Saturday, February 16, 2013

Aku kangen … masih


Ah males banget, tapi kudu beresin kamar yang sudah berdebu dimana-mana *sigh*. Ngelap ini inu, sapu sana sini, beresin isi lemari yang acak adut dan sudut mata ini menangkap bentuk sebuah buku dengan sampul hitam, teronggok dalam tumpukan buku-buku lainnya.

Diam, hanya menatap ke si hitam dan helaan nafas tanpa sadar keluar diiringi dengan senyum datar tanpa inti sejatinya.

Si hitam yang lama tak terlihat dan telah lama hilang dalam memori. Si hitam yang enggan ku buka lagi tapi enggan pula ku musnahkan. Si hitam yang berisi kamu.

Si hitam yang penuh dengan coretan tanganku tentang kamu. Kamu yang membuat segalanya indah dan yang membuat segalanya runtuh, tenggelam dalam pusaran, menghempaskanku dalam dasar gelap sendiri.
Berawal dari kesederhanaan sebuah jabatan tangan dan aku sadar, aku telah jatuh dalam hangatnya genggaman tangan dan tatapan teduh manja pada dua jendela hatimu.

SMS (hehe jaman itu belum ada namanya blackberry) dan telephone yang selalu kunikmati setiap detiknya, menambahkan segurat senyum mengiringi lelapku.

Ah tapi kamu saat itu sudah ada penjaga hatinya, tapi tak apa karena kamu bilang dia bukan pemilik hatimu.

Nonton bioskop dan dinner bareng mungkin terdengar biasa saja tapi yakin membuat aku semakin tenggelam dalam pesona senyummu dan nada merayu lembut dalam suaramu.

Dalam kesibukan dan tekanan kerja, chating-an mu lah yang menjadi angin sejuk dalam ruanganku yang entah kenapa ac-nya ga pernah cukup dingin.

Nikmati hari yang berjalan tanpa memandang cukup jauh untuk bersiap mendengar berita yang menjejas hati dan membuat retakan pada kantong tangisku. Tangisku untuk kamu, untuk aku, untuk kita.

Gelap amarah, cemburu, luka mengalir lendir kekecewaan saat kamu diam dan dengan kerahasian memberikan komitmen harapanku untuk dia.

Kenapa? Kenapa kamu harus diam dan diam?

Dan kuputuskan untuk meninggalkan kota itu, kota yang selalu mengingatkanku akan semburat apa dirimu.

Di sana, masih teringat jelas pelukan perpisahanmu untukku dan seiring berbaliknya langkah, sadar aku telah kehilangan kamu sepenuhnya.

Di kota baru ini, kamu datang untuk berjumpa denganku lagi dan di sini pula aku menjadi penonton bisu antara kamu dan dia.

Kamu dan dia kembali ke rengkuhan kota itu dan sekali lagi kamu tinggalkan aku dalam dasar terdasar dari semua bentuk kegelapan, menangisi kamu, menangisi aku, menangisi kita dan menghujat dia.

Halah malah ngelantur ga jelas nih! Balik beberes kamar ah. Eh buset ini lap kok jadi lembab gini?

Kamu sekarang dimana? Sedang apa dan bagaimana kabarmu?  Aku kangen … masih.

Buku dengan sampul hitam itu akan masih selalu ada di sana, diantara tumpukan buku-buku lainnya.

6 comments:

  1. Waaah waaah... Pinjem buku hitamnya dong mas harry. Hehehehe

    ReplyDelete
  2. Puis-tis banget. Seakan akan kejadian beneran...

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha fiction kok and thanks by the way

      Delete
  3. Replies
    1. WOY! wakakaka muihihihihi ketepu yah buka linknya :P

      Delete