Wednesday, April 23, 2014

Di Suatu Hari - 4 Babak dan 4 Cerita





Prolog

“Heeeeyyy guys long weekend, jalan yuk” (mengacu pada hari Sabtu tanggal 19 April 2014)
“Iya yuk, muter-muter dalam kota Jakarta aje ye”
“Siapa aja nih, semobil cukup ga yah? haha”
“Nih ada Donal, Tyo, Astrid, Ulfa, Hardi, Harry, trus siapa lagi?”

2 minggu kemudian

“Besok jangan lupa yah, ketemunya jam 7.30 pagi, jangan molor”
“Iya, okidoki”
“Pakai celana pendek apa yah?”
“Eh si Dimas mungkin sore mau join, tapi si Tyo mungkin misah pas siang”
“Jalur sih udah kayak plan tapi ntar realisasinya suka-suka deh yah”

1 hari dalam masa long weekend ini, kami akan singgah ke 4 lokasi di Jakarta. Kami akan menulis cerita-cerita kecil dalam 4 babak.

Babak 1.

“Dang ding tung cung thiong mah”
“Itu anter dulu ke meja 7”
“Pai tung ting tong pau xe”
“Ah pio, pake nasi yah”
“Eh lama ga ketemu, apa kabar?”
“Hai, ama siapa?”
“Dicu dicu ptang ptung lala”
“Nasi campur? Berapa? Ok”

Ramai sekali situasi di dalam Kedai Kopi Es Tak Kie. Percakapan tak henti-hentinya berkicau dari insan-insan yang memenuhi kedai itu, untuk rutinitas sarapan.
Gelak canda, sapaan salam dan gossip-gosip hangat mengalir berpadu sempurna layaknya harmoni lagu dalam beberapa bahasa, yang beberapanya tak bisa kumengerti.

Saya diam, berlagak asik dengan gadget dan camera. Mencoba menyerap semuanya ke dalam memori, menikmati setiap detik suasana yang hangat meski kadang tak ramah. Mencoba menangkap semua moment yang terjadi, meski itu hanyalah sekedar bertukar sapa dan senyum dengan orang asing yang menanyakan bangku kosong tak terpakai.

“Es kopi” suara mas-mas mengalihkan indraku menuju ke segelas es kopi nikmat dan pas dalam hawa yang panas menyengat, meski matahari belum beranjak ke derajat 50.
Kuteguk es kopi hitam itu, mengalir sejuk melalui lorong-lorong tubuh ini. Pahitnya kopi yang berpadu pas dengan manisnya gula yang tak berlebihan.

Kedai Kopi Es Tak Kie terletak di Petak Sembilan – Glodok (di Gg. Gloria) dan buka setiap hari dari pagi hingga siang hari saja. Minuman andalan jelasnya adalah Es Kopi yang bisa dihidangkan black maupun dengan campuran susu (dua-duanya nikmat).
Kedai Kopi Es Tak Kie juga menyajikan beberapa hidangan seperti mie ayam babi, pio (labi-labi/bulus), nasi campur dan kue beras ketan (bakcang) yang tentunya tidak halal.
Tak jauh dari Gg. Gloria juga banyak akan ditemui beragam kuliner local, Chinese dan peranakan. Dari kuo tiek (recommended), taoge goreng, bakso pikul (recommended), laksa, cempedak goreng (recommended), ketoprak, aneka jajanan pasar dan ragam lainnya.

 
 

Babak 2

Mata itu memandang saya dengan sedih dan hampa. Mata yang lain memandang saya dengan sayu dan mati. Mata lainnya memandang saya dengan sedikit amarah di gurat wajahnya. Sayap-sayap empunya mata-mata itu diam bergeming tapi laksana pemicu hembusan angin yang membuai menerpa tubuh, sedikit meringankan teriknya panas matahari yang telah beranjak mendekati derajat 90.

Ya, malaikat-malaikat itu berhamburan dimana-mana dan memandang saya dengan semua ekspresi kekalnya. Malaikat-malaikat bisu yang menjadi saksi pergantian jaman, pasif di atas singgasananya.

Memasuki Museum Taman Prasasti, kami membayangkan akan menemui kesyaduhan muram yang nyatanya riuh rendah dengan teriakan bocah-bocah SD dalam balutan kostum pramuka yang tersebar di area sempit itu. Wajah-wajah polos penuh dengan semangat dan kegembiraan berpetualang. Melacak jejak dan tanda yang dipasang oleh sang kakak-kakak Pembina.

Teronggok bertaburan dimana-mana nisan-nisan atau pusara-pusara peninggalan jaman yang telah terlewati beberapa masa. Beragam memoar teramat singkat terukir pada batu-batu itu. Guratan-guratan nama-nama Belanda, dari era 1800-an, mendominasi perkuburan itu. Beberapa guratan nama China pun dapat ditemui, termasuk nama peranakan China Hokkian Indonesia bernama Soe Hok Gie yang merupakan tokoh tahun 1960-an.

Pusara-pusara tersebut sebagian besar memiliki patung-patung (seperti) pualam berbentuk malaikat, yang tentunya menjadi daya tarik utama dari museum ini. Area yang aslinya bernama Pemakaman Kebon Jahe Kober ini sebenarnya menyisakan hanya koleksi pusara/nisan saja, sedangkan sisa jasad (tengkorak dan tulang belulang) sudah dipindahkan ke tempat lain. Museum ini terletak di Jalan Tanah Abang dan buka setiap hari Selasa sampai dengan Minggu dari pukul 9 pagi hingga 3 sore.

 
 
 
 

Babak 3

“Selamat datang”
“Selamat datang”
“Selamat datang”

Untaian kata-kata pembuka itu menyambut kami begitu pintu utama yang terdiri dari 2 bilah pintu kayu tersebut terbuka dari dalam. Sederetan laki-laki berbaju putih menyambut kami dengan senyum dan salam, mengundang kami memasuki dunia yang sedikit lain dari dunia yang biasa kami singgahi di luar sana. Kami seolah tersedot dan kembali ke masa-masa yang telah lewat dan di sini kami duduk mengelilingi meja ditemani dengan beberapa benda-benda bisu yang seolah ingin bercerita tentang apa yang telah mereka lalui hingga bertahan melalui millennium.

Perangkat makan dan keramik China, foto-foto keluarga, perabot rumah tangga, rantang, toples, dan ratusan benda-benda lain termasuk gramophone-gramophone tua mengelilingi kami, seolah memandang penuh rasa ingin tahu apakah kami ingin mendengar cerita mereka.

Huize Trivelli, adalah resto yang menempati sebagian dari rumah pemiliknya (saat ini hanya lantai dasar) yang dirombak menjadi resto dengan menu andalan fusion peranakan serta steak-steak jadul ala Belanda. Kesan misteri dan penuh dari resto ini menjadi daya tarik tersendiri bagi kami, selain makanan yang kami pesan rasanya juga enak dengan harga yang wajar.

Huize Trivelli buka setiap hari dari menjelang makan siang sampai petang hari dan terletak di Jalan Ciujung – Cideng Barat.

 
 

Babak 4

“Macet bener yah bro”
“Dih ada apaan sih, kok macet bener nih”

Keluhan mulai terdengar di dalam mobil setelah beberapa saat terjebak macetnya jalanan di sekitaran manga dua sore itu. Jakarta yang “harusnya” lengang karena long weekend menjadi macet karena tak lama sebelumnya di guyur hujan lebat yang cukup lama.

Lepas dari kemacetan, yang ternyata akibat penyempitan jalan karena perbaikan, kami mengarah memasuki gate salah satu lokasi dan tujuan plesiran yang terkenal di Jakarta: Ancol.

Gondola adalah tujuan pertama kami, seusai memarkir mobil. Cukup menyenangkan menaiki Gondola dengan durasi yang kurang dari 30 menit (iya, cepat sekali) dan memberikan kami pemandangan sebagian sisi Jakarta dari ketinggian di sisi satu dan sisi lainnya yang merupakan pemandangan pantai yang dibatasi oleh garis horizon itu sendiri.

Penutupan babak ke 4 ini diakhiri dengan makan malam yang di buka dengan pemandangan sunset yang cukup indah di dermaga Pantai Indah Ancol bersama dengan ratusan orang lainnya.

 

Epilog

Great day with great companions at many great destinations.
Maybe our friendships will not last, maybe the destination will not last but one thing for sure, this memory will last.


No comments:

Post a Comment