Friday, February 11, 2011

Ketika Hati Ini Meneteskan Air Mata

Ada seorang wanita yang dulu begitu kuat dan tegar. Seorang wanita yang memiliki kekuatan dan semangat tinggi dalam mencari uang untuk membesarkan anak-anaknya. Sementara sang suami yang seharusnya menjadi mesin utama dalam mobil kehidupannya malah tidak jelas orientasinya, hidup dalam belenggu judi dan pelukan wanita lain. Pada saat sang suami berjuang bertahan melawan kegelapan yang mulai menyelubunginya, dia tetap dengan setia menemani setiap menit detik terakhir dalam kehidupan sang suami, mengerahkan segenap cintanya yang masih tersisa untuk sang suami. Dan saat sang suami berpulang, tiada yang mengerti tangisan duka dan kehilangan yang dia rasakan kecuali dirinya dan Tuhan-nya.
Sementara sang anak berkutat sendiri dengan kehidupan egoisnya tanpa merasa perlu terlalu sering melihatnya, sang wanita dengan cinta dan perhatian tetap menunggu sang anak pulang ke rumah.
Lembaran masa demi masa pun berlalu dengan cepat dan seolah berlomba berpacu ke garis finish.
Sang wanita kini duduk disebelahku di sebuah resto di kota hidupnya dan makan hidangan yang disajikan dengan perlahan. Terlihat sangat rapuh dan rentan. Kupandangi dia dengan seksama dan hati ini meneteskan air mata. Dia adalah Ibuku.
Sang wanita berjalan dengan tongkat bantu jalan barunya, dengan tertatih2 dengan satu tangan kugenggam erat, berjuang menaiki dan menuruni tangga yang hanya berjumlah 2 buah. Kupandangi dia dengan seksama dan hati ini meneteskan air mata. Dia adalah Ibuku.
Aku mencitai Ibuku lebih dari yang aku bisa ungkapkan dengan perkataan dan perbuatan. Tuhan tahu itu dan Dia akan bersaksi atas hatiku. Bersaksi atas cinta. Cinta yang mungkin tidak cukup ditunjukkan dan diungkapkan sebagaimana apa yang ada.
Aku mencitai Ibuku lebih dari yang aku bisa ungkapkan dengan perkataan dan perbuatan. Tuhan tahu itu dan Dia akan bersaksi atas hatiku. Bersaksi atas penyesalan. Penyesalan kenapa begitu banyak waktu yang terbuang karena picik dan buta akan keegoisan untuk sadar dan melihat Ibu.
Aku mencitai Ibuku lebih dari yang aku bisa ungkapkan dengan perkataan dan perbuatan. Tuhan tahu itu dan Dia akan bersaksi atas hatiku. Bersaksi atas malu. Malu karena Ibu hanya tersenyum memahami dan mengerti. atas banyak perkataan dan perbuatan yang tidak terpuji dan menyakiti hati Ibu.
Lembaran masa demi masa pun berlalu dengan cepat dan seolah berlomba berpacu ke garis finish. Akankah aku siap dan rela pada saat waktunya telah tiba? Apakah aku tidak akan menggila pada saat waktunya telah tiba? Semua itu menghantui pikiran, jiwa dan hati ini, sangat menyesakkan untuk mengetahui dan sadar bahwa orang yang paling aku cintai di dunia ini melebihi apapun, sedang berjalan menuju ke pintu yang mana orang paling bijaksana pun tak sanggup untuk menjelaskan apa yang ada di baliknya.
Pada akhirnya aku menyadari semua itu dan pada saat itu-lah hati ini meneteskan air mata.

No comments:

Post a Comment