watudodol
Pantai Watudodol adalah pantai sempit dengan garis pantai yang cukup panjang, air biru jernih dimana pengunjung tidak diijinkan untuk berenang di sana. Keunikan dari pantai ini adalah pasirnya yang hitam glittery (konon namanya pasir besi). Yupe glittery! literally pasir hitam kelam pantai ini bagai dicampur dengan glitter sehingga menampakkan kilau-kilau kecil glitter.  
***
Memasuki gerbang utama dari Taman Nasional Baluran menjelang tengah hari, kami harus meneruskan perjalanan dengan mobil sepanjang 15 kilometer lagi untuk mencapai tujuan kami yaitu Pantai Bama.
3 kilometer sebelum pantai, kami singgah sejenak di the famous landmark of Taman Nasional Baluran, yaitu: Savannah Bekol. Savannah Bekol pada masa-masa kering (Mei sampai dengan Oktober) lah yang membuat Taman Nasional Baluran mendapat julukan The Africa van Java.
Main Gate - Baluran National Park
The Path to Bekol and Bama Beach
Pantai Bama at last, dimana kami akan menghabiskan satu malam beristirahat dan menikmati pantai, savannah dan hutan sebelum kami akan melaju di jalanan lagi, kembali ke barat.

Pantai Bama adalah pantai dengan garis pantai yang cukup pendek yang menawarkan belaian sinar matahari untuk dinikmati, … dengan sunblock tentunya. Pantai Bama konon juga menawarkan taman laut yang mulai kembali indah belakangan ini.
Bama Beach
***
Meminum air langsung dari ledeng pancurannya, berlarian kesana kemari dalam benaman pasir pantai yang berwarna putih gading, usil satu sama lain sampai bertengkar dan bergelayutan di dahan pohon yang menyimpan cabang-cabang kokoh untuk diduduki, berlari serta terlelap sejenak, … yupe itulah yang mereka lakukan, para monyet-monyet yang senantiasa merong-rong kami, terbawa oleh sang mentari.

Kami? hanya duduk di dalam pondokan dan ngemil kuaci, ngobrol sana sini, sebelum meluangkan sedikit waktu untuk menikmati sinar matahari dan hangatnya air laut Pantai Bama.
Sometimes doing nothing is the only thing you have to do, to relax and give your soul a vacation.

***
“Yah mati lampunya, kan katanya sampai jam 11 malam, ini kan baru jam 8 malam” keluh … hm entah siapa yang mengeluhkan ini, karena mendadak seluruh wilayah Pantai Bama yang kecil menjadi gelap gulita.
“Senter mana senter?” … dan masih tak tahu siapa yang mengatakan ini, masih gelap.
Nampaknya terjadi kerusakan pada genset yang memungkinkan aliran listrik ada di Pantai Bama ini dari pukul 6 petang hingga 11 malam.

***
Pagi datang menjelang, sang mentari kembali mengintip malu-malu dari garis horizon jauh di sana, sebelum akhirnya dengan gagah menunjukkan germelap pijar panasnya menerangi sisi bumi yang ini, dimana kaki kami berpijak ditemani deburan ombak kecil.
Sunrise at Bama Beach
Dan monyet-monyet itu pun kembali mengrong-rong kami.

***
“Yuk jalan” kataku pada yang lain dan memulai trekking melintasi sisi luar hutan hingga ke Savannah Bekol, mencoba peruntungan kami, siapa tahu bisa melihat beberapa hewan liar sedang berada di habitat aslinya dengan tetap stay on track yang ditentukan supaya tidak mengganggu binatang itu sendiri maupun habitatnya.

Kami melihat … NONE haha.
“Kayaknya ga beruntung nih mas, biasanya ada banteng yang berteduh di sebelah sana dan kijang-kijang pun juga tak tampak sekalipun.” Kata Pak Bambang, sang guide kepadaku.
“Biasanya memang pas musim kemarau, binatangnya banyak yang keluar dari hutan, baik berteduh di sisi luar hutan maupun mencari air ke Bekol, karena air di dalam hutan mengering dan jarang.” Lanjut sang guide menjelaskan.

Sepintas merak terbang di kejauhan dan suaranya bersahutan sejenak.
Sepintas ujung ekor lutung dalam rimbunan pohon.
Seekor kerbau berkubang di danau lumpur dari kejauhan.
Seekor ayam hutan yang melintas.
Itulah yang bisa kami saksikan. Bahkan impian akan menemukan bintang-bintang tersebut di Bekol sirna juga, karena savannah tersebut kosong melompong tak menyisakan sedikit pun jejak dari kerbau dan kijang-kijang yang sempat kami lihat pada saat melintasi savannah ini kemarin.
Kebo with Nature Mud Bathtub
Well no problem, intinya adalah trekking, ada binatang atau tidak hanyalah bonus dari keasyikan trekking melintasi sisi luar hutan dari Taman Nasional ini.
Bekol
Bekol and Baluran Mountain
Bekol Savannah from above
 ***
Siang menjelang dan kami kembali menempatkan pantat kami pada posisi ternyaman dalam mobil dan berkendara lagi menuju barat selama lebih kurang 10 jam menuju kediaman Suku Tengger dalam pujanya kepada Sang Brahma, di dalam rengkuhan benteng Pegunungan Penanjakan dan pengawasan sang Mahameru dikejauhan.

***
“Pantai tuh!” seruku sambil mengarahkan tangan ke luar jendela dan mengarahkan kepala ke bangku belakang yang diikuti dengan 5 pasang kepala menoleh kearah pantai.
Pasir Putih Beach
Pantai Pasir Putih adalah pantai dengan garis pantai yang cukup panjang yang terletak di Situbondo. Pantai dengan segudang aktifitas dari berleha-leha di selembar tikar, berlayar dengan perahu kayu menikmati buaian ombak dan melihat taman lautnya, bermain jet ski, bermain air dan merasakan lembutnya pasir berwarna putih menggelitik di sela-sela jemari kaki, sampai tempat yang tepat untuk menikmati sebuah kelapa muda sembari menunggu sunset yang datang dari ufuk barat sana.
Jet Ski for Rent
Kelapa Muda and Chicken Sate
 ***
Malam tiba dan kami (terlalu awal) tiba dan memarkir mobil kami di Desa Cemoro Lawang. Desa yang merupakan titik awal dari pengembaraan kami melintasi lautan pasir Bromo menuju ke Penanjakan, Kawah Bromo, Savannah (Teletubbies) dan area Pasir Berbisik.

Udara dingin menyerbu setiap kulit kami yang tak tertutup pakaian, sepatu, jaket, syal, sarung tangan dan topi yang membungkus kami, mencoba menahan hawa hangat pada tubuh.

Masih pukul 3 pagi nantinya kami akan memulai perjalan mencicipi keindahan ibu bumi di area Bromo ini dan apakah yang lebih baik dari segelas minuman panas dan beberapa potong gorengan hangat yang tersaji, siap dikecap untuk menghabiskan waktu hingga waktunya tiba.

***
“Mas Urip?” tanyaku pada mas-mas yang berdiri di pos area parkir Desa Cemoro Lawang.
“Iya, Mas Harry yah?” jawabnya.

Dan dengan mengendari jeep Mas Urip kami pun melaju menuju ke Penanjakan yang konon (jika cuaca cerah bagus) adalah salah satu spot untuk menyaksikan sunrise terbaik di bumi pertiwi ini.
Jeep-nya Mas Urip
Berjubel dengan ribuan orang, kami hanya bisa menahan kekaguman kami karena langit cerah berawan sehingga sang empunya pijar api terselimuti kelambu awan-awan. Well it was pretty beautiful though.
Cloudy Sunrise at Penanjakan Mountain
Bromo, Batok and Semeru
Sea of Sands
 

Kawah Bromo sendiri merupakan tujuan utama dari pejalan ke area Bromo, jadi tak mengherankan ribuan orang berjalan, berkuda menuju dan mendaki ke puncak kawah.
Up up up to The Crater - Bromo
Racing on Sea of Sands
on The Roof, shall we?
Horse for Rent
Savannah Teletubbies, for me, cukup memukau dengan tekstur lereng dan warna hijaunya, berpermadanikan ilalang-ilalang pegunungan.
Teletubbies Hills? I don't think so, yet so beautiful
Savannah (Teletubbies)
Savannah (Teletubbies)
Area Pasir Berbisik tak ubahnya menampilkan sisi lain dari luasnya lautan pasir Kawah Bromo, berpagarkan tebing-tebing tinggi mengintimidasi dengan indahnya.
Pasir Berbisik area
Pasir Berbisik and Rider
 ***
3 lokasi utama dengan 2 tambahan pantai dalam perjalanan 4 hari 3 malam, dimana sebagian besar kami habiskan dijalanan duduk manis, duduk mencong, tertidur, ngemil, bertukar cerita, bertukar pendapat dalam sebuah mobil elf. Beberapa tujuan kami temui dengan kenyataan yang melebih angan kami, beberapa membuat kami sedikit kecewa dan beberapa sesuai ekspektasi kami. Well the bottom line of a journey is the journey itself, so yupe kami puas dengan perjalanan kami kali ini “on The Road to Ijen, Baluran and Bromo”.

***
Badan bersih segar sehabis mandi dan kuhisap dalam sebatang rokok yang sudah tinggal separuh bertengger bergelayut diantara dua bibirku. Raga berasa pegal dan pantat seperti rata (aslinya tepos juga sih). Kelopak mata yang layu kekurangan tidur dan for me, it’s time untuk tidur berkualitas dengan pose sewajarnya orang tidur. It’s a perfect place with a perfect weather, tidur berbalut selimut ditemani dinginnya hawa Kota Malang.

Jendela mata ini semakin berat dan kumatikan puntung rokokku. Beranjak ke kamar di rumah mamaku yang kuinapi, berbaring dan meregangkan otot-otot tubuh. Jiwa ini menuntut untuk berkelana dalam dunia mimpi, dunia misteri yang menawarkan lebih banyak petualangan dan perjalanan, … meski tak nyata.

Ah tidurlah tidur sejenak wahai kau sang pejalan. Kau dengan segudang memori yang akan kau ceritakan dengan kebahagian yang nyata, karena kau telah melihatnya dengan mata telanjangmu sendiri.

Dan itulah satu lagi ceritaku tentang keindahan bumi Indonesiaku.

No comments:

Post a Comment